Semarak Apem Yaa Qowiyyu di Jatinom


Klaten adalah salah satu daerah tingkat dua yang ada di Jawa Tengah. Kabupaten yang berbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (Yogyakarta) di Kecamatan Prambanan ini memang dikenal dengan Candi Prambanan. Namun, Klaten banyak juga memiliki objek wisata lain seperti Ponggok dan Pemancingan Janti.

Namun, kali ini saya ajak Anda mengenal Klaten dari tradisinya. Kali ini saya ajak ke Kecamatan Jatinom. Di Jatinom terdapat tradisi unik turun-temurun. Tradisi itu adalah Apem Yaa Qowiyyu. Apem adalah kue tradisional dari Jawa Tengah, terutama Klaten yang terbuat dari bahan utama tepung beras dan santan, serta gula.

Menurut asal katanya, apem berasal dari kata afwan atau afuan yang berarti permintaan maaf. Afwan merupakan bahasa arab, yang tediri dari huruf ‘ain, fa, wau, biasa kalau berdiri sendiri didepannya ada huruf alif dan lam, yang dibaca al-afwa, yang artinya maaf.

Saat tulisan ini dipostingkan bertepatan dengan acara Apem Yaa Qowiyyu, yaitu pada hari Jumat Pahing, tanggal 3 November 2017 atau tanggal 15 Sapar 1951 pada kalender Jawa atau 15 Syafar 1439 H pada kalender Islam.

Hari Kamis Legi siang, sehari menjelang acara Apem Yaa Qowiyyu, sebelum apem disebar (dibagi) pada keesokan harinya, apem disusun dalam gunungan. Gunungan apem ini lalu akan diarak dari Kantor Kecamatan Jatinom menuju Masjid Ageng Jatinom yang sebelumnya telah mampir terlebih dahulu ke Masjid Alit Jatinom. Arak-arakan ini diikuti oleh pejabat-pejabat kecamatan dan pejabat Pemda Klaten.

Hari Jumat Pahing, apem disebar atau dibagi-bagikan kepada seluruh warga yang datang. Pembagian apem ini dilaksanakan setelah sholat Jumat. Warga berduyung-duyung memadati kerumunan apem disebar. Tak hanya warga Jatinom saja, namun ada juga dari kabupaten tetangga seperti Boyolali, Sukoharjo, bahkan dari Yogyakarta.

Dulu gunungan apem tidak dibungkus, sehingga jika disebar (dilemparkan) dan jatuh maka tidak bisa dimakan karena kotor. Namun, kini apem yang ditata pada gunungan dikemas dalam wadah plastik bening. Ini untuk menjaga supaya apem higienis dan warga yang makan apem ini tidak was-was.

Meskipun berdesak-desakan namun warga sangat antusias. Menurut sebagian warga, mereka sangat menginginkan Apem Yaa Qowiyyu ini. Menurut mereka, apem ini membawa berkah. Namun, sebagian warga datang ke acara ini sekedar untuk melihat dari dekat kemeriahan Apem Yaa Qowiyyu yang sudah dikenal ini. Tradisi Apem Yaa Qowiyyu ini memang menjadi agenda wisata tahunan Pemda Klaten.

Menurut beberapa sumber yang saya dapatkan, tradisi Apem Yaa Qowiyyu ini berawal ketika Kyai Ageng Gribig tokoh ulama penyebar islam didaerah Jatinom pulang naik haji membawa roti apem dari Mekah yang masih hangat, setelah sampai dirumah roti apem tersebut masih hangat. Roti apem tersebut akan dibagi-bagikan kepada anak, cucu dan murid-muridnya, akan tetapi tidak mencukupi, kemudian Kyai Ageng Gribig menyuruh salah satu muridnya untuk membuat roti apem lagi yang lebih banyak agar mencukupi untuk dibagi kepada murid-muridnya dan warga sekitar.

Kyai Ageng Gribig juga meminta kepada orang-orang Jatinom di bulan Sapar, agar merelakan harta bendanya sekedar untuk zakat kepada tamu yang datang. Warga mengetahui bahwa Nyai Ageng Gribig sedekah apem, maka kini penduduk Jatinom ikut-ikutan membawa apem untuk selamatan. Sekarang ini orang-orang Jatinom membawa apem untuk diserahkan ke Panitia Penyebaran Apem.

Tradisi Apem Yaa Qowiyyu diliput berbagai media baik cetak maupun elektronik, lokal maupun nasional. Beberapa stasiun televisi juga meliput acara ini, salah satunya adalah RCTI.

Iklan