Green BTS Mulai Dikembangkan


BTS yang disamarkan di daerah Pasar Legi, Kota Surakarta

Perkembangan alat komunikasi membuat jaman berubah. Ini terutama pada komunikasi seluler yang berkembang sangat pesat. Di Indonesia sendiri teknologi seluler mulai dikenal orang sekitar 1995 dengan teknologi Global System for Mobile Communication (GSM). Kemudian diikuti juga oleh Code Division Multiple Access (CDMA). Namun, kini CDMA sudah ditinggalkan dan operator gulung tikar, namun ada sebagian operator CDMA pindah ke jaringan GSM.

Perkembangan seluler tak hanya sebatas pada kirim dan terima pesan singkat Short Message Service (SMS) serta panggilan saja, lebih dari itu. Teknologi seluler kini sudah bergeser pada komunikasi berbasis data. Panggilan, video panggilan, pesan, dan multimedia sekarang menggeser peran teknologi sebelumnya yang saat ini berbasis data.

Tingginya permintaan data, membuat operator seluler berlomba-lomba memberikan layanan terbaiknya bagi pelanggan atau calon pelanggan baru. Salah satu layanan tersebut adalah perluasan jaringan. Perluasan jaringan tersebut dengan menambahkan Base Transceiver Station (BTS). BTS merupakan perangkat pertama dalam teknologi seluler yang berhubungan langsung dengan ponsel kita.

Tanpa adanya BTS secanggih apapaun fitur yang ada di ponsel tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal. Apalagi ponsel pintar (smartphone) dengan OS Android atau iOS. Perangkat BTS secara fisik bisa dilihat biasanya berupa batangan panjang yang ditempel pada sebuah menara (tower). Pada menara tersebut juga terdapat perangkat yang berbentuk seperti parabola (microwave) yang berfungsi menghubungkan antara BTS satu dengan yang lainnya.

BTS yang banyak dikenal orang adalah di luar ruangan atau dikenal dengan outdoor BTS. BTS ini yang banyak dipasang di area publik. Semakin banyak pelanggan sebuah operator seluler, maka semakin banyak pula BTS yang harus dibangun. Hal ini dikarenakan untuk meng-cover pelanggan supaya komunikasi nayaman dan tidak terganggu.

Idealnya, satu BTS yang dipasang pada sebuah tower meng-cover kurang dari 10 ribu pelanggan. Jika melebihi kapasitas maka akan terganggunya komunikasi. Teknologi GSM pada jaringan 2G sudah sedikit yang menggunakan, begitu pula 3G. Hal ini karena kecepatan untuk data yang sangat rendah. Operator seluler gencar mengkampanyekan pelanggannya dengan teknologi 4G Long Term Evolution (LTE). Bahkan beberapa operator seluler sudah mengembangkan jaringannya ke 4G plus.

Tingginya pelanggan seluler, terutama untuk data semakin banyak pula BTS yang harus dipasang oleh operator seluler. Banyak kita jumpai tower seluler di sekitar kita, bahkan di area pemukiman. Hal ini sangat menganggu yang akhirnya membuat tidak nyaman.

Pemandangan tower berjajar-jajar berdekatan membuat tidak nyaman dipandang. Tower yang tingginya bisa mencapai 75 m ini juga bisa sewaktu-waktu membahayakan misal rubuh karena badai atau bencana.

Untuk mengatasi banyaknya tower seluler yang didirikan, kini dikembangkan green BTS. Green BTS adalah suatu konsep BTS yang dipasang atau diletakkan tidak lagi pada tower yang sangat tinggi atau disamarkan, ada juga yang menggunakan tenaga surya. Konsep green BTS banyak keuntungannya tak hanya oleh operator, namun juga bagi pelanggan atau orang-orang yang berada di sekitar BTS.

Lebih ramah lingkungan

Indonesia adalah negara yang berada di daerah khatulistiwa yang sepanjang tahun disinari oleh matahari. BTS yang berada di tempat yang terpencil misal di daerah perbatasan negara memanfaatkan sinar matahari ini untuk tenaganya (solar cell). Di daerah seperti ini jaringan listrik dari PLN sangat susah bahkan tidak ada. Dibangunnya BTS di daerah perbatasan tersebut untuk kedaulatan negara. Jadi BTS ini sangat diperlukan oleh penjaga keamanan negara, yaitu TNI saat berpatroli.

Namun, BTS dengan tenaga surya ini tidak hanya berada di daerah yang tidak dijangkau oleh listrik PLN saja. Di daerah perkotaan pun kini BTS dengan tenaga surya dikembangkan. Jaringan kabel listrik yang panjang dan semrawut tidak lagi dibutuhkan jika menggunakan tenaga surya.

Nyaman dipandang

BTS yang disamarkan di daerah Pasirgaram, Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung


Coba bayangkan bagaimana jika banyak tower di tengah kota? Operator seluler berbasis GSm di Indonesia ada 6. Jika setiap radius 2 km ada tower, berapa tower yang harus dibangun oleh keenam operator seluler tersebut. Hutan besi ini sangat tidak nyaman dipandang dan sangat menganggu.

Green BTS selain menggunakan tenaga surya, juga ditinjau dari cara pemasangannya tidak ditempatkan pada tower yang tinggi yang berkaki 3 atau 4. Kini banyak pemerintah daerah (pemda) menyediakan tower dengan dengan kaki 1 (monopole) yang bisa disewa oleh operator seluler. Tower BTS ini tidak kelihatan seperti besi yang menjulang tinggi. Namun, BTS ini disamarkan seperti bentuk pohon yang tinggi. BTS yang disebut juga dengan sel ini tidak begitu kelihatan. Daun imitasi juga menghiasi tower yang tingginya tidak lebih dari 20 m ini.

Tidak membutuhkan tempat yang luas

BTS yang disamarkan dipasang pada manara masjid di daerah Prambanan, Yogyakarta


Konsep green BTS ini juga tidak membutuhkan tempat atau ruang yang luas. Berbeda dengan BTS yang ditempatkan pada tower yang tinggi membutuhkan tempat yang luas. BTS ini bisa ditempatkan menempel pada gedung atau di atas gedung, papan reklame, atau pada tiang lampu penerangan misal di jalan tol.

Beberapa BTS juga dipasang pada menara masjid yang disamarkan, sehingga tidak tampak di menara masjid tersebut dipasang BTS. Biaya sewa menara masjid dari operator seluler ini bisa sebagai penghasilan bagi masjid tersebut. Misalnya saja BTS yang dipasang di menara masjid di depan Candi Prambanan, Yogyakarta.

Pemasangan BTS pada tower monopole di Kartasura, Sukoharjo, Jateng


BTS yang dipasang pada tower monopole tidak membutuhkan tempat atau ruang yang luas. Bahkan hanya membutuhkan tempat kurang dari 0,5 meter persegi. BTS ini bisa dipasang di marka jalan, di taman-taman dengan kamuflase atau disamarkan dengan daun yang tampak seperti pohon-pohon pada taman. Perangkat daya (power) BTS yang berupa baterai juga ditaruh di atas, sehingga tidak menganggu pemandangan dan kenyamanan di ruang publik.

Beberapa kota sudah mengembangkan green BTS yang menyerupai pohon ini. Saya pernah melihat di kota Pangkalpinang di kompleks kantor walikota dan di pemukiman padat penduduk Pasirgaram. Beberapa tempat di Yogyakarta juga banyak dijumpai BTS yang disamarkan ini. Di Solo raya di jalan-jalan protokol dan pusat bisnis juga mulai dikembangkan BTS berbentuk pohon ini seperti di Pasar Legi, Jl. Slamet Riyadi, kawasan bisnis Solo baru, dll.

BTS yang disamarkan di kawasan bisnis Solo Baru, Solo Raya


Ke depannya, BTS yang disamarkan seperti pohon ini banyak dikembangkan. Semakin banyak pelanggan seluler tentu semakin banyak pula BTS yang dibangun.

Iklan