Apa yang Beda Antara Pemilu 2019 dengan Sebelumnya? Ini Tiga Perbedaannya.


Sumber: jabar.kpu.go.id


Indonesia adalah salah satu negara yang melaksanakan demokrasi. Pemimpin dipilih langsung oleh rakyat melalui sebuah Pemilihan Umum (Pemilu). Namun, tidak semua pemimpin dipilih secara langsung. Pemimpin yang tidak dipilih secara langsung seperti Lurah dan camat. Kepala desa dipilih secara langsung.

Sementara kepala daerah dipilih secara langsung. Kepala daerah yang dipilih secara langsung tersebut adalah bupati/wakil bupati, walikota/wakil walikota, dan gubernur/wakil gubernur. Wakil rakyat di parlemen juga dipilih secara langsung. Anggota dewan yang terhormat ini dipilih melalui Pemilihan Legislatif (Pilek). Masih ada satu lagi pemimpin yang dipilih oleh rakyat secara langsung, yaitu presiden/wakil presiden (Pilpres).

Calon presiden dan calon wakil presiden periode 2019-2024


Dalam sejarah Indonesia setelah merdeka, paling tidak ada empat kali pemilu serentak yang memilih pemimpin secara langsung. Sebut saja pemilu 2004, 2009, 2014, dan 2019. Pemilu yang digelar tiap lima tahun sekali di Indonesia ini menjadi perhatian internasional. Banyak pemantau dari luar yang ke Indonesia untuk mempelajari mekanisme pemilu. Bahkan, pemilu di Indonesia diklaim sebagai pemilu yang paling rumit sampai saat ini.

Dari pemilu serentak 2004, 2009, dan 2014 ternyata ada perbedaannya dengan pemilu 2019. Berikut ini perbedaan yang terjadi dan ini membuat petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang berada di Tempat Pemungutan Suara (TPS) harus kerja ekstra. Kerja mereka bisa sampai larut malam, bahkan sampai pagi hari berikutnya.

Dua pemilu digabung jadi satu

Tiga pemilu sebelumnya ada dua pemilu dalam satu tahun, baik tahun 2004, 2009, dan 2014. Pilek dilaksanakan terlebih dahulu baru Pilpres. Namun, pada pemilu 2019 hanya ada satu pemilu. Pilek dan Pilpres digabung menjadi satu. Dengan demikian dalam satu penyelenggaraan pemungutan suara, Pileg dan Pilpres diselenggarakan dalam satu hari.

Dengan digabungnya Pilek dan Pilpres ini ada banyak manfaat yang bisa dipetik. Pertama, dari segi efisiensi anggaran yang dikeluarkan oleh negara juga lebih efisien jika dibandingkan dengan Pilek dan Pilpres dilaksanakan berbeda waktu. Kedua, dari segi keamanan juga lebih efisien Pilek dan Pilpres digabung dari pada dilaksanakan berbeda waktu.

Singkatan lama yang berubah

Beberapa singkatan muncul saat pemilu 2019. Sebenarnya singkatan ini sudah ada pada pemilu sebelumnya, namun mengalami perubahan. Ada juga yang sama dengan pemilu sebelumnya. Pada pemilu 2019 terdapat lima jenis pemilu. Singkatan-singkatan ini tertera pada surat suara yang akan dicoblos oleh pemilih.

Pertama, pemilu 2019 untuk memilih anggota dewan di pusat. Dewan ini disebut dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Warna surat suara untuk DPR adalah abu-abu. Pemilu sebelumnya memberikan singkatan DPR-RI. Kedua, pemilu memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Warna surat suara DPD adalah merah. Singkatan ini sama dengan pemilu sebelumnya.

Ketiga, pemilu 2019 memilih anggota dewan di daerah tingkat provinsi, yaitu DPR Provinsi. Pemilu sebelumnya menggunakan singkatan DPRD-I. Keempat, pemilu 2019 memilih anggota dewan di daerah tingkat kabupaten/kota, yaitu DPR Kab/Kota. Pemilu sebelumnya menggunakan singkatan DPRD-II.

Ada tambahan daftar pemilih

Setiap orang yang akan menggunakan suaranya, harus terdaftar namanya di KPU. Jika tidak, maka orang tersebut tidak bisa menggunakan hak suaranya untuk mencoblos di TPS. Selain itu, pemilih juga harus menunjukkan surat pemberitahuan yang nanti dibawa ke TPS untuk ditukar dengan surat suara.

Penduduk yang tinggal daerah TPS (domisili) dan memiliki KTP-el daerah tersebut, maka mereka akan terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). DPT adalah daftar pemilik KTP-el yang terdaftar dalam daftar Pemilih Sementara hasil pemutakhiran yang telah diperbaiki oleh Panitia Pemungutan Suara (PPS/panitia tingkat desa/kelurahan) dan ditetapkan oleh KPU/KIP Kabupaten/Kota. Surat pemberitahuan (C6) diberikan oleh anggota KPPS paling lambat tiga hari sebelum pencoblosan.

Daftar Pemilih Tambahan (DPTb) adalah daftar pemilik KTP-el yang terdaftar dalam DPT karena dalam keadaan tertentu tidak dapat memberikan suara di TPS tempat Pemilih yang bersangkutan terdaftar dalam DPT dan memberikan suara di TPS lain. Pemilih yang terdaftar pada DPTb menggunakan surat pemberitahuan model A5 yang diurus dari KPU Kabupaten/Kota.

Mereka yang menggunakan surat pemberitahuan model A5 untuk mencoblos di TPS lain karena beberapa alasan. Menjalankan tugas saat pemungutan suara, menjalani rawat inap atau keluarga yang mendampingi, menjalani perawatan di panti sosial/rehabilitasi, termasuk rehabilitasi narkoba. Alasan lain adalah menjadi tahanan, tugas belajar/menempuh pendidikan, pindah domisili, terkena bencana, dan bekerja di luar domisili.

Ada lima surat suara, yaitu surat suara Pemungutan Presiden dan Wakil Presiden (PPWP), DPR, DPD, DPR Provinsi, dan DPR Kabupaten/Kota. Mereka yang membawa surat pemberitahuan model A5 belum tentu mendapatkan lima surat suara. Tergantung di daerah pemilihan (dapil) mana TPS berada. Dapil ini meliputi DPR, DPD, DPR Provinsi, dan DPR Kabupaten/Kota.

Selain DPT dan DPTb, ada satu lagi yaitu Daftar Pemilih Khusus (DPK). DPK adalah Daftar Pemilih pemilik KTP-el yang tidak terdaftar dalam DPT atau DPTb yang memiliki hak pilih dan dilayani penggunaan hak pilihnya pada hari pemungutan suara (pencoblosan). Bisa dibilang orang yang terdaftar dalam DPK adalah penduduk di daerah TPS, namun mungkin luput dari pendataan, sehingga tidak terdaftar dalam DPS. Mungkin juga saat didaftar belum genap berumur 17 tahun, namun menjelang hari pencoblosan sudah berusia 17 tahun.

Saat pergi ke TPS, baik Pemilih yang terdaftar pada DPT, DPTb, maupun DPK harus menunjukkan KTP-el. Untuk DPT maupun DPTb bisa menggunakan Surak Keterangan (Suket), Kartu Keluarga (KK), maupun paspor. Namun, untuk DPK hanya menunjukkan KTP-el.

Pada pemilu sebelumnya hanya terdapat dua jenis Pemilih, yaitu yang terdaftar pada DPT dan DPTb. Sementara pada pemilu 2019 ditambah lagi dengan DPK jika ada. Pemilih yang terdaftar pada DPT dan DPTb bisa mencoblos antara pukul 07.00 sampai dengan 13.00 waktu setempat. Sementara Pemilih yang terdaftar pada DPK bisa mencoblos antara pukul 12.00 sampai dengan 13.00 waktu setempat.

Bagi Anda yang sudah memiliki hak pilih, yang telah terdaftar di DPT, DPTb, atau DPK gunakan hak pilih Anda. Jangan golput, karena nasib bangsa ini akan ditentukan lima tahun ke depan melalui Pemilu 2019.

Iklan