Tradisi Unik, Melayat dengan Membawa Beras


Pelayat

Pelayat

Kematian adalah rahasia Yang Maha Kuasa. Siapa saja yang bernyawa pasti akan meninggal. Kapan dan di mana seseorang akan meninggal tidak bisa diketahui sekarang. Hanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa yang mengetahuinya. Siapapun tidak bisa menolak kematiaan saat ajal sudah menjemput.

Kematian adalah pasti terjadi, meskipun ini adalah suatu hal yang menyedihkan bagi keluarga yang ditinggalkan. Apapun bisa menjadi penyebab dari kematian. Penyebab sakit adalah yang biasa terjadi, namun tak jarang orang yang tidak tampak sakit pun bisa saja meninggal dengan mendadak.

Di beberapa daerah terdapat tradisi tertentu dalam hal kematian seseorang. Tradisi ini secara turun temurun diwariskan dari generasi yang sebelumnya. Meskipun jaman sudah modern, namun tradisi ini masih tetap dilestarikan. Seperti yang terjadi di Dukuh (kampung) Tagung, Kelurahan Rembun, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Di kampung ini jika ada seorang anggota keluarga yang meninggal, maka tetangga akan segera datang dan memberikan bantuan dalam bentuk apapun. Para lelaki akan menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan tamu yang melayat seperti tenda, kursi, peralatan sound system, piring, gelas, tikar, dan barang-barang lain yang nanti akan dibutuhkan pada saat upacara pemakaman dan setelahnya.

Di kampung ini 100% penduduknya beragama Islam, jadi persiapan termasuk pembelian kain kafan, kayu nisan, dll untuk pemakaman menjadi tanggung jawab sebagian lelaki. Sementara itu, kaum perempuan menyiapkan air untuk memandikan jenazah dan bunga yang dirangkai maupun tabur yang akan dibawa ke makam. Ada juga yang mempersiapkan di dapur seperti memasak air untuk minum, memasak nasi, dll. Tak lupa ada yang belanja keperluan dapur seperti ayam, bumbu, dll.

Setelah semua sudah siap, jenazah dimandikan. Perwakilan tiga anggota keluarga yang laki-laki memangku jenazah pada saat dimandikan. Tetangga dekat yang lain membentangkan kain jarik (kain batik) yang masih baru disambung untuk menutupi jenazah yang dimandikan. Setelah jenazah dimandikan lalu dikafani oleh tokoh di kampung ini. Setelah itu para tetangga dan juga pelayat yang ada dipersilahkan untuk sholat jenazah. Jika pelayat sudah banyak sholat jenazah bisa dibagi menjadi beberapa kelompok.

Kampung ini bertetangga dengan Dukuh Tagung yang yang berada di kelurahan Guli, jadi ada dua Dukuh Tagung, yang satu kelurahan Rembun, yang satunya lagi Guli. Kampung ini juga bertetangga dengan Dukuh Lemahbang yang berada di kelurahan Glonggong dan Dukuh Mojo dan Mojo Baru yang masih satu kelurahan dengan Rembun.

Pemakaman di kampung ini berada di Jl Kalioso – Simo, tepatnya di pinggir jalan yang membelah kedua kampung Tagung ini. Meskipun letaknya di Tagung, namun pemakaman ini digunakan tidak hanya oleh Tagung Rembun dan Guli saja, namun beberapa kampung di sekitarnya. Dukuh lain yang menggunakan pemakaman ini adalah Lemahbang, Mojo dan Mojo Baru.

Ada tradisi yang patut ditiru di kampung ini. Tradisi ini adalah gotong-royong yang sudah mendarah daging dan diturunkan dari sejak jaman penjajahan sampai sekarang. Untuk Dukuh Tagung Rembun ada tiga Rukun Tetangga (RT), sementara Tagung Guli ada dua RT, jadi ada lima RT.

Beberapa waktu yang lalu saya bisa berkesempatan menyaksikan tradisi gotong-royong yang sangat kompak dalam hal kematian seorang warga. Namun, saya tidak bisa mengambil gambar banyak karena tidak diperbolehkan memotret di rumah duka maupun di pemakaman.

Pada waktu itu warga yang meninggal adalah seorang lelaki yang sudah berusia 90 tahun di RT 1 Tagung Rembun. Tradisi di kampung ini warga RT 1yang berduka bergotong royong di rumah duka. Termasuk melayani siapa saja pelayat yang datang, baik warga laki-laki, perempuan, maupun anak-anaknya yang sudah dewasa meskipun belum berkeluarga. Jika pada saat jam kerja, maka mereka ijin tidak masuk kerja. Jika yang sudah terlanjur kerja, maka mereka ijin pulang.

Sementara empat RT yang lain (termasuk 2 RT yang ada di Tagung Guli) warga laki-lali ke pemakaman. Para lelaki ini bergantian menggali makam. Mereka tidak dipungut biaya sepeserpun. Jadi ini adalah murni gotong-royong. Mereka yang menggali makam ini hanya dibayar dengan sekali makan.

Jika lubang makam sudah selesai maka para lelaki ini dikirim makanan nasi yang dibungkus dengan daun pisang atau daun jati. Menunya tergantung dari keluarga yang meninggal, namun biasanya sederhana dengan lauk ayam dan sayur seadanya. Tak lupa teh yang disajikan dalam teko untuk menemani makan. Alat untuk membawa nasi bungkus adalah bakul yang terbuat dari anyaman bambu.

Semua warga perempuan dari lima RT ini menuju rumah duka untuk melayat. Pada umumnya, pelayat membawa amplop yang berisi uang untuk dimasukkan ke dalam kotak yang telah disediakan, namun tidak dengan di sini. Warga perempuan melayat dengan membawa beras yang dimasukkan ke dalam baskom atau bakul yang terbuat dari anyaman bambu seikhlasnya, rata-rata mereka membawa satu liter.

Para perempuan ini langsung ke belakang atau ke dapur untuk meletakkan beras. Di sana sudah ada dua perempuan yang bertugas menerima sumbangan beras dari warga. Setelah itu masuk ke tempat jenazah disemayamkan sambil menemui keluarga perempuan yang berada di ruangan ini. Tradisi membawa beras ini sudah ada sejak jaman dulu dan sampai saat ini masih dilestarikan.

Bagi pelayat dari luar kampung, yang masih saudara dengan keluarga yang meninggal ada yang membawa beras, gula, teh, dll. Bagi pelayat yang membawa uang, maka uang bisa dimasukkan ke dalam kotak bekas air mineral yang ditutupi dengan kain batik atau taplak meja. Jadi tidak ada kotak khusus untuk sumbangan uang seperti pada hajatan.

Untuk mengabari keluarga yang ada di luar kampung sudah ada surat lelayu yang mengantarnya. Surat lelayu ini berbahasa Jawa halus atau Kromo Inggil. Mereka membawa beberapa lembar surat lelayu untuk dikirim ke beberapa keluarga atau kerabat yang ada di luar kampung. Sementara yang jauh bisa menggunakan telepon seluler.

Setelah waktu yang ditentukan, maka upacara pemakaman dimulai dari rumah duka. Tokoh kampung atau perwakilan dari kelurahan seperti Kepala Desa atau Bayan memberikan sambutan pada acara pemakaman. Sebelum jenazah diberangkatkan ke makam, para anggota keluarga diberi kesempatan terakhir untuk menghormati jenazah dengan cara brobosan, yaitu berjalan di bawah keranda jenazah yang telah dipanngul.

Yang memanggul jenazah adalah dari pihak keluarga bergantian. Perjalanan ke makam sekitar seratus meter dengan jalan kaki. Tradisi menyebar uang receh yang dicampur dengan beras dilakukan sepanjang jalan menuju makam. Bendera berwarna merah yang semula berada di depan jalan menuju kampung tak lupa dibawa untuk tanda para pengguna jalan bahwa sedang ada jenazah yang akan dimakamkan, para pengguna jalan diharapkan menepi atau minggir.

Di kampung ini hanya pria saja yang diperbolehkan ikut ke makam. Warga dan pelayat perempuan tidak diperbolehkan. Setelah tiba di makam, jenazah dimasukkan ke dalam liang lahat. Pada saat dimasukkan, maka beberapa pria mengatakan “jujul nopo mboten?” yang artinya jenazahnya muat di liang lahat atau tidak? Warga percaya jika pada saat jenazah dimasukkan pada liang lahat dan ternyata tidak muat meskipun pada saat penggalian lubang sudah diukur dan dilebihkan, maka ini berarti pada saat masih hidup orang yang meninggal banyak melakukan dosa. Dosa yang dimaksud disini adalah berkaitan dengan penyerobotan tanah. Apalagi jika yang meninggal adalah orang yang punya tanah pertanian.

Setelah dimasukan ke liang lahat, maka jenasah ditimbun dengan tanah. Keluarga dari yang meninggal disuruh menginjak-injak sambil warga yang lain memasukkan tanah ke lubang makam. Setelah selesai maka makam ditaburi dengan bunga dan didoakan oleh salah satu tokoh masyarakat.

Seperti di daerah lain, ada juga tradisi yasinan dan tahlilan di kampung ini. Sampai hari ketiga diadakan yasinan dan tahlil dalam rangka tiga hari. Penanggalan yang digunakan adalah kalender Islam, dimana jika sudah masuk magrib, maka sudah dihitung hari berikutnya. Misal orang yang meninggal pada hari Jumat pukul 17.00, maka tiga harinya adalah hari Sabtu setelah magrib, namun acara yasinan dan tahlil dilaksanakan setelah sholat Isyak. Mereka yang datang adalah warga satu RT dan magersari (tetangga dekat meskipun bukan satu RT). Tiap malam sampai hari ketujuh diadakan pembacaan Yasin dan Tahlil.

Pada hari ketujuh, diadakan potong kambing. Kambing yang dipotong adalah seekor dipilih yang besar. Tradisi potong kambing ini juga sudah sejak jaman dulu. Sampai sekitar awal tahun 2000 an potong kambing dilakukan pada saat hari pemakaman, bukan pada tujuh hari. Daging kambingnya untuk lauk para mereka yang menggali lubang, keluarga, dan yang mau. Namun, karena waktu yang sangat sempit maka tradisi potong kambing dilakukan pada hari ketujuh.

Siang hari setelah kambing dimasak dibagikan bersamaan dengan nasi dan sayur sambal goreng. Dari kulit sampai tulang kambing semua dimasak. Tradisi ini disebut dengan weweh atau disedekahkan. Hampir seluruh kampung diberi weweh. Warga yang diberi weweh, malam harinya yang laki-laki diundang untuk membaca Yasin dan Tahlil. Sebagian kambing yang tidak untuk weweh digunakan untuk lauk makan malam bagi yang membaca Yasin dan Tahlil.

Tradisi membacakan Yasin dan Tahlil seperti ini dilakukan juga pada 40 hari, 100 hari, pendak 1, dan pendak 2. Pendak artinya tahun, jadi pendak 1 artinya tahun pertama setelah meninggalnya almarhum/almarhumah. Selain itu pada hari ke-1000 juga diadakan acara baca Yasin dan Tahlil. Pada hari ke-1000 bergantian tiap anak yang sudah berkeluarga menggelar acara ini dengan memotong seekor kambing untuk weweh atau disedekahkan.

Meskipun jaman sudah berganti dari generasi ke generasi, namun tradisi kematian di kampung ini masih tetap dipertahankan sampai sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: