Category Archives: Pendidikan

Banyak Siswa SMP ke Sekolah Pakai Motor, Siapa Suruh?


Siswa SMP ke sekolah mengendarai motor dan tidak memakai helm


Tingginya mobilitas membuat orang memerlukan kendaraan untuk menuju ke suatu tempat. Kendaraan yang dibutuhkan adalah kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat. Namun, diantara kedua jenis kendaraan tersebut, kendaraan roda dua yang paling banyak diminati.

Motor adalah kendaraan yang banyak dijumpai di jalan raya sampai gang-gang sempit setapak. Motor bisa dikendaraan oleh tak hanya mereka yang sudah dewasa saja namun juga anak di bawah umur 17 tahun. ‘Kuda besi’ dari Jepang ini bahkan sudah menjadi gaya mobilitas sehari-hari dari kalangan kelas bawah sampai kelas atas.

Maraknya penggunaan motor ini ternyata banyak yang menyalahi aturan. Pada Undang-undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sudah jelas bahwa usia minimal yang boleh mengendarai kendaraan bermotor, termasuk sepeda motor adalah yang sudah berusia minimal 17 tahun. Ini dibuktikan dengan Surat Izin Mengemudi (SIM).

Pada pasal 281 disebutkan “Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di Jalan yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah).”

Kenapa anak umur di bawah 17 tahun tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor? Secara psikologis, umur di bawah 17 tahun belum cukup bisa menguasai kondisi jalan. Mengendarai motor memang bisa, namun dalam menguasai jalan belum tentu bisa, bahkan banyak yang mengabaikan. Banyak kasus kecelakaan terjadi pada pengendara umur di bawah 17 tahun.

Bisa menguasai jalan yang dimaksud di sini adalah bisa menjaga jarak terhadap pengendara yang lain. Kemudian pengendara juga bisa menjaga diri sehingga tidak membahayakan diri sendiri saat di jalan maupun pengguna jalan yang lain. Kendaran juga harus dilengkapi dengan kelengkapan yang sesuai aturan dan standar seperti kaca spion, knalpot, dan kelengkapan lainnya.

Pengendara sepeda motor juga harus melengkapi keamanan di jalan. Hal ini dilakukan dengan memakai helm pengaman standar sesuai dengan SNI. Sayangnya, tak sedikit anak di bawah umur mengendarai sepeda motor tanpa helm pengama dan tanpa kaca spion. Parahnya lagi mereka banyak yang kebut-kebutan dan mendahului (menyalip) pengguna jalan yang lain tanpa menghiraukan apakah kondisi tersebut benar-benar aman untuk mendahului kendaraan di depannya atau tidak.

Fenomena anak di bawah umur mengendarai motor ini banyak terjadi pada siswa SMP/MTs. Mereka melakukan ini bukan tanpa sebab. Mereka memang bersalah, namun kesalahan yang mereka lakukan bukan tanpa sebab ada yang melatarbelakangi. Meskipun sudah banyak kasus kecelakaan pada pengendara motor di bawah umur, namun angka pengendara di bawah umur masih tinggi, bahkan dari tahun ke tahun cenderung meningkat.

Ikut-ikutan

Tak sedikit anak-anak di bawah umur mengendarai motor ke sekolah, terutama siswa SMP karena mengikuti temannya. Jika tidak memakai motor maka dianggap bukan anggota gengnya. Memakai motor ke sekolah juga untuk bergaya.

Meskipun pihak sekolah telah melarangnya, masih saja dilakukan. Bahkan orang tua sudah dipanggil. Di sekolah tidak ada tempat parkir motor untuk siswa SMP, namun karena ada tempat parkir di luar sekolah, maka ini akan semakin menjamurnya siswa SMP mengendarai motor ke sekolah. Ada juga anak yang biasanya memakai sepeda kayuh ke sekolah karena jarak rumah ke sekolah dekat menjadi mengendarai motor karena ikut temannya.

Seharusnya pihak pengelola parkir bisa bekerja sama dengan sekolah. Namun, karena tuntutan urusan finansial, maka siapapun bisa parkir di tempat yang dikelolanya, yang penting membayar. Tempat parkir yang menerima jasa parkir dari siswa ini tahu jika ini sangat berisiko. Malah ada oknum yang mengetahui aturan ini malah menerima jasa parkir siswa di dekat sekolah.

Mudahnya kredit motor

Membeli motor saat ini seperti membeli gorengan atau permen. Dengan DP 500 ribu atau bahkan di bawahnya bisa membawa motor pulang. Mudahnya kredit motor ini mendorong banyak orang berbondong-bondong ingin memiliki motor.

Sayangnya, kemudahan memiliki motor ini tidak dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk mematuhi peraturan berkendara. Justru dengan mudahnya memiliki motor meningkat pula pengendara motor di bawah umur.

Seharusnya aturan ini diubah. Jangan hanya kepentingan komersial saja target penjualan terpenuhi saja sehingga akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Selain masalah volume kendaraan yang membuat sesak di jalan, ternyata juga akan meningkatkan risiko kecelakaan pengendara motor di bawah umur.

Kemudahan dalam memiliki motor menyebabkan kendaraan beroda dua ini membludak. Orang ke mana-mana menggunakan motor sebagai kendaraannya. Dengan demikian, kendaraan atau angkutan umum tergeser. Lama kelamaan kendaraan umum tak lagi diminati. Akhirnya kendaraan umum berhenti beroperasi.

Aparat tidak tegas

Tiap pagi hari saat jam ke sekolah maupun siang atau sore saat jam pulang sekolah banyak lalu-lalang motor di jalanan dekat sekolah. Tak terkecuali pada sekolah jenjang SMP/MTs. Berseliverannya motor ini ternyata juga melewati jalan-jalan sibuk bahkan di depan kantor polisi. Di desa-desa pemandangan ini sering saya lihat, seakan menjadi pemandangan indah. Aparat penegak hukum yang melihat siswa SMP berseragam sekolah mengendarai motor cuek saja. Bahkan mereka yang mengendarai ini tidak memakai helm pengaman. Jika aparat saja tidak tegas, bagaimana kasus ini bisa diberantas? Bahkan akan semakin menggila.

Salah orang tua

Orang tua dalam hal ini sangat berperan penting. Jika orang tua tidak mengabulkan anaknya yang di bawah umur mengendarai motor ke sekolah, maka kasus seperti ini tidak akan bertambah. Kesadaran orang tua merupakan salah satu kunci suksesnya mengurangi bahkan meniadakan anak di bawah umur tidak mengendarai motor ke sekolah.

Jangan karena memiliki uang banyak orang tua bisa dengan mudah membeli motor untuk anaknya yang masih dibawah umur untuk dikendarai ke sekolah. Jangan karena kesibukannya dan males mengantar anak ke sekolah orang tua malah membiarkan atau menyuruh anaknya yang di bawah umur unuk mengendarai motor ke sekolah.

Rumahnya jauh menjadi alasan siswa di bawah umur disuruh orang tuanya untuk mengendarai motor ke sekolah. Ada juga karena tidak ada yang mengantar anaknya disuruh oleh orang tuanya mengendarai motor ke sekolah.

Bagaimanapun, membiarkan anak di bawah umur mengendarai kendaraan bermotor baik mobil maupun motor di jalan raya ke sekolah oleh orang tua tidak dibenarkan. Jika mereka mengalami kecelakaan dan berakibat fatal seperti cacat dan bahkan kematian, maka orang tua akan menyesal di kemudian hari. Masa depan mereka jangan sampai hilang sebelum menikmatinya karena pelanggaran lalu-lintas yang seharusnya tidak boleh terjadi. Peraturan sekolah yang melarang siswanya di bawah umur tidak mengendarai motor ke sekolah seharusnya juga diamini oleh orang tua, aparat berwajib dan seluruh lapisan masyarakat.

Iklan