Denda 50 Juta Rupiah Bagi Perokok yang Merokok Sembarangan Sudahkan Direalisasikan?


Meskipun merokok tidak baik untuk kesehatan, namun kebiasaan yang satu ini sudah mencandu bagi perokok. Bahkan mereka para perokok ini sebagian mengatakan kalau sarapan pertamanya adalah merokok setelah bangun tidur. Saat selesai makan pun selalu diikuti dengan merokok.

Dari yang penulis ketahui dan lihat sendiri, jarang perokok yang peduli pada lingkungan. Maaf, bukan saya menggeneralisasikan semua perokok seperti itu. Misal, puntung rokok sering dibuang sembarangan. Ini terjadi pada saat sedang merokok di tempat umum seperti di taman, halte bus, pasar, dll.

Para perokok yang saya lihat juga saat merokok langsung saja merokok tanpa peduli dengan lingkungan di sekitar. Misal, permisi untuk merokok atau menuju ke tempat tertentu yang tidak ada orangnya atau keluar ruangan.

Bahkan saya sering melihat dengan mata kepala saya sendiri para perokok yang merokok sambil mengendarai motor dimana anaknya yang masih balita berada pada motor bagian depan, sehingga hampir bara api dan asap rokoknya menyentuh kepala sang anak. Ada juga perokok yang mengasuh anak atau cucunya yang masih di bawah tiga tahun sambil merokok.

Para perokok ini cuek saja, seakan ini hal biasa yang menurutnya tidak bermasalah. Tak hanya anak-anak dan bayi saja yang terkena dampak dari asap rokok yang ada di dekat orang yang sedang merokok, namun juga orang dewasa. Pada hal, menghirup asap rokok orang lain lebih berbahaya dibandingkan menghisap rokok sendiri. Bahkan bahaya yang harus ditanggung perokok pasif tiga kali lipat dari bahaya perokok aktif.

Setyo Budiantoro dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) seperti dikutip dari Kompasiana mengatakan, sebanyak 25 persen zat berbahaya yang terkandung dalam rokok masuk ke tubuh perokok, sedangkan 75 persennya beredar di udara bebas yang berisiko masuk ke tubuh orang di sekelilingnya. Tidak ada batas aman terhadap asap rokok orang lain sehingga sangat penting untuk menerapkan 100% kawasan tanpa asap rokok untuk dapat menyelamatkan kehidupan.

Meskipun sudah ada tempat yang khusus untuk perokok yang ingin merokok, namun masih banyak tempat yang seharusnya steril dari asap rokok digunakan untuk merokok. Mirisnya lagi, di lingkungan rumah sakit masih ada saja orang merokok. Saya pernah melihat sendiri di beberapa rumah sakit baik negeri maupun swasta di Solo Raya para perokok yang merokok di lingkungan rumah sakit. Hal ini saya lihat saat di rumah sakit tersebut ada keluarga saya yang sedang menjalani perawatan atau opname.

Mereka yang merokok ini mencari tempat yang kiranya tidak terpantau oleh kamera CCTV atau jarang dipantau oleh petugas keamanan. Dengan sembunyi-sembunyi para perokok ini memanfaatkan celah-celah kekurangan rumah sakit tersebut. Beberapa kali saya melaporkan yang saya lihat kepada petugas keamanan rumah sakit. Terus petugas pun menindaklanjuti. Namun, hanya teguran lisan saja dari petugas kepada perokok. Coba diberi sangsi yang tegas.

Sebenarnya banyak peraturan tentang larangan merokok di lingkungan rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Bahkan di beberapa tempat umum yang sudah diatur. Peraturan-peraturan tersebut antara lain Peraturan Pemerintah (PP) terbaru Nomor 109 tahun 2012 tentang Tembakau, PP Nomor 19 tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan, serta Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

Menurut Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 115 terdapat tujuh kawasan yang harus bebas dari asap rokok. Ini artinya siapapun tanpa kecuali tidak boleh merokok di kawasan ini. Ketujuh tempat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain rumah sakit, juga poliklinik, puskesmas, dan pelayanan kesehatan lainnya tidak boleh merokok di lingkungan tersebut. Jadi bukan hanya di ruangan pelayanan kesehatan saja.

2. Tempat proses belajar mengajar.
Ini berarti di ruang kelas baik dari tingkat PAUD sampai perguruan tinggi juga tidak boleh ada asap rokok. Sebaiknya juga tidak hanya di ruang kelas, namun juga di kawasan sekolah.

3. Tempat anak bermain.
Tempat bermain anak tak hanya di lingkungan PAUD atau TK saja, namun juga di taman-taman dimana tersedia tempat bermain untuk anak-anak.

4. Tempat ibadah.
Semua lingkungan tempat ibadah seperti masjid/mushola, gereja, pura, vihara, dll juga tidak boleh ada asap rokok.

5. Angkutan umum.
Angkutan umum seperti kereta api, bus, pesawat, kapal, dll tidak boleh ada asap rokok.

6. Tempat kerja.
Tempat kerja seperti di kantor, apalagi yang memiliki ruangan ber-AC.

7. Tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan oleh Peraturan Daerah.
Masing-masing daerah memiliki kebijakan sendiri dalam hal tempat umum yang tidak boleh merokok selain keenam tempat yang telah disebutkan di atas.

Pada pasal ke-199 ayat 2 UU Nomor 36 Tahun 2009 disebutkan” Setiap orang yang dengan sengaja melanggar kawasan tanpa rokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 dipidana denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)”.

Peraturannya bagus, sangsinya juga tegas supaya memberi efek jera kepada para perokok yang merokok sembarangan. Namun, apakah hukuman denda sebesar itu sudah pernah diberlakukan? Jangan sampai hukuman denda yang berat tersebut hanya formalitas saja. Hanya isapan jempol saja. Buktinya masih banyak perokok yang bebas merokok di tujuh kawasan yang seharusnya kawasan tanpa rokok. Sosialisasi yang minim bahkan kurang membuat para perokok merokok di sembarang tempat.

Jika pemerintah tegas, hukuman denda 50 juta rupiah tersebut harus direalisasikan kepada perokok yang bandel merokok di sembarang tempat. Sejauh ini saya belum pernah mendengar atau membaca ada media yang memberitakan tentang orang yang dikenai denda 50 juga karena merokok di tujuh kawasan tanpa rokok tersebut. Bahkan mereka yang tertangkap tangan merokok di lingkungan rumah sakit pun belum pernah dikenai denda tersebut.

Saran kepada para perokok hormati hak orang lain untuk menghirup udara segar dengan tidak merokok.

Iklan