Category Archives: Bahasa Sastra dan Budaya

10 Foto Indahnya Tradisi ‘Wayangan’ di Tegalampel


Akhir bulan Sya’ban adalah bulan yang banyak dinanti oleh sebagian masyarakat Muslim di tanah air. Pasalnya, pada bulan yang juga disebut dengan ‘Ruwah’ pada kalender Jawa ini terdapat beberapa tradisi menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Khusunya di Jawa, tradisi pada bulan Ruwah ini sangat penting. Pada pekan terakhir bulan ini terdapat berbagai tradisi turun-temurun bagi sebagian masyarakat Muslim di Tanah Jawa. Salah satu tradisi yang sampai sekarang masih dilestarikan meskipun jaman dan teknologi sudah berubah adalah pagelaran wayang kulit atau disebut dengan ‘Wayangan’.

Tradisi ini masih terus dilestarikan oleh masyarakat di Klaten, Jawa Tengah. Bahkan, tradisi seni dan budaya leluhur ini tidak hanya didukung oleh masyarakat Muslim saja, namun juga masyarakat dari berbagai agama dan penganut kepercayaan. Tradisi ‘Wayangan’ ini adalah tempat berkumpulnya para warga yang nan jauh untuk pulang. Tradisi ini juga mempererat persatuan dan kesatuan antar masyarakat di Klaten apapun latar belakang agamanya.

Beberapa desa di Klaten menggelar tradisi ‘Wayangan’ ini. Ada yang menggelar ‘Wayangan’ sehari semalam, ada yang hanya malam saja. Tradisi ini diadakan setiap tahun. Waktunya tentu pada bulan Ruwah, ada yang dilaksanakan pada hari ke-20 Ruwah, namun ada yang pada hari ke-25 Ruwah atau sepekan menjelang bulan suci Ramadan atau pada kalender Jawa disebut dengan bulan ‘Poso’.

Beberapa desa masih mempertahankan tradisi ‘Wayangan’ ini. Sebut saja Desa Karangtalun dan Tegalampel di Kecamatan Karangdowo. Desa Juwiran di Kecamatan Juwiring juga masih mempertahankan ‘Wayangan’ ini. Juga beberapa desa yang ada di Kecamatan Ceper menyelenggarakan ‘Wayangan’ pada bulan Ruwah ini.

Saya berkesempatan mengabadikan gambar ‘Wayangan’ yang ada di Desa Tegalampel pada Jumat (11/5/2018) pada pagelaran siang maupun malam hari. ‘Wayangan’ ini bertepatan pada hari ke-25 bulan Ruwah 1951 atau bulan Sya’ban 1439 H.

Informasi dari pengrawit atau niyogo, terdapat dua dalang berbeda pada pagelaran ‘Wayangan’ di Desa yang saat ini dikepalai oleh Suwanto ini. Pengrawit atau niyogo adalah orang yang memainkan alat musik tradisional Jawa, yaitu gamelan.

‘Wayangan’ pada siang hari, dalang adalah Ki Narwan dari Cinderejo, Kota Solo dengan lakon “Sri Mulih”. Sementara pada malam hari dalangnya Ki Bibit Santoso dari Duwet, Baki, kabupaten Sukoharjo dengan lakon “Wahyu Cakraningrat”.

Berikut ini foto-foto yang berhasil saya abadikan.

Foto ‘Wayangan’pada siang hari.




Foto ‘Wayangan’pada malam hari.




Iklan