Author Archive: Cauchy Murtopo

Ini Alasan Bulan Ramadan Banyak Pengeluaran


Ilustrasi, Foto: Merdeka

Marhaban ya Ramadan. Bulan yang penuh rahmat bagi umat Islam telah tiba. Bulan ini sangat dinanti-nanti kehadirannya bagi umat Islam di berbagai penjuru dunia. Tak hanya kewajiban berpuasa saja bagi umat Islam, di bulan suci ini umat Islam juga berlomba-lomba bersedekah, karena bersedekah di bulan Ramadan pahalanya dilipatgandakan.

Umat Islam di negara tropis seperti Indonesia melaksanakan puasa sekitar 13 jam. Orang yang berpuasa, waktu makan dibatasi. Saat berbuka adalah awal diperbolehkan makan sampai dengan waktu imsak. Tak sedikit orang yang berpuasa hanya makan pada saat berbuka dan sahur. Ini berarti hanya ada dua kali makan besar.

Meskipun rata-rata orang yang berpuasa di bulan Ramadan makan besarnya hanya dua kali, sementara jika tidak berpuasa makan besar tiga kali, tetapi mengapa pengeluaran saat bulan Ramadan justru lebih besar? Berikut ini alasan-alasan kenapa di bulan Ramadan pengeluaran lebih besar dari pada di bulan-bulan yang lainnya. Bahkan pengeluaran di bulan Ramadan bisa dua kali atau tiga kali lipat dari pada bulan-bulan yang lain.

1. Menu makan lebih enak
Orang berpuasa membutuhkan energi instan supaya tenaganya pulih kembali saat berbuka. Begitu juga saat sahur, makanan yang disantap juga sebaiknya memenuhi gizi yang baik untuk tubuh supaya energi tetap terjaga untuk bekerja di siang hari.

Untuk memenuhi nutrisi saat berbuka dan sahur, maka diperlukan makanan yang berbeda dari pada hari-hari biasa. Nurisi yang lebih menuntut pengeluaran yang lebih pula. Bahkan beberapa makanan atau minuman hanya ada di bulan Ramadan. Hal ini membuat menu makanan lebih istimewa saat Ramadan. Jadi tidak heran jika pengeluaran lebih untuk kebutuhan makan saja. Tubuh penginnya dimanjakan dengan makanan yang enak saat Ramadan.

2. Bersedekah dan zakat
Di bulan yang penuh berkah ini tidak hanya urusan menu makanan saja. Di bulan Ramadan segala amalan pahalanya dilipatgandakan dari pada bulan-bulan yang lain. Hal ini yang menjadikan alasan pengeluaran lebih untuk bersedekah.

Banyak cara untuk bersedekah seperti memberikan menu berbuka atau sahur bagi yang bagi kaum duafa dan membutuhkan yang lainnya. Di berbagai daerah terdapat tradisi setiap keluarga menyajikan menu berbuka untuk jamaah atau anak-anak yang menimba ilmu agama melalui Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) secara bergiliran.

Selain bersedekah, ada kewajiban yang harus dilaksanakan setiap umat Islam sebelum Idul Fitri. Zakat fitri adalah harta yang harus dikeluarkan. Besarnya sesuai dengan makanan pokok yang dimakan tiap hari. Untuk beras 2,5 kg atau uang yang senilai dengan itu.

3. Keperluan lebaran
Pengeluaran yang banyak biasanya untuk keperluah lebaran yang dilakukan pada bulan Ramadan. Berbagai keperluan lebaran harus disiapkan tak hanya saat bulan Ramadan saja, bahkan sebelum Ramadan.

Membeli pakaian baru adalah keperluan lebaran yang sudah menjadi tradisi meskipun ini sebenarnya tidak wajib dilakukan. Selain membeli pakaian untuk keluarga sendiri, biasanya juga membeli pakaian untuk saudara yang lain seperti keponakan.

Keperluan lebaran yang tak kalah penting dari baju baru adalah berbagai makanan dan minuman yang disajikan untuk lebaran. Aneka kue, biskuit, dan berbagai minuman biasanya dibeli saat di bulan ramadan untuk keperluan tamu saat lebaran. Ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Beberapa daerah punya tradisi keluarga yang muda memberikan bingkisan kepada keluarga yang lebih tua. Misalkan di Jawa Tengah ada tradisi ‘weweh’ dengan memberikan makanan atau bahan makanan saat berkunjung ke saudara yang lebih tua. Barang yang diberikan antara lain gula, teh, sirup, minyak goreng, aneka kue, dll.

Istilah ‘weweh’ sama seperti bingkisan lebaran atau parcel, isi dari ‘weweh’ bisa makanan atau bahan makanan. Namun, untuk parcel biasanya isinya tidak hanya makanan saja, bisa barang seperti gelas, pakian, dll.

Keperluan lebaran yang lain adalah membagi-bagikan uang untuk saudara dan keponakan. Istilah yang sering digunakan adalah uang ‘pitrah’ atau ‘angpau’. Meskipun ini tidak wajib, namun ini sudah menjadi tradisi, jadi disiapkan dana untuk ini.

Bagi yang memiliki uang lebih, biaya saat lebaran adalah rekreasi bersama keluarga di kampung. Tiket masuk tempat wisata pada saat libur lebaran biasanya naik dari pada hari-hari biasa.

4. Mudik
Mudik atau pulang kampung sudah menjadi tradisi saat lebaran. Mudik biasanya terjadi pada bulan Ramadan. Untuk keperluan mudik ini biayanya yang paling banyak. Tiket mudik biasanya dibeli jauh-jauh hari, bahkan tiga bulan sebelum keberangkatan tiket sudah harus dibeli. Pesawat, kapal, atau kereta api adalah transportasi yang biasanya digunakan untuk mudik.

Transportasi untuk mudik juga biasanya dengan mobil pribadi atau motor. Biaya untuk keperluan mudik dengan cara ini selain BBM adalah biaya makan. Khusus yang menggunakan mobil biaya untuk masuk tol juga tidak sedikit, ini juga harus dipikirkan biayanya.

5. Harga barang naik
Hukum ekonomi mengatakan bahwa jika permintaan banyak, maka harga barang akan naik. Hal ini juga berlaku pada saat Ramadan. Hampir semua jenis barang maupun jasa saat Ramadan dan lebaran permintaan bertambah, sehingga harganya akan naik. Meskipun tak sedikit barang diberi potongan harga (diskon), namun tak sedikit pula justru harganya dinaikkan baru diberi diskon, jadi sama juga harga barang tidak naik, bahkan malah lebih tinggi dari pada harga normal. Hal ini terjadi misalnya pada pakaian.