Tag Archives: Ramadan

Tiga Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadan di Kota Pangkalpinang


Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki banyak ragam seni dan budaya. Keragaman ini membuat Indonesia adalah negara yang banyak dikagumi oleh bangsa lain. Salah satu budaya yang ada di Indonesia tersebut adalah tradisi yang turun-temurun yang telah diwariskan oleh pendahulu dari suatu masyarakat.

Salah satu tradisi yang ada di tanah air adalah yang ada di Kota Pangkalpinang, provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Tradisi yang akan diulas pada postingan kali ini adalah tradisi masyarakat Kota Pangkalpinang dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tentu tradisi ini dilakukan oleh umat Muslim di Kota Sepintu Sedulang ini.

Pangkalpinang adalah ibu kota dari Babel. Di kota ini merupakan rumah bagi berbagai etnis dari Sabang sampai Merauke. Di kota ini hidup rukun antara masyarakat Melayu maupun keturunan Tionghoa. Masyarakat Melayu yang dimaksud di sini adalah masyarakat asli Babel maupun pendatang dari berbagai daerah di tanah air. Termasuk pendatang yang paling dominan dari Pulau Jawa.

Meskipun berbeda etnis rumah mereka saling berdampingan. Mereka saling menghormati dan toleransi saat salah satu diantara etnis tersebut merayakan tradisi dari agamanya. Pemandangan seperti ini bisa dilihat di beberapa sudut kota ini, antara lain di Pangkalbalam, Pasirgaram, Kampung Bintang, Semabung, dll.

Masyarakat Melayu yang beragama Islam di Kota “pangkal kemenangan” ini memiliki tiga tradisi dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Entah kapan tradisi ini dimulai. Yang jelas tradisi yang baik ini sampai sekarang tetap dilestarikan oleh anak dan cucu dari pendahulunya yang telah wafat meskipun jaman sudah berubah. Tradisi ini disesuaikan dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini.

Ziarah Kubur

Ziarah kubur adalah mengunjungi makam dari keluarga atau kerabat yang telah mendahului wafat. Tak hanya sekedar mengunjungi saja, ada beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan di makam. Mereka yang pergi ke makam untuk ziarah kubur mendoakan kepada keluarga atau kerabat yang telah meninggal.

Tak hanya mendoakan saja, namun juga menabur bunga sebagai tanda bahwa mereka telah mengunjungi makam. Selain berdoa biasanya para peziarah ini juga membaca ayat suci yang ada di Al Qur’an. Berbagai Surat pendek seperti Annas, Al Ikhlas, Al Alaq, sampai dengan Yasin. Ada juga yang membaca tahlil di depan pusara atau batu nisan.

Bunga yang ditaburkan pun sesuai apa yang dibawa oleh para peziarah. Namun, ada beberapa bunga khas yang merupakan bunga tabur khusus untuk berziarah ke makam. Sebut saja bunga mawar berwarna merah dan putih, bunga kenanga, bunga kantil, dll. Selain bunga, ada juga yang menyiramkan minyak wangi di atas batu nisan.

Tradisi ziarah ke makam ini dilakukan sekitar dua minggu menjelang Ramadan. Namun, puncaknya adalah satu hari menjelang bulan Ramadan. Tak hanya orang dewasa saja yang berziarah, anak-anak pun diajak oleh orang tuanya untuk berziarah. Para orang tua mengajak anaknya ke makam mengenang dengan menceritakan silsilah keluarga, terutama yang sudah tiada dan dimakamkan di makam yang dikunjungi. Tak hanya warga Kota kelahiran mantan ketua KPK Antasari Azhar saja, namun juga dari berbagai daerah di Pulau Bangka yang keluarga atau kerabatnya dimakamkan di Kota Pangkalpinang.

Ziarah kubur di makam Jl. Depati Amir, Pangkalpinang

Tampak terlihat pemandangan peziarah memadati beberapa makam yang ada di Pangkalpinang. Makam yang banyak dikunjungi peziarah antara lain yang ada di Jl. Depati Amir (Jl. Muntok), di Jl. Jenderal Sudirman (Selindung dekat SMAN 4 Pangkalpinang), dan di Jl. Depati Hamzah (sebelah kiri jalan jika dari simpang 4 Semabung dekat masjid). Masih di Jl. Depati Hamzah ada lagi makam yang berada di dekat SMAN 2 Pangkalpinang. Ada lagi makam besar yang ada di Jl. Kampung Melayu (dekat Pasar Pagi ke arah Tuatunu).

Dari kelima makam Muslim besar tersebut, makam yang berada di Jl. Depati Amir lah yang paling banyak peziarahnya. Makam ini adalah yang lpaling luas diantara makam-makam yang lainnya. Makam di jalan ini membelah jalan, artinya di sisi kanan dan kiri jalan terdapat makam.

Pawai Taaruf

Tradis Pawai Taaruf ini diselenggarakan dua atau satu hari menjelang bulan suci Ramadan. Penyelenggara dari pawai ini biasanya dari Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang. Sebelum pawai keliling kota, para peserta diberi pengarahan dari ketua panitia.

Peserta pawai dari berbagai kalangan. Setiap sekolah baik negeri maupun swasta mengirimkan siswa dan guru pendamping untuk mengikuti pawai. Sekolah yang mengikuti pawai ini dari TK sampai SMA/MA/SMK. Namun, sekolah swasta dari yayasan nonmuslim tidak mengirimkan siswa ke pawai ini. Tak hanya siswa saja, berbagai perkumpulan pengajian atau majelis taklim juga ikut menyemarakkan Pawai Taaruf ini.

Pawai menggunakan berbagai atribut yang isinya sosialisasi tentang datangnya bulan suci Ramadan. Ada yang membawa tulisan “Marhaban Ya Ramadan” dan tulisan-tulisan ajakan kebaikan di bulan yang baik. Selain atribut tulisan, kostum peserta pawai pun sangat variatif sesuai dengan kostum masing-masing instansi. Ada yang mengunakan pakaian adat, yang jelas pakaian Muslim.

Pawai Taaruf berkelompok ini biasanya jalan kaki. Namun, ada juga peserta yang menggunakan sepeda yang dihias warna-warni. Beberapa sekolah/madrasah mengirimkan utusan siswanya dengan atraksi marching band.
Rute Pawai Taaruf di jalan-jalan protokol. Start dimulai dari Alun-alun Taman Merdeka (ATM) biasanya ke kiri ke Jl. Merdeka (SMK N 1 Pangkalpinang) atau Jl. Jenderal Sudirman trus belok kiri di simpang tiga RS. Bhakti Timah menuju Jl. Ahmad Yani. Sampai di simpang empat Jl. Masjid Jamik belok ke kiri sampai di simpang empat Ramayana belok ke kiri menuju Jl. Jenderal Sudirman dan kembali lagi ke ATM. Namun, kadang rute berubah sesuai dengan yang telah diatur oleh panitia.

Pawai Taaruf ini sangat meriah seperti pada saat pawai karnaval “Festival Telur Seroja” maupun karnaval 17-an. Masyarakat sangat atusias menonton Pawai Taaruf ini. Tak sedikit yang melambaikan tangan ke arah kelompok peserta pawai dari keluarga atau instansinya.

Meminta dan Memberi Maaf

Tradisi meminta dan memberi maaf atau sering disebut dengan bermaaf-maafan tak hanya ada di Idul Fitri atau Lebaran saja di kota ini. Saat berakhirnya bulan Sya’ban pada kalender Islam, masyarakat Muslim saling bermaaf-maafan satu dengan lainnya. Bermaaf-maafan memang dianjurkan sebelum menunaikan ibadah puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadan.

Masyarakat saling bermaaf-maafan dengan berjabat tangan ke tetangga terdekat. Tak hanya itu saja tradisi meminta maaf ini juga dilakukan di tempat kerja, misal dengan teman atau rekan kerja sekantor.

Di sekolah-sekolah, tradisi meminta dan memberi maaf sebelum datangnya Ramadan dilakukan juga. Sehari menjelang puasa Ramadan para siswa berjabat tangan dengan mencium tangan gurunya. Siswa juga saling bersalaman dengan teman-teman satu sekolahnya. Acara meminta dan memberi maaf di sekolah ini rutin dilakukan dan dipandu oleh guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut.

Seiring dengan perkembangan teknologi, acara meminta dan memberi maaf ini juga dilakukan menggunakan gadget atau ponsel. Pesan singkat (SMS) dan panggilan (telepon) dilakukan guna meminta dan memberi maaf kepada saudara-saudara muslimnya baik di Kota Pangkalpinang maupun di luar yang tidak bisa bertemu.

Media sosial seperti Facebook dan Twitter juga digunakan sebagai sarana untuk bermaaf-maafan. Aplikasi chat seperti BlackBerry Mesenger (BBM) dan WhatsApp (WA) menjadi tren tersendiri bagi pengguna smartphone dalam berbagi maaf sebelum berpuasa.

Tradisi ini sebaiknya tetap dijaga. Jangan sampai anak dan cucu kita nanti tidak pernah mengetahui hal-hal baik yang pernah dilakukan oleh orang tuanya, termasuk dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Iklan