Sebaiknya Zonasi Menghargai Prestasi


Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) setiap tahunnya diwarnai dengan kekecewaan. Banyak faktor yang membuat para orang tua calon siswa baru kecewa. Namun, pada dua tahun belakangan ini mereka dikecewakan dengan nilai Ujian Nasional (UN) anaknya tang tinggi namun tidak bisa diterima di sekolah negeri yang diinginkan. Pada hal tahun-tahun sebemumnya nilai UN seperti ini bisa diterima tanpa ada syarat lain dan nilai UN berada pada peringkat di atas.

Kekecewaan para orang tua calon siswa baru ini sangat mendasar, karena aturan baru pada PPDB. Sistem zonasi yang membuat calon siswa baru ini sangat kecewa karena tidak bisa diterima di sekolah negeri yang sudah sejak lama dipersiapkan dengan cara belajar giat. Namun apa daya nilai UN tidak lagi menjadi penentu utama diterimanya seorang calon siswa baru.

Jarak rumah dengan sekolah yang didaftar adalah parameter seorang calon siswa baru diterima atau tidak. Nilai seberapapun akan diterima, yang penting jarak rumah dengan sekolah berada pada zona yang telah ditentukan oleh kuota pendaftar. Semakin dekat jarak rumah dengan pendaftar, maka semakin besar pula peluang diterima.

Dengan patokan jarak rumah ini, maka ada saja celah yang dimanfaatkan oleh orang tua supaya anaknya diterima di sekolah yang diinginkan meskipun rumahnya jauh. Misalnya saja minimal setahun sebelum ada PPDB, anaknya dicarikan surat domisili dari pemerintah setempat di tempat keluarga, saudara, teman atau siapa saja yang rumahnya dekat dengan sekolah negeri yang diinginkan.

Jika sistem zonasi yang dijadikan patokan hanya jarak rumah, maka akan ada anak yang tidak bisa bersekolah di sekolah negeri meskipun nilai UN tinggi. Jika di kota penduduknya padat dan jarak rumah ke sekolah yang didaftar kurang dari 1 km saja yang bisa diterima, maka di daerah atau kabupaten ada yang penduduknya sangat jauh dari sekolah. Ada yang penduduknya padat di sekitar sekolah negeri, namun ada yang sangat jauh dari sekolah negeri manapun meskipun masih dalam satu kecamatan.

Jika ada anak yang berada di jarak yang sangat jauh dari sekolah negeri meskipun masih dalam satu kecamatan, bisa saja anak ini tidak bisa diterima di sekolah negeri. Jika terjadi hal demikian, maka anak yang nilai UN tinggi pun tidak dihargai. Salah satu alasan memperebutkan sekolah negeri karena biaya yang lebih rendah dengan fasilitas yang baik. Alasan lain adalah status sekolah negeri saat ini masih sangat diinginkan oleh masyarakat dari pada sekolah swasta.

Alasan biaya yang tinggi di sekolah swasta membuat sekolah negeri jadi rebutan. Jika seorang anak karena jarak rumah yang jauh dari sekolah negeri meskipun nilai UN tinggi tidak bisa bersekolah di sekolah negeri, maka ini sangat disayangkan. Apalagi jika anak tersebut dari orang tua yang kurang mampu.

Tidakkah ada cara lain supaya sistem zonasi ini juga menghargai prestasi anak? Prestasi dalam hal ini bukan saja prestasi karena anak tersebut memiliki berbagai penghargaan atau juara baik akademik maupun nonakademik. Namun, presatasi yang dimaksud di sini adalah hasil belajar siswa selama menempun pendidikan di jenjang sebelumnya, yaitu nilai UN. Misal jika ingin masuk ke jenjang SMP, maka nilai UN dari SD/MI dan jika ingin masuk ke SMA maka nilai UN SMP/MTs.

Dengan adanya penghargaan pada nilai UN ini, maka anak akan tetap bersemangat dalam belajar. Dengan demikian, mutu pendidikan pun akan terjaga dengan baik, bukan asal-asalan. Dengan adanya sistem zonasi ini anak menjadi pemalas karena nilai UN tinggi pun tidak akan diterima karena jarak rumah yang sangat jauh dari sekolah, kalah dengan anak dengan nilai UN rendah namun jarak rumah ke sekolah sangat dekat.

Sebaiknya zonasi bukan saja berpatokan pada jarak sekolah yang dekat saja, namun juga nilai UN. Misal zonasi berlaku pada satu kecamatan untuk SMP. Dalam satu kecamatan ada satu sampai tiga SMP negeri. Biar masyarakat yang menilai sekolah mana yang dianggap unggul. Penilaian masyarakat ini karena seringnya sekolah tersebut juara dalam berbagai perlombaan baik akademik maupun nonakademik dan hasil nilai UN tiap tahun lulusan dari sekolah tersebut yang memuaskan.

Misalnya seorang anak bertempat tinggal di kecamatan A lulusan dari SD di kecamatan tersebut. Terdapat tiga SMP negeri, yaitu SMP Negeri A1, SMP Negeri A2, dan SMP Negeri A3. Maka anak tersebut berada pada zona kecamatan A. Misal yang mendaftar di SMP Negeri A1 sangat membludak semuanya dari anak-anak di kecamatan A, maka yang dijadikan patokan adalah nilai UN. Nilai UN diranking, sehingga anak yang tidak masuk dalam kuota SMP Negeri A1 bisa mendaftar di SMP Negeri A2 atau SMP Negeri A3.

Meskipun ada anak yang rumahnya jauh dari SMP Negeri A1, jika nilai UN tinggi maka bisa diterima di SMP Negeri A1. Sebaliknya jika ada anak yang nilai UN sangat rendah dan rumahnya sangat dekat dengan sekolah, maka anak tersebut tidak bisa diterima di SMP Negeri A1. Jadi bukan hanya berdasarkan jarak rumah saja. Dengan demikian para orang tua dan anak juga tidak kecewa. Sistem zonasi yang seperi ini yang membuat anak tetap semangat dalam belajar.

Untuk tingkat SMA, maka zonasi tidak hanya ditetapkan pada satu kecamatan saja, namun beberapa kecamatan, karena di beberapa daerah dalam satu kecamatan rata-rata hanya ada satu SMA negeri, bahkan ada kecamatan yang tidak ada SMA negeri. Caranya sama seperti pada contoh jenjang SMP di atas, nilai UN tetap dikedepankan. Yang penting calon siswa masih berdomisili di zona beberapa kecamatan yang telah ditentukan.

Dengan adanya zonasi yang menghargai prestasi hasil belajar siswa, maka anak tetap bersemangat dalam belajar. Dengan demikian mutu pendidikan tetap terjaga dan semakin meningkat. Jangan sampai karena zonasi justru malah mutu pendidikan menjadi mundur.

2 responses

  1. saya salah satu yang tidak setuju dengan model model beginian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: