Wanita-wanita Tangguh Penanam Padi di Ceper



Bagi Anda yang berada di kota, apalagi di kota besar tentu merindukan sejuk dan segarnya udara. Di kota, udara seperti ini susah untuk didapatkan. Hal ini dikarenakan banyak kendaraan bermotor dan pabrik yang menyebabkan polusi udara di kota.

Berbeda dengan suasana pedesaan yang masih segar. Apalagi jika pedesaan yang jauh dari kota. Meskipun jauh dari kota, namun itulah yang menyebabkan suasana pedesaan tenang dan udaranya masih bersih.

Salah satu suasana pedesaan tersebut berada di desa-desa yang ada di Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ceper memang terkenal dengan industri logam. Banyak perusahaan dan home industri pengecoran logam seperti baja dan industri pembuatan peralatan rumah tangga dari seng dan logam lainnya.

Namun, bukan berarti Ceper daerah yang udaranya sudah tercemar. Di sini masih banyak sawah yang subur untuk ditanami. Sayangnya, sebagian tanah yang subur ada yang beralih fungsi menjadi pabrik.

Pada hari Sabtu, seminggu sebelum tulisan ini dipostingkan saya jalan-jalan menyusuri sawah-sawah. Jalan kaki dari satu desa ke desa yang lain yang masih berbatasan dengan kecamatan Pedan. Di sini memang tidak ada industri seperti di daerah Ceper yang lain.

Udara pagi yang sejuk ditambah penduduknya yang ramah membuat siapa saja betah jalan-jalan di sini. Setiap penduduk yang saya temui di jalan mereka selalu menyapa, meskipun tidak saling mengenal. “Monggo pak” atau “Monggo bu” atau “Monggo mas” atau “Monggo mbak”. Paling tidak itu yang mereka ucapkan. Ditambah lagi senyuman khas masyarakat prdesaan yang mempesona.

Meskipun di desa, namun jalan-jalan di pemukiman sudah bagus. Pengerasan jalan sudah menggunakan beton. Begitu juga dengan jalan-jalan yang ada di persawahan.
Sayangnya gunung Merapi dan Merbabu yang biasanya nampak, pagi itu tak bisa terlihat dengan jelas. Ini disebabkan di kedua gunung tersebut tertutup awan. Namun demikian di Ceper cuaca cerah, matahari bersinar dengan terangnya.

Saat jalan-jalan bersama teman-teman saya sekitar pukul tujuh, sawah-sawah di sini sedang musim tanam. Ada yang sudah meminggu umur padi yang ditanam. Ada yang baru dua hari. Ada pula yang sedang ditanam.

Para wanitalah yang menanam padi. Saya berhasil mengabadikan foto-foto para wanita yang sedang menanam padi. “Tandur” adalah sebutan untuk menanam padi. “Tandur” dalam Bahasa Jawa diartikan “noto karo mundur” yang artinya “menata dengan mundur”. Memang teknik menanam padi kebanyakan di sini mundur kebelakang, sehingga padi yang telah ditanam tidak terinjak.

Tandur dilakukan dengan cara berkelompok. Biasanya ada empat sampai enam orang dalam tiap kelompok. Banyaknya anggota kelompok disesuaikan menurut kebutuhan dan luasnya sawah yang akan ditanami padi.
Alat yang digunakan namanya “blak”. Blak adalah alat yang digunakan untuk menanam padi supaya lurus, sehingga rapi. Tak hanya sedap dipandang saja tanaman padinya, namun dengan blak ini jarak tanam bisa sama. Hal ini bisa memudahkan saat menyiangi rumput, melakukan pemupukan atau penyemprotan tanaman.

Beberapa wanita yang pada saat tandur saya ambil gambarnya mengatakan “awake dewe dipoto yu” yang artinya “kita difoto yu”. Kata “yu” adalah kata sapaan untuk menyapa dari orang umurnya lebih muda ke wanita yang umurnya lebih tua, atau menurut silsilah tertentu pada keluarga di Jawa Tengah. Mereka sangat senang saya ambil gambarnya.

Untuk mengatasi kejenuhan dan lelah saat bekerja, mereka ngobrol. Dari kejauhan sebelum saya mengambil gambar, mereka asyik mengobrol. Yang diobrolkan seputar dapur, hajatan tetangga, dan obrolan-obrolan lain yang merupakan suasana pedesaan di Ceper.
Jika Anda berangkat kerja pukul lima atau enam pagi, maka Anda kalah dengan ibu-ibu yang tandur di sini. Mereka melakukan tandur setelah subuh, itu artinya sebelum jam lima pagi. Bahkan ada yang memulai tandur jam satu. Matahari terbit atau paling lambat jam delapan pagi mereka sudah pulang. Harapannya bisa mengerjakan pekerjaan yang lain.

Saya juga bisa mendapat kesempatan mengambil gambar para wanita tangguh ini sedang sarapan. Waduh enaknya sarapan di tengah sawah. Pengin banget rasanya, namun harus saya tahan dulu.

Saat saya ambil gambarnya, mereka malu-malu. “Mas, sarapan ngene wae kok dipoto” yang artinya “Mas, sarapan seperti ini saja kok difoto”.
Meskipun malu, namun saya diijinkan mengambil gambar saat mereka sarapan. Menu sarapan bukanlah istimewa, namun bagi saya ini adalah sangat istimewa.

Menu sarapan yang sederhana namun menjadi istimewa tatkala suasananya di sawah seperti ini. Nasi putih dengan gudangan atau urap. Lauknya tempe dan tahu bacem. Tambah nikmat lagi minumnya teh tubruk melati yang ditempatkan pada ketel dari aluminium. Teh tubruk dituangkan ke dalam gelas belimbing dan diminum saat masih hangat.

Mereka menyantap sarapan ini sambil duduk di pematang sawah. Kaki mereka pun masih berlumuran lumpur sawah. Sambil makan obrolan yang tadi dilanjutkan lagi dengan topik yang lain, namun masih seputar topik ibu-ibu khas pedesaan.

Menu istimewa seperti ini tidak ada di restoran manapun. Ternyata kebahagiaan itu tidak susah, namun tidak mudah juga untuk mendapatkannya. Bagi orang di desa menu seperti ini sudah menjadi tradisi.

Iklan

6 responses

  1. Wah asik banget tu. Di kota ga bakalan bisa dapet pemandangan seperti itu. Makan di tengah sawah, minumnya teh melati yang harum. Wuih nikmat banget. Bikin ngiri…

  2. I have just learned new insights through your page. Oh my goodness! A excellent article. This information is great.

  3. You really should be doing this for a job. Do you have you tube videos on the subject? When I opened my Iphone your website was already loaded.

    1. Sory, I don’t have it. I only take pictures.

  4. Hello from North Carolina. Neat website. You’re obviously very knowledgeable. Any insights would be greatly appreciated. I actually felt my brain growing when I browsed your website.

  5. You should really be thanked for your work way more than you are. So thank you! You need to take part in a contest for one of the most helpful blog on the internet. Can you someday tell us more about thistopic?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: