Tiga Tradisi Ruwahan Unik di Tegalampel


Makanan siap santap dari weweh tetangga

Setiap daerah mempunyai tradisi tersendiri dalam acara tahunan. Termasuk tradisi bulan Ruwah (dalam kalender Jawa) atau Sya’ban (dalam kalender Islam). Berbagai daerah di Indonesia, bahkan dunia memiliki tradisi unik yang terus dilestarikan dari masa ke masa, meskipun jaman sudah modern menyambut datangnya bulan Ramadan.

Termasuk tradisi Ruwahan di Desa Tegalampel, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Seperti halnya tradisi Ruwahan di berbagai daerah di Jawa Tengah, di Tegalampel punya tradisi yang mirip dengan daerah lain, namun ada yang berbeda.

Nyadran
Nyadaran adalah tradisi turun-temurun yang dilaksanakan pada bulan Ruwah akhir, biasanya mulai tanggal 21 Ruwah sampai menjelang bulan Poso (kalender Jawa) atau Ramadan (kalender Islam).

Menurut Wikipedia, Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, sraddha yang artinya keyakinan. Nyadran adalah tradisi pembersihan makam oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan. Dalam bahasa Jawa, Nyadran berasal dari kata sadran yang artiya ruwah syakban. Nyadran adalah suatu rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur.

Pada tradisi Nyadran di Tegalampel, dimulai dengan bersih makam. Sebelum bersih makam diadakan rapat tiap RT. Dalam rapat ini diputuskan kapan dilaksanakan bersih makam, trus apa saja yang harus dibenahi, berapa butuh dananya seperti mengecat pagar makam, dan dana kenduri (kondangan), serta hal-hal lain yang diperlukan.

Bersih makam biasanya dilakukan pada hari libur atau tanggal merah seperti hari Minggu, karena pada hari Minggu penduduk libur bekerja baik yang bekerja di pabrik maupun pegawai negeri. Kebanyakan yang membersihkan makam adalah kaum laki-laki, namun hal ini tidak berlaku di RT 07, RW 04. Baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda kerja bhakti gotong-royong bersama membersihkan makam.

Untuk konsumsi, penduduk dengan sukarela membawa berbagai makanan dan minuman. Ada yang membawa aneka gorengan seperti bakwan, mendoan, dll. Ada juga yang membawa buah seperti semangka, melon, pisang, serta makanan yang lainnya. Untuk minuman ada yang menyediakan teh manis, air putih, sirup, baik panas maupun dalam bentuk dingin.

Setelah makam dibersihkan, anggota keluarga yang keluarganya (leluhurnya) dimakamkan di situ melakukan ‘nyekar’. Nyekar adalah pergi kemakam dengan membawa bunga, biasanya bunga tabur seperti mawar, melati, dan kenanga. Setelah berdoa dan membaca berbagai ayat suci Al Qur’an atau sesuai dengan keyakinannya, maka bunga kemudian ditaburkan di atas nisan atau makam.

Tradisi nyadran ditutup dengan kenduri ‘kondangan’. Tempat yang digunakan untuk kondangan ini di depan makam. Hampir setiap makam memiliki tempat tersendiri yang dibangun ada atapnya untuk acara seperti kondangan nyadran setiap tahun. Pada acara kondangan ini penduduk laki-laki ke makam kemudian berdoa. Sementara yang perempuan menyiapkan makanan dan minuman. Setelah doa selesai maka diadakan acara makan bersama. Di sini ada ‘ingkung’, yaitu ayam jantan yang disembelih, setelah dibersihkan bulu dan dibuang kotoran dan jeroannya, dimasak secara utuh. Ingkung ini dimakan bersama-sama saat selesai berdoa bersama dengan nasi dan lauk lainnya.

Jika banyak makam berada di tempat terpencil atau jauh dari pemukiman, maka berbeda dengan di Tegalampel. Makam-makam di sini sangat berdekatan dengan pemukiman penduduk. Satu, dua, atau tiga RT memiliki makam sendiri. Jadi di desa ini banyak dijumpai makam. Letak antara makam satu dengan lainnya saling berdekatan, bahkan ada yang kurang dari 50 m.

Weweh
Tradisi pada bulan Ruwah di Tegalampel yang lainnya adalah weweh. Weweh atau memberikan makanan sebagai rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa kepada tetangga. Jadi weweh adalah sedekah yang berwujud makanan siap dimakan.

Makanan yang biasanya dibuat weweh yang utama adalah nasi putih. Untuk lauknya bisa ayam goreng, bandeng, telur bebek atau ayam, kerupuk, tahu, tempe, bakmi goreng, dll. Sementara sayurnya adalah ‘jangan lombok’, yaitu sayur kentang atau sambal goreng kentang dengan ‘cecek’ atau kerupuk kulit sapi yang ditambahkan pada sayur. Ada juga sayur lainnya yang bersantan. Tak lupa ada makanan tradisional seperti nogosari, lemper, karanggesing, tape, meniran, kue jahe tradisional, dll. Makanan-makanan tersebut biasanya ditempatkan dalam wadah ‘cething’ palstik atau ‘besek’. Sekitar pukul 06.00 WIB sudah dibagikan ke tetangga dekat dan saudara atau keluarga yang rumahnya masih dekat. Jadi bisa untuk sarapan dan untuk makan siang.

Tradisi weweh biasanya dilakukan oleh mereka yang sudah berkeluarga dan punya anak. Kebanyakan yang sudah tua. Keluarga muda biasanya jarang melakukan weweh makanan siap santap ini. Namun, keluarga muda yang pada saat Ruwah diberi weweh akan membalas pada saat lebaran dengan berkunjung ke yang lebih tua dengan weweh yang berupa makanan atau bahan makanan lain seperti gula, teh, roti kaleng, minyak goreng, dll.

Wayangan
Tradisi lain di Tegalampel saat Ruwah adalah pagelaran wayang kulit atau wayangan. Pagelaran wayang kulit ini biasanya dilakukan beberapa hari menjelang Poso atau bulan Ramadan. Pagelaran wayang dilakukan siang dan malam. Tempat pagelaran wayang di sebuah pendopo di depan masjid yang memang dibangun khusus untuk pagelaran wayang setiap tahun.

Tontonan wayang kulit semalam suntuk ini tidak hanya menjadi hiburan penduduk Tegalampel saja, namun juga penduduk desa-desa tetangganya seperti Karangtalun, Kupang, Babadan, dll. Mereka tumpah ruah jadi satu menonton wayang terutama pada pagelaran di malam hari.

Dana untuk wayangan adalah swadana dari masyarakat. Setiap keluarga yang memiliki tanah dengan luas tertentu maka akan diberi kewajiban membayar lebih dari pada penduduk biasa. Hal ini juga berlaku untuk penduduk yang berprofesi sebagai pegawai negeri. Dana biasanya dihimpun oleh ketua RT. Penduduk yang bekerja atau sudah berada di luar Tegalampel yang berkecukupan secara ekonomi biasanya diberi tahu dan akan menyumbang.

Ketiga tradisi tersebut telah dilaksanakan penduduk Tegalampel dari tahun ke tahun sejak dulu. Entah sejak kapan tradisi ini dimulai, yang jelas ada pelajaran berharga yang patut kita tiru. Kebersamaan dalam keberagaman adalah kunci utama tradisi ini bisa bertahan sampai sekarang. Hidup rukun dan damai meskipun berbeda keyakinan. Karena tidak hanya penduduk yang beragama Islam saja yang melaksanakan tradisi ini, namun juga yang penganut agama lain, terutama pada Nyadran dan Wayangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: