Serunya Belajar Buat Keramik Tradisional di Desa Melikan


img_20170214_091054Jika di rumah Anda terdapat peralatan rumah tangga dari tanah liat maka mungkin asalnya dari Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten, Jawa Tengah. Berbagai peralatan rumah tangga seperti wajan, piring, aksesoris, guci, sampai meja dan kursi diproduksi di sini dengan bahan tanah liat. Di desa ini 400 Kepala Keluarga (KK) berprofesi sebagai pengrajin gerabah.

Anda mungkin tidak pernah membayangkan peralatan seperti itu bisa digunakan setelah menempuh proses yang amat panjang. Kami ajak Anda berkunjung di salah satu pengrajin gerabah yang sudah dikenal. Namanya Bapak Tri Wiyono yang berada di Dusun Sayangan RT 01 RW 01, Desa Melikan, namun masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Pak Tri Pedan. Hal ini karena pria yang menekuni usaha gerabah ini berasal dari Kecamatan Pedan, Klaten. Kerajinan gerabah Pak Tri Pedan diberi nama atau merk ELVI KERAMIK (EK).

Jika Anda ke sini sebaiknya berramai-ramai, karena jika Anda rombongan nanti bisa belajar bagaimana cara membuat gerabah. Di sini jadwal kunjungan padat, tak hanya anak sekolah dari SD sampai SMA sederajat saja, namun juga dari perguruan tinggi. Mahasiswa yang berkunjung ke EK umunya ingin belajar atau magang. Harus membuat janji dulu jika berkunjung secara rombongan, karena jadwalnya padat. Jika Anda ingin membuat janji dengan Pak Tri Pedan, ini nomor ponsel yang bisa dihubungi +6285643607975.

Kami rombongan dengan berjumlah 4 orang dewasa dan 34 anak. Kami yang dewasa mengawasi anak-anak. Anak-anak dibagi per kelompok 4 atau 5 orang. Di sini pertama anak-anak diberi materi teori tentang sejarah perkembangan gerabah sampai dengan cara memproduksi gerabah dari awal sampai finishing.

Pak Tri Pedan membuka usaha gerabah di Melikan sejak tahun 2000. Kata Pak Tri Pedan, gerabah lebih banyak dikenal dengan nama populer Keramik Tradisional (KT). Pria yang anaknya menempuh pendidikan di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) jurusan pendidikan seni rupa ini memiliki 4 orang karyawan.

Produksi KT dari desa Melikan ini dipasarkan selain di show room juga banyak pesanan tak hanya dalam di Klaten saja, namun banyak yang dari luar Klaten. Yogyakarta, Solo, Bali, Semarang, Jakarta, dan Sulawesi adalah pelanggan KT dari Melikan. Mereka yang memesan selain toko galeri seni juga dari hotel. Tak hanya dalam negeri saja, ternyata produk KT dari desa ini juga diekspor ke Australia.

Sejarah Desa Melikan sebagai sentra produksi KT menurut Pak Tri Pedan dimulai ketika Sunan Pandanaran saat itu dirampok di daerah Salatiga, Jawa Tengah. Sunan Pandanaran membuat guci yang berbentuk gentong yang disebut dengan Gentong Sinogo. Sejak itu masyarakat membuat gerabah seperti kendi, anglo (tungku), cobek, dan berbagai peralatan dapur lainnya.

Pada tahun 1990 kerajinan gerabah tersentuh seni modern, dan saat itu dikenal industri keramik tradisional. Saat itu dibuat satu set teko yang terdiri dari 3 cangkir dengan tutupnya, teko dengan tutupnya, dan nampan. Teko ini biasanya digunakan untuk penyajian minum teh. Baru tahun 1996 produksi ditingkatkan tak hanya teko saja, namun juga seni terracotta.

Kami masih bingung antara gerabah, keramik, dan porselin, maka kami pun bertanya apa perbedaan ketiganya. Pak Tri Pedan menjelaskan bahwa ketiganya terbuat dari tanah liat, yang membedakan adalah pembakaran pada masing-masing jenis berbeda suhunya. Gerabah dibakar pada suhu 1000 derajat Celcius, termasuk batu bata. Sementara keramik dibakar pada suhu 1000 – 1500 derajat Celcius, sedangkan porselin dibakar pada suhu 1250 – 1500 derajat Celcius. Yang termasuk porselin seperti isolator kabel pada tiang listrik, dan piring yang terbuat dari tanah putih.

Proses pengolahan tanah liat

Pada proses ini dibagi menjadi 4:
1. Mencari bahan baku
Bahan baku adalah tanah merah, tanah kuning, tanah hitam, dan pasir halus (ladu) dicampur menjadi satu. Perbandingan keempat bahan tersebut adalah 2:3:5:2 di EK, di tempat lain bisa berbeda, tergantung pesanan dan selera masing-masing produsen.

2. Pencampuran bahan
Semua bahan tadi diaduk menjadi satu dengan bantuan alat cangkul. Sambil diaduk, sedikit demi sedikit ditambahkan air secukupnya sampai adonan lembek.

3. Bahan digiling
Adonan digiling ke dalam mesin penggiling tanah liat atau molen. Untuk mendapatkan hasil yang halus adonan digiling sampai empat kali.

4. Ditutup plastik
Adonan yang sudah jadi ditutup dengan plastik. Tujuan penutupan dengan plastik adalah agar kelembapan terjaga. Jika menutupnya rapat, maka adonan bisa bertahan 2 – 3 bulan tidak kering.

Proses Produksi

Pada proses produksi ini ada 3 teknik yang digunakan yaitu putar tegal, putar miring, dan cetak.

1. Tektik putar tegak
img_20170214_105956Alat digunakan dari semen cor. Kelebihan teknik ini bisa membuat barang yang besar dengan diameter lebih dari satu meter. Namun, kekurangannya adalah produksi agak lambat. Cara membuat tanah disusun di atas meja putaran tegak, ditekan sampai tipis, kemudian dibentuk sesuai dengan keinginan. Meja putar tegak diputar dengan menggunakan tangan.

2. Teknik putar miring
img_20170214_093634Alat dibuat dari kayu tebal. Kelebihan tek ini adalah produksi barang lebih cepat bila dibandingkan dengan teknik putar tegak. Namun kekurangannya adalah barang yang diproduksi ukurannya lebih kecil, diameter maksimal 35 cm dengan ketinggian 15 cm. Cara membuat tanah dibentuk bulat kemudian diletakkan di atas meja putar miring kemudian ditekan sesuai dengan keinginan. Kaki kiri digunakan untuk memutar meja putar miring.

3. Teknik cetak
img_20170214_095849Alat dibuat dari gibsum, kayu, semen, fiber, silikon, karet, dll. Banyak digunakan dari gipsum karena bahan lebih ringan, namun mudah pecah. Kelebihan dari teknik ini adalah mampu memproduksi barang berbagai model sesuai dengan cetakan seperti kotak, oval, segitiga, dll. Kekurangan teknik ini produksinya juga lambat. Cara membuat tanah dibentuk, dipotong-potong seperti plat atau lapisan-lapisan. Lapisan dimasukkan pada cetakan, ditekan dan dihaluskan. Cetakan dijadikan satu, disambung rapat, kemudian dilepas. Cetakan dibuka tinggal dihaluskan (finishing).

Pembakaran

Barang yang dihasilkan dari ketiga teknik di atas kemudian dijemur sampai kering. Lama penjemuran sesuai dengan kondisi cuaca. Jika musim kemarau bisa dua hari, namun jika musim penghujan bisa satu minggu atau lebih.

Setelah kering barang dibakar dengan kayu bakar. Sebelum dibakar barang disusun sedemikian sehingga tersusun rapi dan di atas ditutup rapat dengan genting untuk menahan api. Mulai pengapian dengan api kecil untuk menghilangkan kadar air, proses ini sampai 9 jam, tergantung dari besar kecilnya barang yang dibuat. Setelah barang kering, maka api dibesarkan 2 – 4 jam dengan suhu 1000 derajat Celsius.

Jika ada pesanan terracotta, maka pemanasan dihentikan kemudian didinginkan. Pembakaran alami dilanjutkan dengan pengasapan. Pada proses ini digunakan daun munggur, daun sono, daun kelapa yang diletakkan di mulut tungku pembakaran tanpa ada api, sehingga menimbulkan asap. Hal ini menimbulkan warna alami pada barang. Daun yang dipakai pengasapan yang paling bagus adalah daun munggur.

Finishing

Jika menginginkan warna alami, maka proses pengasapan dengan daun tadi sudah berakhir atau finishing. Setelah dingin barang diambil dari tungku dan dan dilap dengan kain halus. Namun, jika ingin warna tidak alami maka tidak perlu proses pengasapan.

Setelah barang dingin diambil dari tungku kemudian dicat. Ada juga yang ditempel dengan lem, kain batik perca, kulit telur, dll. Teknik pengecatan bervariasi. Selain cara biasa, juga pengecatan saput, motif batu, nirmana (totol-totol pecah), batik tulis dengan cat, dll.

Proses finishing nirmana dengan cara barang diamplas, diberi warna dasar cat tembok (putih), kemudian diberi deterjen atau sampo, lem fox, pigmen dengan bantuan kuas. Air setengah gelas dicampur dengan lem fox, diberi pigmen sesuai warna yang diinginkan kemudian diaduk sampai berbusa. Busa yang muncul diaplikasikan ke barang, setelah busa mengering muncul bintik-bintik yang unik.

Tak hanya teori saja, setelah teori kami diajak oleh asisten Pak Tri keliling desa dan show room yang berada di pinggir jalan raya. Kami yang membeli produk di show room mendapatkan harga yang lebih miring bila dibandingkan dengan pengunjung yang tidak rombongan.

Di perjalanan hampir semua penduduk sibuk dengan profesinya sebagai pengrajin gerabah. Halaman rumah dipenuhi dengan gerabah yang dijemur. Sungguh ini pemandangan yang baru bagi kami. Anak-anak pun senang menikmati wisata seperti ini.

Selesai berkeliling istirahat 10 menit kemudian dimulai dengan praktik. Praktik yang wajib dilakukan anak-anak adalah teknik cetak dan putar tegak yang lebih mudah. Namun, bila ingin teknik putar miring juga diperbolehkan. Kedua asisten Pak Tri dengan senang hati menajari dan memandunya dengan sabar. Tak sedikit anak-anak mencoba teknik putar miring, namun banyak yang gagal. Bahkan kami yang orang dewasa pun mencoba dengan teknik ini hasilnya sangat jauh dari pada yang dicontohkan oleh asisten Pak Tri. Kata pak Tri, jika ingin profesional dengan teknik ini belajar paling tidak 6 bulan.

Setelah selesai praktik, hasil karya anak-anak ditaruh di sebuah rak yang nantinya karya mereka dikeringkan kemudian dibakar. Tak lupa anak-anak harus memberi nama sesuai dengan yang membuatnya. Nanti, setelah selesai pembakaran ada yang mengambil.

Pulang dari Elvi Keramik anak-anak diberi kenang-kenangan celengan dengan motif yang unik, beda dengan yang biasa dijual di pasaran. Kami pendamping anak-anak diberi oleh-oleh kendi. Kami juga membeli beberapa produk KT di show room seperti satu set teko, gelas, wajan, mangkuk, piring, dan cobek.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: