Siswa Baru Tidak Ada MOS Diganti MPLS, Apa Bedanya?


Foto: koranjuri.com

Foto: koranjuri.com

Setiap tahun pelajaran baru siswa baru selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan ‘kewajiban sebagai siswa baru’. Masa Orientasi Siswa (MOS) baru adalah kegiatan yang wajib diikuti oleh siswa baru kelas VII untuk jenjang SMP dan sederajat serta kelas X untuk jenjang SMA dan sederajat.

Kesibukan siswa baru yang harus mentaati segala peraturan dari guru dan kakak seniornya pada saat MOS membuat tak hanya siswa baru saja yang pusing. Orang tua siswa pun dibuat pusing lantaran harus mencarikan barang-barang yang tak jarang tidak masuk akal. Misalnya siswi harus memakai ikat rambut yang berwarna-warni, harus memakai papan nama yang terbuat dari bahan tertentu, kaus kaki yang berbeda untuk kaki kanan dan kiri, harus membawa tas dari bahan tertentu, memakai topi dari bahan tertentu, serta membawa barang-barang lainnya yang tidak mudah untuk mencarinya. Bahkan ada juga siswa yang harus digundul demi bisa mengenyam pendidikan di sekolah yang diinginkan.

Namun itu dulu, sekarang tidak ada lagi MOS. MOS sudah ditiadakan, diganti dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru. Pertanyaannya, apa bedanya antara MOS dan MPLS? Persamaannya keduanya wajib diikuti oleh siswa baru. Namun banyak perbedaan antara MOS dan MPLS. Pelaksanaan MPLS ini berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Permendikbud) Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru.

Pada awal tahun pelajaran, perlu dilakukan MPLS bagi siswa baru. MPLS adalah kegiatan pertama masuk Sekolah untuk pengenalan program, sarana dan prasarana sekolah, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri, dan pembinaan awal kultur Sekolah.

Tujuan dari MPLS yaitu mengenali potensi diri siswa baru; membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan sekitarnya, antara lain terhadap aspek keamanan, fasilitas umum, dan sarana prasarana sekolah; menumbuhkan motivasi, semangat, dan cara belajar efektif sebagai siswa baru; mengembangkan interaksi positif antarsiswa dan warga sekolah lainnya; serta menumbuhkan perilaku positif antara lain kejujuran, kemandirian, sikap saling menghargai, menghormati keanekaragaman dan persatuan, kedisplinan, hidup bersih dan sehat untuk mewujudkan siswa yang memiliki nilai integritas, etos kerja, dan semangat gotong royong.

MPLS hanya di hari sekolah dan pada jam sekolah. MPLS ini hanya dilaksanakan tiga hari saja. Jadi, bagi sekolah yang melaksanakan PLS di luar jam sekolah dan lebih dari tiga hari, maka orang tua siswa berhak menanyakan kepada pihak sekolah.

Perencanaan dan penyelenggaraan kegiatan MPLS hanya menjadi hak guru. Pihak sekolah dilarang melibatkan siswa senior (kakak kelas) dan/atau alumni sebagai penyelenggara. Pengurus OSIS dapat membantu pelaksanaan MPLS dengan bimbingan dan pengawasan dari guru. MPLS harus dilakukan di lingkungan sekolah kecuali sekolah tidak memiliki fasilitas yang memadai. MPLS wajib melakukan kegiatan yang bersifat edukatif. Pelaksanaan MPLS dilarang bersifat perpeloncoan atau tindak kekerasan lainnya dan wajib menggunakan seragam dan atribut resmi dari sekolah.

Pada pelaksanaan MPLS, guru dilarang memberikan tugas kepada siswa baru berupa kegiatan maupun penggunaan atribut yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran siswa. Kegiataan MPLS dapat melibatkan tenaga kependidikan yang relevan dengan materi kegiatan pengenalan lingkungan sekolah. Satu lagi yang harus diketahui oleh orang tua siswa, pelaksanaan MPLS dilarang melakukan pungutan biaya maupun bentuk pungutan lainnya.

Atribut yang dilarang pada saat pelaksanaan MPLS antara lain:
1. Tas karung, tas belanja plastik, dan sejenisnya.
2. Kaos kaki berwarna-warni tidak simetris, dan sejenisnya.
3. Aksesoris di kepala yang tidak wajar.
4. Alas kaki yang tidak wajar.
5. Papan nama yang berbentuk rumit dan menyulitkan dalam pembuatannya dan/atau berisi konten yang tidak bermanfaat.
6. Atribut lainnya yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran.

Adapun aktivitas atau kegiatan yang dilarang pada saat MPLS antara lain:

1. Memberikan tugas kepada siswa baru yang wajib membawa suatu produk dengan merk tertentu.
2. Menghitung sesuatu yang tidak bermanfaat (menghitung nasi, gula, semut, dsb).
3. Memakan dan meminum makanan dan minuman sisa yang bukan milik masing-masing siswa baru.
4. Memberikan hukuman kepada siswa baru yang tidak mendidik seperti menyiramkan air serta hukuman yang bersifat fisik dan/atau mengarah pada tindak kekerasan.
5. Memberikan tugas yang tidak masuk akal seperti berbicara dengan hewan atau tumbuhan serta membawa barang yang sudah tidak diproduksi kembali.
6. Aktivitas lainnya yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran.

Jika ada dugaan pelanggaran pada saat pelaksanaan MPLS, maka siswa, orangtua/wali, dan masyarakat dapat melaporkan kepada Dinas Pendidikan setempat atau Kementerian melalui laman http://sekolahaman.kemdikbud.go.id, telepon ke 021-57903020, 021-5703303, faksimile ke 021-5733125, email ke laporkekerasan@kemdikbud.go.id atau layanan pesan singkat (SMS) ke 0811976929.

5 responses

  1. Permen bagus! Selalu kagum sama Pak Anies. Semoga dengan ini masa orientasi murid baru jadi lebih edukatif dan produktif!

    1. Kenapa tidak dari dulu seperti ini ya?

  2. Apakah MPLS juga disuruh memakai pita di kepala atau membawa kue tradisional kesekolah???

    1. Yang penting tidak membuat repot. Kue tradisional mungkin bisa, karena itu pengenalan kuliner Nusantara. Kalau pita saya kira tidak perlu.

  3. Klo di Madrasah kami 2 tahun ini sdh memakai sistem tersebut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: