Antara GMT 1983 dan 2016 di Indonesia


Foto: cnnindonesia.com

Foto: cnnindonesia.com

Fenomena alam yang jarang terjadi salah satunya adalah gerhana matahari. Terdapat tiga jenis gerhana matahari, yaitu gerhana matahari sebagian, gerhana matahari cincin, dan gerhana matahari total (GMT). Terjadinya GMT ini sangat langka dan ditunggu-tunggu oleh penduduk bumi, termasuk di Indonesia.

Menurut Wikipedia, gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara bumi dan matahari, sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya matahari. Walaupun bulan lebih kecil, bayangan bulan mampu melindungi cahaya matahari sepenuhnya karena bulan yang berjarak rata-rata 384.400 kilometer dari bumi lebih dekat dibandingkan matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer. GMT terjadi apabila saat puncak gerhana, piringan matahari ditutup sepenuhnya oleh piringan bulan. Saat itu, piringan bulan sama besar atau lebih besar dari piringan matahari. Ukuran piringan matahari dan piringan bulan sendiri berubah-ubah tergantung pada masing-masing jarak bumi ke bulan dan bumi ke matahari.

Tak sedikit orang yang harus rela merogoh kocek dalam hanya untuk menyaksikan fenomena GMT yang tidak lebih dari 4 menit lamanya. Mereka rela meninggalkan pekerjaan untuk cuti atau berlibur ke negara yang terjadi GMT. Kesempatan ini tidak disiasiakan oleh negara yang terjadi GMT.

Indonesia adalah negara yang sangat beruntung yang letaknya di lalui garis khatulistiwa yang dilalui GMT. Negara-negara lain yang dilalui khatulistiwa pun tidak mempunyai nasib mujur seperti Indonesia. Oleh karena itu kita perlu bersyukur. Banyak orang asing yang datang ke Indonesia hanya ingin menyaksikan fenomena GMT ini. GMT yang pernah terjadi di Indonesia yang tercatat dalam sejarah sejak Indonesia merdeka ada dua kali. Pertama tanggal 11 Juni 1983 dan kedua 9 Maret 2016.

GMT 1983

Menurut Tempo.co, GMT tahun 1983 melewati sejumlah daerah di Yogyakarta, Semarang, Solo, Kudus, Madiun, Kediri, Surabaya, Makassar, Kendari, dan Papua. Peristiwa alam saat itu berlangsung pukul 11.00 WIB selama enam menit. Sejumlah ilmuwan asing memantau matahari tertutup bulan di Desa Tanjung Kodok, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Selain alamnya yang tampak indah, Tanjung Kedok tepat berada di bawah garis tengah lintasan bayangan gerhana. Waktu kejadiannya pun ketika posisi tertinggi matahari. Menurut para ahli, itu waktu yang sangat menguntungkan karena pandangan menembus lapisan atmosfir bumi yang tertipis.

Amerika Serikat mengirim 30 ilmuwan ke Tanjung Kedok. Mereka meneliti debu matahari yang berkisar di bidang eklipsika dan hanya terlihat di saat gerhana berlangsung. India mendatangkan tujuh ilmuwan. Ilmuwan Jerman ikut memanfaatkan GMT dalam empat rombongan.

Empat ilmuwan Inggris memantau di Desa Cepogo, Kabupaten Boyolali. Jawa Tengah. Mereka meneliti komposisi kimiawi dari debu matahari yang beredar di bidang eluator matahari.

Di Cepu, Jawa Tengah dan Yogyakarta, tim yang terdiri dari tujuh astronom dan 20 astronom amatir, Himpunan Astronom Prancis (SAF) Prancis melanjutkan penelitian terhadap gerhana matahari. Sepuluh tahun sebelumnya, para astronom Prancis ini meneliti gerhana matahari di atas bennua Afrika. Mereka memotret korona matahari.

Sedangkan 21 ilmuwan dari Jepang bekerja di empat lokasi. Selain tiga lokasi di atas, mereka memantau di Watukosek, Mojokerto, Jawa Timur. Tim Jepang meneliti pemotretan korona untuk mengetahui struktur halusnya.

Pada saat gerhana, waktu itu saya masih usia sekitar 5 tahun, jadi masih TK. Meskipun masih kecil saya masih ingat benar ketika terjadi gerhana para penduduk, terutama di daerah pedesaan di Jawa Tengah tidak ada yang keluar rumah. Bahkan lubang jendela yang merupakan akses cahaya masuk pun ditutup dengan korden, jadi nyaris tak ada cahaya. Hanya lampu penerangan dari petromak atau lampu yang berbahan bakar tanah liat yang menerangi ruangan.

Waktu itu di desa-desa belum ada listrik, penerangan hanya dari lampu teplok. Penduduk yang memiliki televisi pun bisa dihitung dengan jari. Kami empat keluarga ngumpul di rumah paman yang masih sekampung kebetulan memiliki televisi. Satu kampung hanya beberapa orang yang memiliki televisi, termasuk paman.

Acara televisi juga hanya satu chanel saja, yaitu TVRI. Penduduk dilarang untuk keluar rumah, larangan ini dikarenakan jika melihata cahaya sinar matahari dapat membuat buta. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan informasi mengenai gerhana adalah dengan menonton siaran di TVRI.Jadi waktu itu suasana mencekam, kampung seperti mati tak berpenduduk.

GMT 2016

Tiga puluh tiga tahun kemudian, ternyata Indonesia dilewati GMT lagi. Namun, suasana GMT pada 2016 sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan tahun 1983. Teknologi sudah berkembang pesat. Masyarakat tidak lagi dilarang keluar rumah, justru di berbagai daerah yang dilewati GMT menggelar acara khusus untuk menyambut GMT. Bahkan acara nonton bareng GMT pun digelar. Bagi yang beragama Islam dianjurkan untuk sholat gerhana.

Tak hanya sekedar menonton terjadinya GMT saja, dalam acara nonton bareng GMT ini di berbagai daerah menggelar acara kuliner, atraksi, dan menampilkan kearifan lokal. Ini adalah momen yang sangat langka, bahkan mungkin seumur hidup sekali. Kesempatan daerah yang dilewati GMT untuk mempromosikan wisata.

Menurut Kompas.com, GMT tahun 2016 melewati Samudra India hingga utara Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat. Jalur gerhana itu selebar 155-160 kilometer dan terentang sejauh 1.200-1.300 kilometer, yang kali ini melintasi 12 provinsi di Indonesia.

Hanya Indonesia saja satu-satunya daratan yang dilewati GMT. Provinsi yang dilewati GMT adalah Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung. Selain itu, semua provinsi di Kalimantan (kecuali Kalimantan Utara), Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara juga dilintasi. Namun, tidak semua daerah di provinsi itu dilintasi jalur totalitas gerhana.

GMT terpendek terjadi di Seai, Pulau Pagai Selatan, Sumatera Barat, selama 1 menit 54 detik dan terpanjang di Maba, Halmahera Timur, Maluku Utara, selama 3 menit 17 detik. Totalitas gerhana terlama terjadi di satu titik di atas Samudra Pasifik di utara Papua Niugini selama 4 menit 9 detik.

Fenomena alam langka itu diburu peneliti dan wisatawan. Data sementara, peneliti Lapan serta Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA) akan mengamati GMT di Maba. Tim Lapan juga akan mengamati di Ternate, Maluku Utara.

Tim Program Studi Astronomi ITB dan Observatorium Bosscha ITB tersebar di sejumlah wilayah. Sejumlah peneliti yang tergabung dalam Universe Awareness (Unawe) Indonesia akan melihat GMT di Poso, Sulawesi Tengah. Sebagian lagi akan meneliti di Tanah Grogot, Kalimantan Timur, dan Belitung, Bangka Belitung.

Adapun peneliti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), peneliti Korea Selatan, dan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta mengamati gerhana di Palu, Sulteng, dan sekitarnya. Jumlah peneliti asing bisa bertambah mengingat sebagian masih mengajukan izin penelitian. Tim BMKG akan meneliti variasi medan magnet Bumi dan anomali gravitasi Bumi selama gerhana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: