Kalau ke Jogja, Kunjungi Juga Benteng Vredeburg


IMG_20151127_053900Daerah Istimewa Yogyakarta (Jogja) adalah kota budaya yang syarat akan nilai-nilai budaya Jawa. Tak hanya itu saja, kota gudeg ini juga menyimpan banyak sejarah bangsa ini. Sejarah perlawanan terhadap penjajah bisa Anda pelajari di kota pelajar ini.

Sejarah raja-raja terutama raja di Jawa melawan penjajahan Belanda maupun Jepang dapat Anda pelajari di Museum Benteng Vredeburg. Museum Benteng Vredeburg terletak di Jl. Jenderal Ahmad Yani No. 6 Kota Yogyakarta. Museum ini dibuka tiap hari Selasa sampai Minggu dari pukul 07.30 sampai dengan 16.00 WIB. Sementara hari Senin adalah hari libur.

Benteng Vredeburg sangat ramai dikunjungi terutama bagi pelajar baik Jogja maupun luar kota. Bahkan turis asing pun tiap hari banyak juga yang berkunjung ke sini. Pada akhir pekan dan liburan sekolah selalu ramai dikunjungi anak-anak sekolah.

Sejarah Singkat Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Minirama Konverensi Inter Indonesia Tahap Pertama di Hotel Toegoe Yogyakarta

Minirama Konverensi Inter Indonesia Tahap Pertama di Hotel Toegoe Yogyakarta

Benteng Vredeburg didirikan terkait lahirnya Kesultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755 berhasil menyelesaikan sengketa antara Susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I) yang merupakan politik Belanda yang selalu ingin campur tangan urusan dalam negeri Raja-raja Jawa.

Pejabat Belanda yang berperan dalam Perjanjian Giyanti adalah Nicolas Hartingh, pejabat Gubernur dari Direktur Pantai Utara Jawa (Gouverneuren Directeur van Java noordkust) sejak Maret 1754. Perjanjian Giyanti ini dibuat oleh Belanda untuk memecah belah Kerajaan Mataram menjadi dua bagian, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Kasunanan Surakarta diperintah oleh Paku Buwono III. Kasultanan Yogyakarta diperintah oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alogo Abdul Rachman Sayidin Panata Gama Khalifatulah I.

Langkah pertama Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah membuka Hutan Beringan yang di dalamnya terdapat dusun Pacetokan untuk membangun kraton. Daerah tersebut disebut dengan Ngayogyakarta Adiningrat (Ngayogyakarta Hadiningrat) dengan ibukota Ngayogyakarta yang sampai sekarang disebut dengan Yogyakarta.

Selain sebagai seorang panglima perang hebat, Sri Sultan Hamengku Buwono I juga seorang ahli bangunan. Kraton Kasultanan Yogyakarta pertama dibagun pada 9 Oktober 1755. Selama dibangunnya kraton, Sultan dan keluarga tinggal di Pasanggrahan Ambarketawang Gamping. Pada hari Kamis Pahing, 7 Oktober 1756 meskipun kraton belum selesai, Sultan dan keluarga menempati kraton. Peresmian kraton ditandai dengan candra sangkala “Dwi Naga Rasa Tunggal” pada 7 Oktober 1756 atau 13 Jimakir 1682 penanggalan Jawa.

Kraton dikelilingi bangunan tembok yang tebal dan di dalamnya dibangun aneka bangunan dengan berbagai fungsi. Bangunan kediaman Sultan dan kerabatnya dinamakan Prabayeksa selesai dibangun pada tahun 1756. Bangunan Sitihinggil dan Pagelaran selesai dibangun pada tahun 1757. Gapura penghubung Dana Pertapa dan Kemagangan selesai dibangun pada tahun 1761 dan 1762. Masjid Agung didirikan pada tahun 1771. Benteng besar yang mengelilingi kraton selesai dibangun pada tahun 1777 dan bangsal kraton selesai pada tahun 1792.

Melihat pesatnya kemajuan bangunan kraton, Belanda mulai khawatir. Belanda mengusulkan kepada Sultan agar diijinkan membangun sebuah benteng di dekat kraton. Dalih pembangunan benteng ini adalah agar Belanda dapat menjaga keamanan kraton dan sekitarnya. Namun, tujuan yang sesungguhnya adalah untuk memudahkan dalam mengontrol perkembangan yang terjadi di dalam kraton.

Berdirinya benteng yang dibuat Belanda tersebut adalah sebagai strategi, intimidasi, penyerangan, dan blokade jika Sultan berpaling muka dan memusuhi Belanda. Permohonan pendirian benteng oleh Belanda dikabulkan Sultan.

Sebelum dibangun benteng (sekarang Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta), tahun 1760 atas permintaan Belanda Sultan telah membangun benteng sederhana yang berbentuk persegi. Pada keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut dengan seleka atau bastion. Oleh Sultan keempat sudut tersebut diberi nama Jayawisesa (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaningprang (sudut barat daya), dan Jayaprayitna (sudut tenggara).

Awalnya bangunan benteng sangat sederhana, terbuat dari tanah liat dengan tiang penyangga dari kayu pohon kelapa dan aren. Bangunan di dalamnya dari bambu dan atap ilalang. Dalam perkembangannya, sewaktu W.H. Ossenberch menggantikan kedudukan Nicolas Hartingh tahun 1765 mengusulkan pada Sultan agar benteng diperkuat menjadi permanen agar lebih menjamin keamaan. Usul tersebut dikabulkan Sulan dengan pengawasan Ir. Frans Haak. Pembangunan benteng dimulai tahun 1767 dan selesai pada tahun 1787. Benteng tersebut diberi nama Rustenburg yang berarti ‘Benteng Peristirahatan’.

Tahun 1867 di Yogyakarta terjadi gempa yang dahsyat, sehingga merobohkan beberapa bangunan besar seperti Gedung Residen, Tugu Pal Putih, dan Benteng Rustenburg. Segera diadakan pembenahan benteng yang rusak. Setelah selesai, bangunan benteng Rustenburg diganti nama menjadi Vredeburg yang berarti “benteng Perdamaian”. Nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dengan Belanda yang pada waktu itu tidak saling menyerang.

Koleksi Museum

Minirama Konferensi Tingkat Menteri Dalam Konferensi Rencana Kolombo XI di Yogyakarta

Minirama Konferensi Tingkat Menteri Dalam Konferensi Rencana Kolombo XI di Yogyakarta

Koleksi Museum Benteng Vredeburg beupa bangunan dan benda-benda sejarah yang ada di museum. Bangunan selokan atau parit dibuat sebagai rintangan paling luar terhadap serangan musuh. Jembatan dibangun untuk menghubungkan antara daerah dalam dan luar benteng. Ada 4 jembatan yang simetris satu dengan yang lainnya yang menghadap ke eempat penjuru (barat, selatan, timur, dan utara). Pada perkembangannya jembatan yang ada di utara ditiadakan, karena dianggap sudah aman dari arah utara.

Koleksi bangunan fisik yang lain tentunya benteng yang berupa tembok yang mengelilingi kompleks Benteng Vredeburg. Pintu gerbang dibangun sebagai jalan keluar masuk ke kompleks benteng. Sama seperti jembatan, awal rencana ada 4 buah kemudian hanya menjadi tiga buah, yaitu pintu gerbang timur, selatan, dan barat. Bagunan-bagunan di bagian tengah Benteng Vredeburg berupa bangsal-bangsal.

Koleksi realita berupa benda nyata, bukan tiruan yang berperan langsung terjadinya peristiwa sejarah masa lalu. Koleksi realita antara lain peralatan rumah tangga, senjata, naskah, pakaian, peralatan dapur, dll.

Koleksi lain berupa miniatur, yaitu tiruan benda dengan memperkecil ukurannya. Koleksi replika yaitu tiruan dari benda koleksi di mana bahan dan ukurannya sama dengan aslinya. Koleksi lain adalah foto dan lukisan yang yang merupakan bukti nyata sejarah Bangsa Indonesia.

Koleksi adegan peristiwa sejarah dalam bentuk minirama, yaitu penggambaran suatu peristiwa dengan sistem tiga dimensi. Sampai saat ini Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta telah berhasil menyajikan adegan peristiwa-peristiwa bersejarah dalam bentuk minirama sebanyak 55 buah yang ditempatkan dalam 4 ruang (Ruang Minirama atau Diorama I, II, III, dan IV).

Minirama Pencegatan Konvoi Tentara Belanda di Daerah Mrisi, Bantul

Minirama Pencegatan Konvoi Tentara Belanda di Daerah Mrisi, Bantul

Ruang minirama I menggambarkan sebagian peristiwa sejarah yang terjadi dalam kurun waktu sejak Perang Diponegoro sampai dengan Masa Pendudukan Jepang di Yogyakarta, sebanyak 11 buah. Ruang minirama II menggambarkan peristiwa sejarah yang terjadi sejak Proklamasi sampai dengan Agresi Militer Belanda I, sebanyak 19 minirama. Ruang minirama III menggambarkan peristiwa sejarah sejak adanya Perjanjian Renville sampai dengan Pengakuan Kedaulatan RIS, sebanyak 18 buah. Ruang minirama IV menggambarkan peristiwa sejarah sejak 1951 sampai dengan 1974, sebanyak 7 buah.

Dalam Museum Benteng Vredeburg terdapat ruang seminar yang menempati Gedung G lantai atas. Gedung ini pada mulanya digunakan sebagai kamar bola (Societeit), tempat para penghuni Benteng Vredeburg mencari hiburan. Sekarang bangunan ini difungsikan sebagai ruang seminar, diskusi, sarasehan, dll yang dapat dimanfaatkan masyarakat umum.

Ada juga ruang pameran temporer yang menempati Gedung E lantai atas. Gedung ini pada mulanya dipergunakan sebagai barak prajurit, terutama yang sudah berkeluarga. Sekarang bangunan ini difungsikan sebagai fasilitas museum untuk pameran temporer yang dapat dimanfaatkan masyarakat umum.

Ruang audio visual menempai Gedung F lantai atas. Gedung ini pada mulanya dipergunakan sebagai ruang pelayanan umum (rumah sakit) bagi penghuni benteng. Sekarang ruang ini difungsiikan sebagai ruang audio visual yang dapat dimanfaatkan untuk pemutaran film, workshop, dll oleh masyarakat umum.

Sementara halaman yang merupakan ruang terbuka yang ada di dalam Benteng Vredeburg semula merupakan fasilitas penghuni benteng untuk mengadakan latihan militer. Namun, sekarang halaman ini dimanfaatkan oleh masyarakat umum untuk kegiatan seperti pasar seni, gelar budaya, dll.

Jadi, bagi pelajar khususnya rugi jika ke Yogyakarta tidak menyempatkan ke Benteng Vredeburg.

One response

  1. Baik Mas, nanti kalau ke Yogya lagi saya pasti akan berkunjung ke Benteng Vredeburg ini…

    Salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: