Cara Siswa Panggil Gurunya & Cara Guru Sebut Dirinya


guru mengajar di kelasGuru adalah orang tua bagi siswa yang ada di sekolah. Dengan demikian, guru juga seharusnya dianggap seperti orang tua kandung. Namun, ada batasan antara guru sebagai orang tua di sekolah dan orang tua kandung siswa sendiri. Meskipun ada batasan, ada juga persamaannya.

Sebagai orang tua pengganti orang tua kandung siswa, guru seharusnya juga dihormati oleh siswa. Dalam semua ajaran agama pasti ada ajaran untuk menghormati orang tua, termasuk juga gurunya. Apa yang diperintahkan oleh guru seharusnya ditaati oleh siswa, tentu perintah yang baik. Tak hanya perintah yang berkaitan dengan belajar dan mengajar di sekolah saja, juga perintah lain yang baik untuk dikerjakan.

Tak hanya sebatas perintah saja yang harus dilakukan oleh siswa dari gurunya, juga cara menyapa atau memanggil gurunya. Cara memanggil guru memang agak berbeda dengan orang tua kandung. Misalnya jika seorang siswa memanggil ayahnya dengan sebutan ‘papa’, maka panggilan tersebut tidak pantas digunakan untuk memanggil guru putra yang ada di sekolahnya. Begitu juga jika seorang siswa memanggil ibunya dengan sebutan ‘mama’, maka panggilan tersebut juga tidak pantas digunakan untuk memanggil guru putri yang ada di sekolahnya.

Lalu, panggilan apa yang seharusnya digunakan siswa untuk memanggil gurunya? Sebenarnya tidak ada aturan atau undang-undang tentang cara memanggil gurunya harus bagimana. Aturan ini hanya sebatas aturan tidak tertulis, namun sudah menjadi kebiasaan.

Kelihatannya masalah sepele, namun cara panggilan siswa pada gurunya bisa berakibat yang luar biasa pada diri siswa. Ini adalah dampak psikologi siswa dan akan selamanya diingat siswa sampai dewasa. Siswa akan mengenangnya bahkan seumur hidupnya. Dampak psikologi ini bisa membuat siswa lebih dekat dengan guru. Jika sudah demikian, maka apa yang diajarkan oleh guru bisa diserap dengan baik. Kedekatan emosi antara guru dan siswa bisa dibangun salah satunya dengan cara bagaimana cara siswa memanggil gurunya.

Antara daerah satu dengan yang lainnya cara menyapa atau memanggil siswa pada gurunya berbeda-beda. Cara memanggil guru ini juga berkaitan dengan jenjang pendidikannya. Perbedaan cara memanggil siswa pada gurunya juga dipengaruhi oleh bahasa derah masing-masing. Pada jenjang Pendidikan Anaka Usia Dini (Paud) atau Taman Kanak-kanan (TK) kebanyakan guru yang mengajar adalah putri. Panggilan untuk guru dari anak bisa ‘Bunda’ atau ‘Ibu’. Begitu juga guru menyebut diri sendiri di depan anak dengan kata ‘Bunda’ atau ‘Ibu’.

Seorang ayah sebaiknya menyebut dirinya sendiri di depan anak-anaknya dengan sebutan ‘ayah’, ‘bapak’, ‘papa’, atau sebutan lain yang sesuai dengan kebiasaan atau sesuai denagn daerah setempat bukan ‘aku’ atau ‘saya’. Begitu juga dengan seorang ibu sebaiknya menyebut dirinya sendiri di depan anak-anaknya dengan sebutan ‘ibu’, ‘bunda’, ‘mama’, atau sebutan lain yang sesuai dengan kebiasaan atau sesuai denagn daerah setempat bukan ‘aku’ atau ‘saya’.

Bagimana dengan guru menyebut diri sendiri di depan siswa-siswinya? Cara menyebut dirinya sendiri bagi guru juga tidak ada aturan atau tidak ada undang-undangnya. Namun, sebaiknya guru juga harus memperhatikan etika dan dampak psikologi yang ditimbulkan bagaimana seorang guru menyebut dirinya sendiri di depan siswa-siswinya.

Sejauh yang saya amati di beberapa daerah ada persamaan dan juga ada perbedaan cara memanggil siswa pada gurunya. Begitu juga cara menyebut diri sendiri seorang guru di depan siswanya ada persamaan dan perbedaan di beberapa daerah.

Saya mengamati dan membuat sebuah survei cara memanggil siswa pada gurunya dan cara guru menyebut diri sendiri di depan siswa-siswinya. Pengamatan saya secara langsung di beberapa daerah yang pernah saya kunjungi atau pada saat ada pelatihan yang diikuti oleh guru yang kebetulan juga saya ikuti. Pelatihan guru tersebut di Jakarta, Yogyakarta, Palembang, Pangkalpinang, dan Semarang antara tahun 2005 sampai 2013.

Pengamatan ini saya catat dalam buku agenda saya. Saya memberikan beberapa pertanyaan kepada mereka tentang cara mereka memanggil dirinya sendiri di depan siswa-siswinya dan cara memanggil siswa pada mereka di sekolah tempat mereka mengajar.

Pengamatan pada saat pelatihan PLPG di Palembang bulan Oktober 2010 dan pelatihan Kurikulum 2013 bulan Desember 2013 di Semarang dimana setiap peserta harus melakukan peer teaching. PLPG matematika SLTA yang ada di Palembang diikuti oleh guru-guru SMA/SMK/MA di daerah Sumatera Bagian Selatan meliputi Propinsi Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, dan Bangka Belitung (Babel). Sementara Pelatihan Kurikulum 2013 di Semarang diikuti oleh 40 guru perwakilan dari kabupaten/kota yang ada di Jawa Tengah.

Pengamatan juga saya lakukan di sekolah tempat saya mengajar sekarang di Klaten, Jawa Tengah dan beberapa sekolah di Klaten mulai bulan September 2011 sampai tulisan ini dibuat.

Sementara, survei yang saya lakukan adalah dengan mengirimkan beberapa pertanyaan ke guru-guru di beberapa daerah di tanah air via pesan singkat (SMS), pesan di BlackBerry Messenger (BBM), Whatsapp (WA), dan via tetepon seluler. Survei ini saya lakukan pada tahun 2015 ke beberapa teman pelatihan (diklat) yang pernah saya ikuti, teman kuliah, dan teman guru di beberapa daerah yang lain, terutama yang ada di wilayah Indonesia bagian barat.

Kesimpulan yang saya dapatkan, di daerah Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel) siswa memanggil guru putra dengan sebutan ‘Bapak’. Sementara siswa memanggil guru putri dengan sebutan ‘Ibu’. Ini adalah hasil survei pelatihan PLPG di Palembang berdasarkan pertanyaan yang saya ajukan pada guru dan pada saat peer teaching di kelas saya dari perwakilan 4 provinsi. Kesimpulan tersebut juga berdasarkan pengamatan saya di Babel, terutama di Kota Pangkalpinang yang merupakan ibukota Babel dari 2005 sampai 2011 saat saya bertugas di sana.

Begitu juga dengan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), kesimpulan sama dengan yang ada di Sumbagsel. Sementara di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng) ada perbedaan dengan yang ada di Sumbagsel dan Jabodetabek cara memanggil guru putra dan putri. Siswa yang bersekolah di kota banyak yang memanggil guru putranya dengan sebutan ‘Bapak’ begitu juga untuk guru putrinya dengan sebutan ‘Ibu’.

Namun, siswa di DIY dan Jateng yang berada di daerah pedesan, cara memanggil gurunya dengan ‘Pak’ atau ‘Bu’ dengan diikuti nama panggilan guru. Sebagai contoh jika seorang guru putra mempunyai panggilan Budi, maka siswa memanggil guru putranya tersebut ‘Pak Budi’. Jika seorang guru putri mempunyai panggilan Tuti, maka siswa memanggil guru putrinya tersebut ‘Bu Tuti’.

Siswa di DIY dan Jateng yang ada di pedesaan kebanyakan juga memanggil guru putranya dengan sebutan ‘Pak Guru’ dan untuk guru putrinya dengan sebutan ‘Bu Guru’. Untuk daerah Sumbagsel dan Jabodetabek jarang dijumpai bahkan belum pernah saya mendengar memanggil gurunya dengan sebutan ‘Pak Guru’ atau ‘Bu Guru’. Hanya sedikit yang memanggil dengan ‘Pak diikuti nama panggilan’ atau ‘Bu diikuti nama panggilan’. Mereka sangat akrab memanggil dengan sebutan ‘Bapak’ atau ‘Ibu’.

Siswa dan guru di DIY dan Jateng terutama di pedesaan tidak menggunakan sebutan ‘Bapak’ atau ‘Ibu’ karena dua faktor. Faktor pertama karena di pedesaan siswa dan guru masih dominan menggunakan bahasa daerah, dalam hal ini Bahasa Jawa. Perlu diketahui, DIY dan Jateng bahasa derah yang digunakan adalah Bahasa Jawa. Ini kebanyakan terjadi pada jenjang SD dan SMP. Dalam Bahasa Jawa, kata ‘Bapak’untuk menyebut orang tua kandung putra dan kata ‘Ibu’ untuk menyebut orang tua kandung putri.

Faktor kedua, di lingkungan sekolah maupun di luar, siswa dan guru jarang menggunakan Bahasa Indonesia, ini terutama di daerah pedesaan. Siswa dan guru belum mengetahui jika kata ‘Bapak’ atau ‘Ibu’ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak hanya bermakna orang tua kandung dari siswa, namun juga kata sapaan yang umum digunakan untuk menyebut orang dewasa.

Kesimpulan penyebutan diri sendiri oleh guru di depan siswanya adalah di daerah Sumbagsel dan Jabodetabek guru menyebut dirinya sendiri dengan sebutan ‘Bapak’ atau ‘Ibu’. Sementara di DIY dan Jateng, terutama di pedesaan menggunakan ‘Saya’, ‘Pak Guru’, ‘Bu Guru’, ‘Pak diikuti nama panggilan’, dan ‘Bu diikuti nama panggilan’. Untuk guru yang ada di kota di DIY dan Jateng sebagian besar menggunakan kata ‘Bapak’ atau ‘Ibu’, namun ada yang masih menggunakan cara seperti yang ada di pedesaan.

Tak hanya sebatas masih menjadi siswa saja, meskipun sudah lulus (alumni), cara memanggil mantan gurunya di sekolah dulu juga masih dengan sebutan ‘Bapak’ atau ‘Ibu’. Begitu juga dengan gurunya banyak yang masih menyebut diri sendiri di depan mantan siswanya dulu dengan kata ‘Bapak’ atau ‘Ibu’. Ini adalah yang saya amati di Babel.

Contoh dalam kalimat cara siswa memanggil gurunya dengan sebutan ‘Bapak’ atau ‘Ibu’ sebagai berikut:
“Bapak tadi sudah ditunggu anak-anak untuk latihan”.
“Ibu tadi sudah ditunggu anak-anak untuk latihan”.

Contoh dalam kalimat cara guru menyebut dirinya sendiri di depan siswanya dengan sebutan ‘Bapak’ atau ‘Ibu’ sebagai berikut:
“Maaf ya terlambat, tadi Bapak ada rapat kecil dengan Bapak kepala sekolah”.
“Maaf ya terlambat, tadi Ibu ada rapat kecil dengan Bapak kepala sekolah”.

Contoh dalam kalimat cara siswa memanggil gurunya dengan sebutan ‘Pak Guru’, ‘Bu Guru’, ‘Pak diikuti nama panggilan’, atau ‘Bu diikuti nama panggilan’ sebagai berikut:
“Pak Guru tadi sudah ditunggu anak-anak untuk latihan”.
“Bu Guru tadi sudah ditunggu anak-anak untuk latihan”.
“Pak Budi tadi sudah ditunggu anak-anak untuk latihan”.
“Bu Tuti tadi sudah ditunggu anak-anak untuk latihan”.

Contoh dalam kalimat cara guru menyebut dirinya sendiri di depan siswanya dengan sebutan ‘Pak Guru’, ‘Bu Guru’, ‘Pak diikuti nama panggilan’, ‘Bu diikuti nama panggilan’, atau ‘saya’ sebagai berikut:
“Maaf ya terlambat, tadi Pak Guru ada rapat kecil dengan Pak kepala sekolah”.
“Maaf ya terlambat, tadi Bu Guru ada rapat kecil dengan Pak kepala sekolah”.
“Maaf ya terlambat, tadi Pak Budi ada rapat kecil dengan Pak kepala sekolah”.
“Maaf ya terlambat, tadi Bu Tuti ada rapat kecil dengan Pak kepala sekolah”.
“Maaf ya terlambat, tadi saya ada rapat kecil dengan Pak kepala sekolah”.

Coba Anda sebagai pembaca bandingkan lebih enak yang mana didengarkan dari beberapa contoh cara siswa memanggil gurunya dan cara guru menyebut dirinya sendiri di depan siswanya.

Meskipun ini berdasarkan pengamatan dan survei yang saya buat, paling tidak saya punya gambaran cara siswa memanggil gurunya dan cara guru menyebut dirinya di depan siswanya di beberapa daerah.

Menurut saya pribadi lebih baik jika guru menyebut dirinya di depan siswa dengan ‘Bapak’ atau ‘Ibu’, guru lebih dekat kepada siswa, terutama secara emosional dan psikologis. Jika Anda sebagai guru, apa yang Anda ucapkan untuk menyebut diri Anda di depan siswa-siswi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: