Tugas Guru Mendidik, Bukan Meneliti


Foto: Google Plus

Foto: Google Plus

Tak sedikit guru resah terutama guru PNS yang sudah bersertifikasi. Keresahan ini karena ada polemik bahwa guru yang tidak bisa naik pangkat Tunjangan Profesi Guru (TPG) tidak akan cair. Selain itu syarat kenaikan pangkat sangat membebani guru. Pasalnya, guru yang ingin naik pangkat harus membuat karya ilmiah. Dalam hal ini guru harus mengadakan penelitian. Penelitian yang disarankan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Keresahan guru ini sangat beralasan, karena tak sedikit guru terutama yang ada di daerah yang yang masih bingung mengenai cara melakukan PTK. Hal ini karena minimnya pelatihan bagi guru. Selain itu Sumber Daya Manusia (SDM) bagi guru-guru juga belum terasah. Sebenarnya bukannya guru tidak mau namun karena beban di pundak guru yang sangat banyak itulah yang membuat guru menjadi sangat terbebani.

Guru yang sudah mengantongi sertifikat pendidik harus mengajar 24 jam tegak dalam seminggu. Jika tidak bisa memenuhi, maka guru harus diberikan tugas tambahan yang setara minimal 24 jam tegak. Baik guru yang mengajar jam tegak 24 jam maupun yang harus mengampu tugas tambahan pekerjaannya juga tidak sedikit. Selain aplikasi di lapangan yang banyak juga administrasi yang banyak menyita waktu guru.

Tak sedikit guru yang merasa bahwa TPG itu bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati dengan senang hati. Beban pekerjaan yang berat ditambah dengan harus melakukan PTK membuat guru menjadi kebingungan. Kalau tidak bisa melaksanakan maka ancamannya guru tidak menerima TPG dan tidak boleh lagi mengajar.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistiyo mengatakan, seperti dikutip dari Republika.co.id (27/06/2015), PGRI sangat mendukung upaya peningkatan profesionalitas guru. Namun, menjadikan meneliti dan menulis karya ilmiah masuk dalam publikasi ilmiah wajib dilaksanakan oleh guru itu memberatkan. “Apalagi jika guru tidak melakukannya lalu dia tidak bisa naik pangkat. Bahkan tunjangan profesinya terancam tidak diberikan, sungguh kebijakan yang keliru dan menyengsarakan guru,” ujar Sulistiyo.

Guru dengan dosen tugasnya memang mendidik anak bangsa, namun ada perbedaan antara guru dan dosen. Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen pasal 1, pengertian Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen pasal 1, pengertian Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 ini jelas ada perbedaan antara guru dan dosen. Tugas utama guru bukan meneliti namun mendidik dan tugas yang berkaitan dengan mendidik. Pada Undang-undang tersebut juga tidak dikatakan guru mempunyai tugas meneliti. Sedangkan dosen salah satu tugasnya adalah meneliti. Dosen juga sebagai ilmuan, jadi wajar jika dosen harus mengadakan penelitian. Jadi jelas tidak boleh dipaksakan bahwa guru harus melakukan penelitian. Jika memang ada guru yang melakukan penelitian, maka ini adalah nilai tambah bagi guru yang bersangkutan.

Beban mengajar guru yang sudah bersertifikasi minimal 24 jam tatap muka dan paling banyak 40 jam tatap muka. Satu jam pelajaran untuk SD dan sederajat 35 menit, untuk SMP dan sederajat 40 menit, dan untuk SMA dan sederajat 45 menit. Jika dihitung secara matematik, maka beban guru SD dan sederajat adalah 35 menit x 24 = 840 menit. Untuk guru SMP dan sederajat adalah 40 menit x 24 = 960 menit. Sementara untuk guru SMA dan sederajat mempunyai beban 45 menit x 24 = 1080 menit.

Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2009 Tentang Dosen menyebutkan bahwa dosen melaksanakan tridarma perguruan tinggi beban kerjanya sepadan dengan 12 SKS dan paling banyak 16 SKS tiap semester. Beban kerja pendidikan dan penelitian paling sedikit sepadan dengan 9 SKS yang dilaksanakan di perguruan tinggi yang bersangkutan. Satu SKS untuk perguruan tinggi diambil setara dengan 50 menit. Jika dihitung secara matematik beban kerja dosen minimal (12 SKS + 9 SKS) x 50 menit sama dengan 1050 menit.

Hitungan matematik di atas untuk guru jika masih harus ditambah dengan penelitian (PTK) maka beban kerjanya tentu lebih besar dari pada dosen. Jika daimbil saja untuk guru SD dan sederajat yang tiap jam pelajarannya 35 menit x 9 sama dengan 315 menit, jika ditambah dengan beban minimal guru SD 840 menit menjadi 1155 menit. Untuk guru SMP bebannya ditambah 40 menit x 9 ditambah 960 menit menjadi 1320 menit. Sementara untuk guru SMA bebannya ditambah 45 menit x 9 ditambah 1050 menjadi 1455 menit.

Jadi jika guru harus mengadakan penelitian (PTK) maka beban guru lebih besar dari pada dosen. Sehingga antara guru dan dosen tidak bisa disamakan meskipun keduanya sama-sama mendapatkan tunjangan profesi. Jika guru harus mengadakan penelitian, maka kapan guru mempunyai waktu yang baik untuk mendidik siswanya. Ingat, guru tidak hanya mendidik di kelas saja, namun juga di luar kelas. Segala tingkah laku siswa dinilai oleh guru, terutama pada Kurikulum 2013. Ini sangat berbeda dengan dosen yang hanya mengajar di kelas saja yang tidak ada penilaian sikap pada mahasiswanya di luar kelas.

3 responses

  1. Setuju banget pak….

    Tugas kita adalah mendidik dan mengajar, mentransfer ilmu yang kita punya ke anak didik…..

    Tugas meneliti ya peneliti……

  2. Bambang Kurniawan | Balas

    Memang tugas guru mulia, tugas dosen juga mulia. tapi jangan disamaratakan begini. saya sangat setuju betul dengan pendapat Pak Sulistyio, Ketum PGRI kita. Bapak harus bela mati-matian nasib kami ini. Sebab suara kami yang berada di akar rumput ini tak akan didengar oleh sipembuat kepijakan pak. Siapa lagi kalau bukan Bapak penyambung lidah dan tangan kami yang di bawah ini, yang sehari-hari harus menyiapkan seabrek administrasi sebelum siap tempur di medan pendidik. Terima kasih Bapak atas kepedulianmu. Kami semua Guru se-NKRI pasti mengapresiasi usaha Bapak. Sekali lagi terima kasih Bapak.

  3. Hidup PGRI…..INI BARU NAMANYA MEMBELA DAN BERJUANG…SY AANGKATTOPI UNTK BPK KETUA!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: