Jangan Katakan ‘Bodoh’ Kepada Siswa


Ilustrasi siswa SMA belajar di kelas, foto: setkab.go.id

Ilustrasi siswa SMA belajar di kelas, foto: setkab.go.id

Guru adalah orang tua bagi siswa-siswi di sekolah sebagai pengganti orang tuanya di rumah. Jadi tugas guru tidak hanya sebatas mengajar saja, namun juga mendidik. Jika hanya mengajar maka setelah keluar dari kelas selesai sudah tugasnya. Guru hanya menyampaikan pelajaran sesuai dengan kurikulum.

Tugas mendidik jauh lebih berat dari pada mengajar. Sebagai pendidik dibebankan kepada semua guru. Tak harus guru mata pelajaran agama atau wali kelas saja. Apapun mata pelajaran yang diampu guru, harus bisa memberikan contoh yang baik bagi siswa-siswinya di sekolah. Sebagai pendidik, guru harus menanamkan nilai-nilai moral kepada peserta didiknya.

Guru adalah orang yang mencerdaskan anak bangsa, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Namun, tak jarang guru menghadapi siswa yang ketinggalan dengan teman-teman sebayanya. Tidak bisa mengikuti apa yang telah diajarkan oleh guru. Meskipun guru telah mengulangi beberapa kali namun masih juga tidak bisa menerima apa yang telah diajarkan oleh guru.

Masalah ini biasa terjadi pada sekolah-sekolah dengan input siswa yang kurang. Untuk sekolah yang dianggap favorit atau bagus tidak dibicarakan di sini, karena penerimaan siswa-siswinya sudah melalui tahap seleksi yang cukup ketat, sehingga mendapatkan input siswa yang bagus. Tak hanya sekolah swasta pinggiran saja yang mengalami masalah input siswa rendah, namun juga sekolah negeri. Ini terjadi karena persaingan mendapatkan siswa baru yang cukup ketat.

Antar sekolah berusaha mendapatkan siswa sebanyak-banyaknya. Jika dulu dalam satu kelas bisa mencapai 40 siswa, maka sekarang hanya 30 atau 25 siswa saja. Ini terjadi karena guru harus mengajar minimal 24 jam per minggu untuk memenuhi tugasnya sebagai guru yang profesional. Jika tidak dapat memenuhi maka tunjangan profesi guru (TPG) tidak bisa diterima. Sekolah berlomba-lomba menambah lokal supaya pembagian jam mengajar guru merata. Dengan demikian, kualitas input siswa menjadi turun.

Dengan menurunnya kualitas input siswa maka akan timbul masalah baru. Masalah ini sering terjadi pada guru yang mengajar di kelas. Siswa tidak mudah menerima materi pelajaran yang diajarkan oleh guru. Dengan demikian, guru harus pandai-pandai mencari metode dan pendekatan yang tepat untuk bisa menyampaikan materi pelajaran yang ada di kelas supaya lebih mudah diterima oleh siswa.

Siswa yang tidak bisa menerima materi pelajaran dengan baik di kelas banyak faktornya. Mulai dari keluarga, misalnya orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak mengontrol belajar anaknya. Anak tidak akan belajar secara maksimal, bahkan tak pernah mau belajar. Lingkungan pergaulan siswa juga sangat berperan dalam hal ini. Siswa tidak mau belajar karena lingkungan yang selalu ramai atau tidak ada teman sebaya dalam tempat tinggalnya.

Faktor yang juga berperan membuat siswa tidak bisa menerima pelajaran dengan baik adalah gizi. Siswa dari kalangan keluarga kurang mampu yang pada saat pergi sekolah tidak sarapan terlebih dahulu membuat konsentrasi siswa berkurang karena perut kosong. Asupan gizi yang dimakan siswa tiap hari juga mempengaruhi tingkat kecerdasan seorang siswa.

Apapun faktor yang melatarbelakangi siswa tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik seharusnya bisa disikapi guru dengan bijak. Tak pantas jika seorang guru mengatakan bahwa seorang siswa ‘bodoh’ atau bahkan kata lain yang tidak pantas diucapkan manakala menghadapi siswa seperti itu. Mereka sebenarnya juga tidak mau menjadi seperti itu.

Jika memang benar ada siswa yang sudah sangat ketinggalan dengan teman-temannya maka sebelum terlambat guru harus melaporkan ke wali kelas dan guru bimbingan konseling (BK). Wali kelas dan guru BK harus segera melaporkan kasus seperti ini kepada orang tua siswa. Orang tua harus bisa mengerti tentang keadaan siswanya dan harus mau diajak kerjasama. Jangan sampai hanya dari satu pihak saja, yaitu dari sekolah sementara tidak ada tanggapan yang baik dari orang tua. Tentu yang saya katakan di sini adalah terjadi pada sekolah formal umum, bukan sekolah luar biasa (SLB).

Setiap individu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Meskipun terdapat siswa yang kurang bisa mengikuti pelajaran dengan baik, pasti siswa tersebut ada kelebihan di sisi lain. Kelebihan ini yang harus dicari oleh guru, terutama guru BK. Kerjasama antara sekolah dan orang tua diharapkan bisa menemukan kelebihan siswa tersebut dibalik kekurangannya.

Jika seorang siswa yang sangat ketinggalan dengan siswa lain sering dikatakan bodoh, maka akan berdampak pada psikisnya. Ia akan merasa bahwa dirinya yang paling bodoh dan tidak berguna sama sekali. Siswa tersebut akan selalu mengingat kata ‘bodoh’ yang pernah ia dengar kepadanya. Ia juga tidak ingin menjadi pintar karena mungkin tak hanya satu guru yang mengatakan ‘bodoh’ padanya. Di dalam benaknya ia tidak mungkin pintar, sehingga tidak mau berusaha.

Jika memang benar-benar sangat ketinggalan pada semua mata pelajaran, mungkin slow learner, semua usaha sudah dilakukan oleh guru dan sekolah, maka sebaiknya dikembalikan ke orang tua. Mungkin saja siswa tersebut harus melanjutkan ke SLB. Jika tetap di teruskan, maka dikhawatirkan justru siswa tersebut akan semakin tidak bisa mengikuti dan akan terkucilkan dari teman-temannya.

Selain karena faktor intern (genetik) sehingga siswa tidak bisa menerima pelajaran dengan baik, juga faktor lingkungan. Tak jarang siswa tidak bisa menerima semua materi pelajaran karena malas. Kemalasan inilah yang membuat nilainya selalu dibawah standar atau kriteria ketuntasan minimal (KKM). Sebenarnya jika tidak malas siswa tersebut bisa berkonsentrasi dengan baik.

Yang membuat siswa malas tidak mau belajar bisa jadi karena melimpahnya materi atau fasilitas yang diberikan oleh orang tua tanpa adanya kontrol yang baik. Juga karena kegiatan siswa di luar sekolah yang terlalu padat, apalagi yang tidak ada kaitannya dengan sekolah. Siswa malas mempelajari mata pelajaran tertentu bisa juga karena gurunya yang dianggap kurang baik, sehingga membosankan.

Kisah Siswa Bisa Karena Terpaksa

Saya pernah punya pengalaman yang akan saya ceritakan di sini. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi siswa, guru, orang tua, atau siapapun yang membaca untuk bisa mengambil hikmahnya.

Saya adalah guru matematika. Saya pernah mengajar SLTA di sebuah kota di Sumatra Bagian Selatan. Saya pernah menjagar seorang siswa sebut saja MS. Saya mengajar MS sekitar tahun 2007-2008. MS adalah laki-laki, ia berpawakan tinggi dan berpenampilan menarik. Saya mendapat informasi dari teman-temannya jika ia seorang model.

Dunia model yang glamor membuat ia lupa akan tugasnya sebagai siswa. Ia sering terlambat sekolah, mengantuk di kelas, dan sering sekali tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dan tugas matematika yang saya berikan di kelasnya. Nilai ulangan juga selalu dibawah KKM, remidi kadang mau kadang tidak mau. Jika mau remidi nilainya juga tidak tuntas lagi. Saya mengajar MS dua tahun sewaktu ia kelas XI-IPS 4 dan XII-IPS 4. Selama empat semester nilai matematika di rapor yang ia dapat dari saya selalu di bawah KKM atau tidak tuntas.

Saya termasuk guru yang tegas dan disiplin, namun MS tidak mau diajak untuk disiplin. Saya menilai MS tidak hanya dari akademik saja, namun juga sikap. Saya sudah melaporkan kasus MS baik ke wali kelas maupun guru BK. Berkali-kali orang tua MS dipanggil, namun tetap saja MS menuruti kemalasannya. Karena sudah bisa mencari uang sendiri itulah yang membuat MS malas dan sepertinya sekolah tidak penting lagi.

Meskipun MS selalu mendapat nilai merah dari saya, namun saya nilai sebenarnya MS bukan siswa yang ‘bodoh’. Jika MS sedang konsentrasi, MS bisa mengerjakan soal yang saya berikan di papan tulis, meskipun kadang masih ada bantuan dari saya.

Sebenarnya MS malas melanjutkan studi. Namun orang tualah yang memaksanya kuliah. MS tidak suka pada matematika, sehingga MS pengin mencari jurusan yang menurutnya tidak ada mata pelajaran matematika pada perkuliahannya nanti. MS akhirnya mengambil jurusan hukum pada sebuah perguruan tinggi swasta di kotanya.

Namun, apa yang diduga MS salah, ternyata di jurusan hukum juga ada mata kuliah matematika. Suatu saat ada mata kuliah tentang differensial dan integral fungsi aljabar yang pernah ia dapatkan di kelas XI dan XII dulu. Namun, karena waktu itu MS malas sehingga tidak bisa mengerjakan soal-soal kedua materi tersebut.

Suatu saat saya mendapatkan telepon ke nomor ponsel saya dari nomor yang tidak saya kenal. Saya lihat ada kode area, saya pikir ini telepon dari seseorang yang saya tunggu, karena saya sudah janjian dengan seseorang di kanwil. Namun setelah saya angkat ternyata salah salah, ini bukan telepon dari orang yang saya tunggu. Ternyata MS menelepon saya.

MS menelepon saya dari nomor telepon rumahnya. Keperluan MS menelepon saya untuk bertanya masalah pelajaran differensial dan integral fungsi aljabar. Saya kaget, tumben MS menanyakan hal itu. Meskipun waktu itu saya sangat sibuk saya sempatkan. Saya tidak ingin MS punya masalah. Saya berpikir jika MS sudah sadar dan tidak ingin bermalas-malasan lagi.

Saya sempatkan untuk pulang sekitar pukul 15.00 pada saat istirahat, kebetulan jarak sekolah dengan rumah hanya 300 m saja. MS mengatakan ke saya jika ia ada ujian negara matematika yang materinya sudah saya sebutkan di atas pada pukul 16.00. Saya menerangkan ke MS 15 menit saja dan 15 menit lagi saya menyuruh MS mengerjakan soal yang saya berikan.

Di luar dugaan saya, ternyata MS bisa mengerjakan semua soal yang saya berikan sejumlah 8 soal. Ternyata yang selama ini nilai matematika MS jelek bukan karena ia ‘bodoh’, namun karena malas saja. Sebenarnya jika konsentrasi, ternyata MS bisa mengerjakan dengan baik. MS pengin mendapatkan nilai baik untuk mata kuliah matematika ini, MS tidak ingin nilainya jelek bahkan tidak lulus mata kuliah matematika.

Apa yang melatarbelakangi MS untuk mendapatkan nilai baik? Ternyata MS tidak mau kehilangan semua fasilitas yang diberikan dari orang tuanya. Orang tua MS pengusaha, selama ini selain MS bisa mencari uang sendiri juga mendapatkan fasilitas mewah seperti mobil dari orang tuanya.

MS mengatakan kepada saya jika orang tuanya tidak akan memberiakan fasilitas mewah lagi termasuk mobil jika ia tidak lulus mata kuliah matematika yang selama ini ia benci. Karena itulah MS berusaha keras mencari nomor ponsel saya, menelepon saya supaya saya mau mengajarinya matematika. Ini dilakukan MS supaya ia mendapatkan nilai bagus pada mata kuliah matematika.

Sekitar 3 minggu kemudian MS menelepon saya lagi. Kali ini MS tidak meminta bantuan supaya saya mengajarinya matematika lagi melainkan mengucapkan terima kasih kpada saya. MS bilang jika ia lulus mata kuliah matematika dan ia mendapatkan nilai A. MS bilang jika hanya dialah di kelasnya yang mendapat nilai A. Apa yang MS takutkan tidak lagi mendapatkan fasilitas mewah dari orang tuanya ternyata tidak terjadi padanya.

Saya senang akhirnya MS sadar yang selama ini malas berubah. Saya juga memberikan nasihat kepada MS supaya bisa memanfaatkan fasilitas mewah yang diberikan orang tuanya dengan sebaik-baiknya dan tidak malas lagi. Saya juga menasehati supaya MS bisa membagi waktu antara kuliah dan kegiatannya di luar kampus.

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari kisah MS di atas? Ternyata nilai jelek seorang siswa belum tentu siswa tersebut ‘bodoh’, melainkan karena pada waktu itu siswa merasa tidak butuh, sehingga malas belajar. Dengan malas inilah akhirnya tidak bisa dan membuat nilainya jelek. Seperti pada kasus`MS ini karena adanya dorongan atau motivasi supaya fasilitas mewah yang diberikan orang tuanya tidak dicabut, maka MS berusaha keras. Sering jika seseorang sudah sangat terpaksa, maka ia akan melakukan segala cara supaya bisa keluar dari masalahnya. Tentunya cara yang dimaksud adalah cara yang baik.

Iklan

One response

  1. Memang apa yang kita katakan sebagai orang dewasa kepada anak-anak itu akan membekas di alam bawah sadar anak2. 🙂 Pada intinya sebagai orang tua harus hati-hati dalam berkata-kata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: