Mengatasi Siswa yang Bandel dengan Tulisan


Ilustrasi, mengatasi masalah siswa bandel jangan dengan main pukul, tetapi dengan tulisan

Ilustrasi, mengatasi masalah siswa bandel jangan dengan main pukul, tetapi dengan tulisan

Di sekolah manapun pasti terdapat siswa yang bermasalah. Meskipun sekolah yang dianggap favorit, sekolah yang bagus, ada saja masalah yang dihadapi siswanya. Masalah yang mereka hadapi berbeda-beda, tergantung dari kondisi sosial ekonomi orang tua, usia, lingkungan tempat tinggal siswa, dan masalah lain yang terkait dengan pelajaran di sekolah.

Masalah yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi orang tua misalnya berkaitan dengan uang sekolah. Siswa belum membayar uang sekolah karena kondisi ekonomi orang tua dari kalangan keluarga yang kurang mampu. Untuk masalah yang berkaitan dengan usia siswa antara siswa SD, SMP, dan SMA sederajat berbeda. Kebanyakan siswa SD masih senang bermain, ini sangat wajar, jadi masalah yang timbul seputar permainannya. Sementara untuk siswa SMP untuk permainan sudah berkurang, namun siswa SMP sudah mulai pubertas, dan ini membutuhkan perhatian yang sangat serius dari orang tua maupun guru di sekolah. Untuk siswa SMA biasanya masalah yang timbul adalah pembentukan jati dirinya. Mereka ingin berbeda dengan yang lain.

Lingkungan tempat tinggal sangat menentukan masalah siswa. Tak sedikit siswa yang semula pendiam, setelah mulai beranjak pubertas menjadi agresif dan susah diatur. Sementara orang tua dan guru yang kurang memahami masalah mereka cenderung selalu menyalahkan dan memojokkannya. Memang, mereka salah, namun tak sepenuhnya kesalahan dari mereka. Lingkungan adalah faktor yang sangat dominan membentuk karakter seorang anak.

Masalah yang berkaitan di sekolah juga muncul seiring dengan pergaulan siswa dengan guru dan teman-temannya. Masalah yang berkaitan dengan pelajaran di sekolah sering terjadi. Kurang konsentrasi siswa dalam menerima pelajaran membuat nilainya menjadi tidak bagus. Banyak faktor yang melatarbelakangi siswa kurang konsentrasi dalam belajar, bisa dari keluarga, lingkungan, guru, dan juga tema-teman di sekolah. Selain itu kurangnya konsentrasi belajar juga bisa disebabkan oleh asupan nutrisi pada makanan yang mereka makan.

Siswa yang bersekolah di sekolah yang dianggap masyarakat bagus mempunyai masalah yang berbeda dengan siswa yang bersekolah di sekolah yang dianggap kurang bagus. Namun, tak jarang ada kesamaan masalah yang mereka hadapi. Meskipun jenis masalahnya sama, namun tidak bisa disamakan dalam menangani masalah mereka, apalagi jika masalahnya berbeda. Hal ini dikarenakan kondisi siswa yang berbeda. Input siswa juga menentukan cara penanganan masalah siswa.

Tak sedikit guru di sekolah selalu menyalahkan siswa yang bersalah. Mereka bersalah itu harus dicari sebabnya kemudian diselesaikan masalahnya, bukan terus-menerus disalahkan, bahkan dipojokkan. Jangan sampai siswa yang bermasalah dipojokkan dan membuatnya frustasi. Ini akan berdampak buruk pada kejiwaannya.

Siswa yang salah memang pantas mendapatkan hukuman, namun hukuman yang bersifat mendidik dan supaya ia tidak mengulangi kesalahan yang sama, juga kesalahan yang lain. Suatu saat guru harus tegas, disiplin, namun suatu saat juga harus menggunakan hati nuraninya.

Terasa jengkel dan kesal menghadapi siswa yang bandel. Sudah diingatkan berkali-kali masih saja tetap mengulangi kesalahan yang sama. Ini yang membuat emosi guru terpancing, jika tidak bisa mengendalikan, maka bisa terjadi main pukul. Sampai saat ini masih saja ada guru yang melakukan main pukul.

Tak sedikit dampak yang ditimbulkan mengatasi masalah siswa yang bandel dengan main pukul. Jika cedera, maka harus mengobatinya, bahkan bisa masuk ke rumah sakit. Jika salah memukul bisa berakibat fatal. Syaraf, otot, atau organ tubuh yang lain yang terkena pukulan bisa berakibat luka parah, bahkan bisa cacat seumur hidup.

Mengatasi siswa yang bermasalahdengan pemukulan juga meninggalkan trauma bagi siswa tersebut. Trauma ini bahkan bisa dibawa sampai dewasa dan akhir hayatnya. Mengatasi siswa dengan main pukul sebenarnya tidak mengatasi masalah, justru akan menimbulkan masalah baru. Siswa kelihatannya menurut, namun justru bisa membuatnya malah takut kepada guru yang memukulnya. Jika hal ini terjadi maka pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut tidak akan bisa diterima dengan konsentrasi penuh, bahkan malah diabaikan.

Masalah juga bisa terjadi pada guru yang memukul siswa yang bermasalah. Masalah indisipliner yang bisa berujung pada penonaktifan sebagai guru atau dipecat. Jika orang tua siswa menuntut bisa jadi guru yang bersangkutan masuk bui.

Jaman sekarang berbeda dengan jaman pada saat kakek dan nenek kita dulu di era tahun 60-an bahkan sebelum kemerdekaan. Pada jaman tersebut, cerita dari kakek saya yang sekolah di Sekolah Rakyat (SR), siswa yang bermasalah biasa dihukum dengan pukulan, namun sekarang jaman sudah berbeda. Memukul sedikit saja guru dianggap melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Orang tua yang selalu kritis bisa jadi melaporkan guru yang memukul anaknya kepada pihak yang berwajib.

Tulisan Untuk Mengatasi Siswa Bermasalah

Guru Bimbingan Konseling (BK) adalah guru yang sering mengatasi siswa yang bermasalah. Namun, tak harus guru BK yang turun tangan untuk mengatasi masalah siswa. Setiap guru sebenarnya sudah dibekali dengan ilmu psikologi untuk mengatasi bagaimana jika ada masalah yang terjadi pada siswa.

Berbagai strategi dan cara dilakukan untuk mengatasi siswa yang bermasalah, terutama pada siswa yang sudah membandel. Coba saja dengan cara lain yang mungkin belum digunakan oleh guru. Tulisan adalah yang saya maksud. Saya adalah guru di MTs Negeri Pedan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Beberapa siswa yang bermasalah saya atasi dengan tulisan, terutama yang bandel berkali-kali diperingatkan.

Bagaimana tulisan bisa mengatasi masalah siswa? Ada beberapa cara tulisan bisa mengatasi masalah siswa. Pertama, tulisan dari surat kabar (koran) atau majalah. Jadi intinya adalah tulisan dari media cetak. Jika Anda sebagai guru suka menulis dan dimuat di media cetak, maka suruh siswa yang bermasalh tersebut untuk membacanya. Tentu saja tema tulisan harus sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh siswa. Menulis, apalagi dimuat di media cetak memang tidak mudah, jika Anda tidak bisa menulis, maka cari artikel yang ada di media cetak sesuai dengan masalah yang siswa hadapi.

Menyuruh siswa untuk membaca artikel di media cetak banyak hambantannya. Tidak banyak tulisan yang sesuai dengan masalah yang dihadapi siswa adalah kendala pertama. Kendala yang lain adalah tulisan tidak bisa dibaca dimana saja karena harus membaca di koran atau majalah yang hanya ada di tempat tertentu saja. Sumber bacaan tidak fleksibel, tidak bisa dibaca di sembarang tempat, jadi ini akan menyulitkan siswa maupun guru.

Kedua, tulisan bisa berasal dari media online. Ini adalah cara yang paling mudah. tulisan bisa dibaca oleh siswa di mana saja dan kapanpun diperlukan. Media online bisa dari jejaring sosial atau situs internet yang berisi tentang masalah yang dihadapi oleh siswa. Caranya mudah saja, cari di mesin pencarian, misal Google. Cari kata kunci sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh siswa dan cara pemecahannya.

Lebih baik memang tulisan yang dibuat oleh gurunya sendiri, jadi guru bisa mengetahui karakteristik siswanya. Media online yang dibuat guru bisa berupa blog yang dimiliki oleh guru. Ini akan lebih berkesan pada siswa. Pandai-pandai saja guru mengatur supaya siswa mau membacanya. Panggil siswa yang bermasalah, ingat jangan dikasari, jika dipanggil secara kasar mungkin siswa tersebut tidak akan mau membacanya.

Guru bisa memberi tugas kepada siswa untuk membaca artikel yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi siswa. Siswa disuruh untuk mencari di internet dengan kata kunci yang telah ditentukan oleh guru. Jika guru memiliki tulisan yang sudah dimuat di media online, misal blog, maka suruh buka saja blog tersebut dan beri tahu kata kunci atau alamat situsnya. Suruh siswa mencetak tulisan tersebut dan memberi komentar. Setelah dikumpulkan, tanya siswa tersebut dan ini bisa menjadi salah satu solusi permasalahan siswa. Jangan lupa guru memberikan reflesi dan simpulan dari tulisan tersebut.

Cara lain adalah guru sudah membuka tulisan yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh siswa. Panggil siswa ke ruangan yang tenang misal di perpustakaan atau ruang BK untuk membacanya. Buat siswa bisa konsentrasi, jadi jangan ada yang menganggu siswa tersebut. Setelah selesai beri pertanyaan yang berkaitan dengan tulisan tersebut. Jangan lupa berikan refleksi dan simpulan dari tulisan ini. Guru juga memberikan nasihat supaya siswa tersebut tidak selalu mengulangi masalahnya.

Cara guru sudah membuka tulisan di media online ini kadang ada kendalanya. Bagi sekolah yang keneksi internet belum ada atau kecepatannya tidak stabil akan bermasalah. Namun, bagi sekolah yang sudah ada Wi-Fi ini adalah cara yang bisa dicoba jika sebelumnya belum pernah dilakukan.

Pengalaman ini saya bagi karena tak sedikit dari siswa saya yang bermasalah dengan cara pendekatan tulisan tersebut akhirnya siswa yang bersangkutan tidak lagi melakukan kesalahan. Contoh masalah yang saya selesaikan dengan tulisan adalah siswa yang memakai celana pensil. Cara mengatasinya, saya membuat tulisan “Hati-hati Memakai Celana Ketat, Kenapa?”. Beberapa siswa yang sering memakai celana pensil saya panggil dan saya suruh membaca tulisan tersebut. Tulisan tersebut masih berlanjut ke judul “Seragam Baru, Bedge Merah Putih, Tidak Boleh Rok Mini & Celana Pensil”.

Saya juga prihatin dengan maraknya tayangan di televisi khususnya pada sinetron remaja yang memunculkan adegan siswa memakai seragam nasional namun tidak dimasukkan. Tak sedikit siswa saya menirunya, saya memanggil benerapa siswa yang sering mengeluarkan baju seragam kemudian saya suruh membaca tulisan “Seberapa Pentingkah Siswa Harus Memasukkan Baju?”. Dari tulisan tersebut ada kisah karena kebiasaan buruk tidak memasukkan baju, setelah lulus kuliah sering ditolak kerja, meskipun siswa tersebut sangat pandai. Masih ada lagi tulisan saya di blog ini yang isinya tentang masalah yang dihadapi oleh siswa dan bagaimana akibatnya. Tulisan-tulisan tersebut ampuh membuat siswa jera tidak melakukan pelanggaran lagi.

Setelah siswa yang bermasalah membaca, saya beri pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan tulisan tersebut. Saya juga mengamati tingkah laku siswa mulai dari seminggu, sebulan, dst. Tak sedikit siswa yang awalnya bermasalah, dengan tulisan yang saya tulis di blog ini menjadi baik kembali.

Namun, tak semua permasalahan siswa bisa diselesaikan dengan tulisan. Untuk siswa SD mungkin belum bisa dengan cara ini, tapi bisa dicoba dulu. Saya tidak mengajar SD, jadi belum pernah mencobanya di SD. Tapi setidaknya dengan tulisan bisa membuat mereka yang bermasalah mempunyai pengetahuan tentang apa yang dilakukannya adalah suatu kesalahan yang tidak boleh dilakukan.

Guru tak harus menunggu siswa bermasalah untuk menunjukkan tulisan yang berkaitan dengan masalah siswa. Untuk pencegahan, ada baiknya tulisan yang bagus yang membuat siswa tidak melakukan tindakan yang merugikan mereka boleh diberikan.

Sebagai contoh yang sudah saya lakukan adalah tentang internet sehat bagi siswa. Saya menulis “10 Dampak Negatif Dunia Maya Bagi Pelajar” untuk mencegah siswa membuka situs yang tidak baik dan menggunakan internet secara sehat.

Pernah ada siswa yang ijin tidak masuk karena sakit. Setelah saya tanya ternyata ia sakit karena jajan sembarangan. Sebelum sakit ia makan jajanan yang tidak sehat. Kebetulan saya pernah menulis “10 Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Membeli Makanan/Minuman“.

Untuk pencegahan masalah dengan pendekatan tulisan tersebut caranya 5 menit sebelum pelajaran dimulai saya suruh siswa membaca tulisan di blog saya yang berkaitan dengan tema masalah yang mungkin dihadapi siswa. Sebelum pelajaran dimulai saya sering sudah membuka laptop, saya membuka blog saya dan saya buka tulisan yang akan saya sampaikan. Jadi di sini harus ada jaringan internet. Kebetulan sekolah tempat saya mengajar terdapat 4 hospot dengan kecepatan tinggi yang bisa menjangkau di semua area sekolah. Jadi guru yang mengajar dengan menggunakan pembelajaran internet lancar saja. Tak hanya di awal pelajaran, 5 menit menjelang pelajaran selesai juga sering saya gunakan untuk menyampaikan pesan tulisan yang bisa membuat siswa termotivasi dan mendapatkan pengetahuan tambahan di luar pelajaran.

Selain dengan cara pendekatan tulisan, guru juga harus bekerja sama dengan orang tua siswa. Bagaiamanpun orang tua harus mengetahui masalah yang dihadapi oleh siswa dan sejauh mana peranan orang tua dan guru mengatasi masalah siswa tersebut. Tanpa adanya kerjasama dengan orang tua bisa jadi apa yang telah dilakukan guru sia-sia saja.

Itu yang bisa saya bagi pengalaman saya menghadapi siswa yang bermasalah. Saya yakin bagi Anda pembaca sebagai guru mempunyai cara yang bijak untuk mengatasi masalah siswa yang bandel tanpa adanya main pukul atau kekerasan.

Iklan

2 responses

  1. Ya benar memang begitu,
    tak akan bisa, cara/perbuatan yang buruk menghasilkan kebaikan. Walaupun di dasari niat sebaik malaikat. Termasuk cara mendidik, tapi dalam sebuah riwayat Islam memang memperbolehkan memukul anak ktika dia tak mau solat. Jadi kesimpulannya memang kita di tuntut lebih dewasa mnyikapi persoalan, memukul bisa d sebut mendidik tp dlm kadar tertentu dan dalam masalah tertentu. Anak tetaplah anak, anak didik, anak tiri atau apalah embel-embelnya mreka merupakan tanggung jawab kita kepadaTuhan. Semoga ini tak menjadi perdebatan, debat hanya akan menambah pertanyaan. Semoga pembahasan ini jadi jawaban supaya anak kita jadi lebih baik.

    1. Terima kasih atas pendatnya, semoga tidak ada lagi kekerasan dalam pendidikan. Apa yang saya tulis sudah saya terapkan dan hasilnya bagus. Memang, sebagai guru juga dibutuhkan ketegasan, namun harus bertanggung jawab dan sesuai dengan aturan.

      Jika kita melarang siswa untuk tidak melakukan sesuatu kita harus jelaskan kenapa. Jika kita mengatakan bahwa seorang siswa bersalah, maka kita harus jelaskan kesalahannya, kenapa tidak boleh. Penjelasan bisa dari segi agama, pengetahuan, dll. Jangan sampai kita hanya bisa menyalahkan namun tidak mempunyai dasar. Jangan sampai guru hanya bisa berkata “pokoknya“.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: