Tak Semua Pekerjaan Dinilai dengan Uang


Gotong-rorong basmi tikus

Gotong-rorong basmi tikus

Orang melakukan suatu pekerjaan pasti ada sesuatu yang diinginkan di balik pekerjaan yang ia lakukan. Uang adalah sesuatu yang diinginkan dari kebanyakan orang melakukan suatu pekerjaan. Tanpa uang hidup ini tidak akan bahagia. Begitu yang banyak dikatakan orang, apa lagi yang dicari selain dari pada uang. Karena dengan uang kita bisa membeli materi apa saja yang kita inginkan.

Selain uang, suatu pekerjaan biasanya dinilai dengan sesuatu yang intinya bisa menyenangkan orang yang melakukan pekerjaan tersebut. Imbalan barang juga kerap menjadi alasan orang melakukan suatu pekerjaan. Meskipun bukan uang yang diinginkan, tak jarang justru barang akan lebih bermanfaat. Jika menerima uang harus membelanjakan untuk barang yang diinginkan, maka jika langsung diberi imbalan barang maka tidak perlu lagi repot-repot membelikan barang.

Pada jaman dahulu imbalan barang pada orang yang bekerja sudah hal yang biasa. Namun, saat ini imbalan barang tersebut sudah jarang kita jumpai. Hanya ada segelintir orang yang mau diberi upah berupa barang. Sebagai contoh di beberapa desa yang saya amati di Jawa Tengah, bila panen orang yang punya sawah mempekerjakan orang lain namun imbalan bagi pekerjanya adalah sebagian dari hasil panennya. Kesepakatan antara pekerja dan yang punya sawah tentang seberapa gabah yang diterima oleh pekerja tiap hari atau tiap satuan karung.

Gabah, adalah bahan mentah dari nasi. Makanan pokok bagi kebanyakan masyarakat di negara kita adalah nasi. Di desa-desa, orang yang tidak mempunyai sawah dan bekerja tidak tetap tak sedikit yang menjual jasa atau bekerja pada orang yang punya sawah. Jika imbalan atas jasa orang yang bekerja adalah uang, maka mereka masih harus membelikan beras yang harganya malah lebih mahal.

Imbalan jasa adalah alasan lain orang sanggup melakukan suatu pekerjaan meskipun tidak dibayar dengan uang maupun barang. Meskipun jasa tidak terlihat seperti uang atau barang, namun justru jasa bisa dikenang orang seumur hidup.

Banyak desa di Jawa dan di beberapa daerah di Indonesia, pekerjaan yang diberi upah jasa memang tidak banyak. Contoh pekerjaan yang dibalas dengan jasa adalah pada saat hajatan. Orang yang punya hajatan mempekerjakan orang lain. Orang yang bekerja tersebut bisa teman, saudara, atau tetangga. Harapan dari orang yang bekerja pada yang punya hajat adalah nanti suatu saat jika dirinya punya hajatan dibalas dengan jasa seperti yang ia lakukan.

Pekerjaan yang dibalas dengan jasa tersebut sudah menjadi peraturan di masyarakat yang tidak tertulis. Meskipun peraturan tersebut tidak tertulis, namun masyarakat mentaatinya. Bagi yang tidak mentaatinya maka ia akan mendapatkan sangsi sosial. Sangsi sosial tersebut bisa dibalas orang tidak akan mau bekerja padanya saat punya hajatan. Tak hanya itu saja, masyarakat juga akan mengucilkan dirinya.

Sampai saat ini, aturan sosial tersebut banyak berlaku di berbagai daerah di Indonesia, terutama di pedesaan. Aturan ini memang harus ditegakkan karena jangan sampai adat istiadat dan budaya yang sudah berkembang baik ini dirusak oleh budaya liberal dari Barat. Budaya liberal ini cenderung individualis yang saat ini sudah banyak terjadi di daerah perkotaan.

Ada pekerjaan yang tidak harus dinilai dengan uang, barang, maupun jasa. Dengan kata lain pekerjaan ini tanpa upah. Pekerjaan yang tanpa upah adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan orang lain, bangsa, atau negara.

Pekerjaan yang tanpa upah tersebut adalah para pekerja sosial. Mereka yang bekerja tak dibayar hanya punya pamrih senang atau bahagia jika bisa berbuat baik bagi orang lain. Mereka akan senang jika orang lain juga ikut senang dengan pekerjaan yang ia lakukan. Para pekerja sosial memang mengabdikan dirinya untuk bekerja karena kemauannya sendiri. Ada yang bekerja paruh waktu di sela-sela kesibukannya bekerja yang dibayar. Namun, ada juga yang bekerja total karena baginya materi sudah berkecukupan.

Orang-orang yang mempunyai jiwa sosial yang ingin membantu sesamanya meluangkan waktu untuk bekerja melayani orang lain tanpa bayaran meskipun mereka belum secara seluruhnya tercukupi materi. Bagi orang kaya yang berjiwa sosial, bekerja tanpa dibayar adalah kebahagiaan tersendiri. Dengan bekerja tanpa dibayar baginya akan lebih bahagia. Tak hanya tenaga dan pikiran saja yang disumbangkan untuk orang lain, namun juga harta.

Bagi orang yang mempunyai keyakinan agama tertentu bekeja namun tidak dibayar adalah bentuk dari ibadah pada agama yang diyakininya. Mereka bekerja tidak hanya pada umat seagamanya saja, tak jarang juga untuk umat lain yang membutuhkan. Meskipun berbeda umat yang dilayani, yang penting bisa membuat orang lain senang dan bahagia.

Pekerjaan yang tidak diupah yang lain adalah gotong-royong. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang terkenal dengan tradisi kebersamaannya. Contohnya gotong-royong membasmi tikus pada foto di atas. Contoh gotong-royong yang lain adalah perbaikan jalan atau pengerasan jalan. Masyarakat yang tinggal di jalan yang akan dikeraskan atau diperbaiki sangat antusias menjalankan kerja bhakti meskipun tak ada imbalan.

Kerja bhakti seperti ini banyak dijumpai di daerah pedesaan, namun di perkotaan sudah tak sebagus di pedesaan. Banyak masyarakat kota yang sibuk sampai waktu yang hanya beberapa jam saja tidak sempat. Bahkan waktu yang digunakan untuk kerja bhakti pada hari libur atau hari Minggu pun masih banyak yang tidak sempat. Sebagai ganti, biasanya menyuruh orang lain untuk mewakilinya. Tak jarang wakilnya adalah pembantu.

Para pekerja sukarelawan yang bekerja pada saat musibah terjadi juga tidak dibayar. Paling hanya imbalan makanan pada saat mereka bekerja, itupun sering dilewatkan karena harus melayani orang lain karena sibuknya. Para sukarelawan pada saat musibah ini tak jarang harus ijin atau cuti dari tempatnya bekerja yang menghasilkan uang. Jatah cuti tahunan mereka gunakan demi bisa menolong orang lain. Seperti pada saat bencana tsunami di Aceh banyak sukarelawan berdatangan ke Aceh baik dari dalam maupun luar negeri. Mereka bahu-membahu tanpa pamrih untuk menolong sesama tanpa memandang suku, agama, dan golongan.

Meskipun kita bekerja dibayar, ada suatu pekerjaan yang bisa kita lakukan namun tidak selalu harus diberi imbalan. Misalnya jika kita dimintai bantuan oleh teman sekantor membenahi sesuatu atau melakukan sesuatu pada saat jam kantor. Apalagi jika apa yang kita lakukan tersebut menggunakan fasilitas kantor seperti komputer, tinta printer, kertas, kendaraan, atau jaringan internet maka jika kita meminta imbalan itu sungguh keterlaluan.

Tak hanya itu saja, kadang kita harus bekerja karena tuntutan suatu profesi yang dilakukan di kantor. Apa yang kita lakukan adalah untuk memenuhi suatu beban tanggung jawab atau bagian dari pekerjaan kita, maka jika tidak ada imbalan tambahan jangan melemparkan pekerjaan pada orang lain atau bahkan marah-marah. Jangan sampai jika ada duit tambahan mau melakukan, namun jika tidak ada duit tambahan tidak mau melakukan dan melemparnya ke orang lain. Jika hal ini terjadi, mana tanggung jawabnnya pada pekerjaan? Egois banget orang yang seperti itu.

Sebagai contoh, ada tukang parkir yang saya amati melakukan pekerjaan hanya setengah hati. Pada sebuah kantor bank di bagian depan tertera tulisan PARKIR GRATIS. Jika pengguna parkir tidak memberikan upah kepada petugas parkir, maka petugas parkir tersebut membuntuti orang yang selesai parkir. Janganlah marah atau memasang muka tak sedap dipandang, apalagi tidak mau melayani nasabah bank yang akan memarkirkan kendaraannya. Petugas parkir tersebut sudah diberi upah dari bank, jadi jika tidak ada tambahan tips dari nasabah ya harus diterima dengan senang hati. Bahkan jika diberi tips dari nasabah pun sebaiknya menolaknya. Ini bukan soal pendapatan, namun harga diri.

Iklan

5 responses

  1. Memang tak semua pekerjaan harus dinilai dengan materi. Kita juga harus punya jiwa sosial. Ingat, manusia itu makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain.

  2. Tak bisa dipungkiri, kerja itu untuk dapat uang. Tapi dg pemahan yg baik dan tak menyalahkan keadaan seseorang lebih memandang keberkahan dr pada nominal. semoga kita termasuk dr orang yg berpemahaman baik

    1. Tapi ada orang yang seharusnya bekerja sesuai tanggung jawabnya dan sudah dapat gaji, tapi masih mengharapkan tambahan. Pada hal mereka itu harus melayani sesuai dengan gaji dan tunjangannya, tapi masih saja minta bahkan dengan terang-terangan, pada hal seharusnya malu. Kalau tidak diberi dipersulit, apakah orang yang seperti itu kinerjanya bagus?

  3. Tak bermaksud menambah perdebatan. sebaiknya jangan menyalahkan. andai bertemu dg yg sperti itu tegur saja bila mampu, andai tak mampu menegur cukuplah kita doakan supaya dia sadar. jangan sampai kita hanya sibuk memprotes kesalahan orang lain. dalam pepatah jawa berkata, “singo nggereng di wedeni, asu njegug di balangi”.

    1. Apa itu artinya pepatah di atas Sidik?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: