Daily Archives: Februari 22nd, 2015

Amankah Data Pribadi Kita di Bank?


Ilustrasi, foto: omkicau.com

Ilustrasi, foto: omkicau.com

Bank adalah tempat dimana untuk menyimpan uang. Bank juga sebagai tempat transaksi bisnis yang berkaitan dengan urusan finansial. Untuk bisa dilayani urusan finansial di bank, Anda harus terlebih dahulu mengunjungi kator bank yang Anda tunjuk.

Pada saat pembukaan rekening, calon nasabah harus menemui petugas bank pada bagian layanan nasabah atau Customer Service (CS). Petugas CS adalah petugas yang melayani keluhan nasabah dan pada saat pembukaan rekening baru.

Sebelum menggunakan layanan perbankan, nasabah harus memberikan data-data pribadinya. Data yang dimaksud pertama adalah kartu identitas (ID) resmi yang diakui oleh pemerintah. Kartu identitas tersebut bisa berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM) baik SIM A, B, C atau paspor.

Kartu ID tersebut biasanya disalin (difoto kopi) dan ditunjukkan yang asli. Data yang diinginkan bank dari kartu ID antara lain nama calon pemilik rekening harus sama dengan nama yang tertera pada kartu ID. Data yang diinginkan bank yang lain adalah alamat tempat tinggal calon pemilik rekening, dan pekerjaan. Biasanya bank juga menginginkan data yang lain seperti nomor telepon atau ponsel calon pemilik rekening. Ada lagi data tentang alamat tempat bekerja, dan nomor telepon tempat bekerja calon pemilik rekening. Jika dimungkinkan pihak bank juga bisa menginginkan data lain sesuai dengan layanan perbankan yang diinginkan.

Setelah data Anda diinput oleh petugas CS, ini berarti Anda telah menyetujui layanan perbankan yang Anda inginkan. Data-data tersebut disimpan pada server situs bank tersebut. Tak seorangpun boleh merubah data tersebut tanpa sepengetahuan nasabah, meskipun yang merubah adalah petugas bank sendiri. Tak hanya itu saja, seluruh pegawai bank juga tidak diperbolehkan memberitahu ke pihak manapun tentang data dari nasabahnya.

Meskipun ada aturan pegawai bank tidak boleh membocorkan data nasabah ke pihak manapun kecuali dalam rangka penyelidikan polisi, namun masih saja marak terjadi kebocoran data pribadi nasabah ke pihak yang tidak bertanggung jawab. Data yang bocor ini umumnya digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk kejahatan perbankan.

Anda harus hati-hati jika ada pihak yang mengatasnamakan lembaga tertentu yang bekerja sama dengan bank tempat Anda membuka rekening. Bisa jadi ini adalah penipuan. Awalnya ada orang yang menelepon Anda yang merayu Anda untuk menuruti permintaannya. Ini seperti yang pernah saya alami. Namun, karena saya mengetahui modus penipuannya, maka saya tidak tertipu. Berikut ini ilustrasi kejadian yang menimpa saya.

Pada Rabu, 11 Februari 2015 pukul 14: 47 WIB ponsel saya menerima panggilan dari nomor +62815 XX23 8054. Nomor ponsel yang menelepon saya operatornya sama dengan saya, yaitu Indosat. Saya yakin nomor tersebut adalah Mentari (prefix +62815), meskipun bisa juga Matrix. Dan kode area Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Kode area saya rahasiakan dengan tanda XX.

Kebetulan saya pas ada di jalan keluar dengan motor sebentar ke ATM yang dekat dengan kantor saya karena saya membutuhkan uang tunai. Pada saat itu saya lagi tidak sibuk. Pada saat selesai mengambil uang di ATM ada panggilan dari nomor +62815 XX23 8054. Kondisi di jalan sangat ramai, namun saya terima telepon. Semula saya mengira panggilan dari istri saya, namun saya lihat layar smartphone saya ternyata nomor lain. Saya terima dengan tidak curiga.

Penelepon langsung menyebut nama saya dengan benar dan lengkap, 100% tepat. Tak hanya itu saja yang membuat saya kaget dan curiga, penelepon juga mengetahui alamat tempat tinggal saya dan dimana saya bekerja. Ini sungguh ajaib, saya tidak pernah memberi tahu alamat kantor saya kepada orang asing, bahkan saudara saya sendiri, termasuk adik dan paman saya yang ada di Jakarta juga tidak mengetahui alamat kantor saya.

Saya bertanya kepada penelepon dari mana ia dapatkan nomor ponsel saya. Ia berkata bahwa ia dari sebuah lembaga yang bekerja sama dengan semua bank BUMN. Bank BUMN ada tiga di Indonesia, yaitu BRI, BNI, dan Bank Mandiri. Saya memang nasabah dari salah satu bank BUMN tersebut. Penelepon menawarkan kartu kredit kepada saya. Namun, karena bisingnya di jalan, maka saya tutup panggilan tersebut.

Panggilan ke ponsel saya berlanjut pada Kamis, 12 Februari 2015 pukul 08:44 WIB dengan nomor +6221 XX051051. Namun kali ini panggilan tidak menggunakan nomor seluler Indosat lagi. Penelepon menggunakan CDMA lisensi FWA dan saya yakin itu Flexi, bukan telepon tetap kabel dari Telkom (PSTN). Kode Flexi ditunjukkan digit yang saya rahasiakan dengan tanda XX. Kode +6221 adalah kode area PSTN atau CDMA lisensi FWA untuk Jabodetabek. Saya juga tidak mengangkatnya karena saya sibuk sekali dan ponsel saya juga digetar di dalam tas.

Rupanya predator penipuan mengincar calon mangsanya dengan sabar. Hari Jumat, 13 Februari 2015 pukul 08:19 WIB menelepon saya kembali, namun kali ini biar saya tidak curiga dan biar saya mengangkatnya ganti dengan nomor yang lain. Nomornya masih tetap Flexi, yaitu +6221 XX978000. Karena saya sibuk, saya tidak mengangkatnya. Pada hari Jumat tersebut saya ditelepon sampai lima kali dengan nomor yang sama.

Panggilan kedua pada pukul 11:12. Panggilan kali ini saya jawab dan saya tidak curiga karena saya pikir adik saya yang ada di Jakarta. Namun ternyata dugaan saya salah, lagi-lagi panggilan dari penelepon tempo hari, predator penipuan.

Sebelum bertanya lebih lanjut saya tanya balik dari mana mendapatkan nomor ponsel saya. Ia bilang dari sebuah lembaga yang bekerja sama dengan semua bank BUMN. Ini berarti penelepon sama dengan yang tempo hari, namun sengaja diganti nomornya. Kali ini tidak lagi menawarkan kartu kredit lagi, namun asuransi kesehatan. Saya jawab jika saya dan keluarga saya sudah mempunyai asuransi kesehatan dari sebuah perusahaan asuransi terkenal. Penelepon tetap menggoda saya dengan menawarkan fasilitas ini dan itu supaya saya mau ikut. Saya sudah tahu akal bulusnya, terus saya biarkan telepon dan akhirnya ditutup karena tidak saya tanggapi.

Panggilan ketiga pada pukul 11:30 tidak saya jawab karena ponsel saya taruh di tas dan digetar. Sementara saya sudah ke masjid untuk melakukan ibadah sholat Jumat.

Panggilan keempat dan kelima pada hari Jumat tersebut masing-masing adalah pada pukul 13:16 dan 14:33 dengan nomor yang sama seperti pada panggilan pertama sampai ketiga. Kali ini saya terima, namun saya tidak mengucapkan sepatah katapun. Saya terima namun saya biarkan waktu berjalan, sehingga pulsa yang menelepon kena banyak, apalagi berbeda operator mahal.

Karena saya sangat terganggu, maka pada Rabu, 18 Februari 2015 sebelum istirahat makan siang saya loporkan kejadian yang saya alami ini. Saya melaporkan ke kantor cabang bank salah satu bank BUMN terbesar yang melayani saya di kota tempat saya tinggal.

Laporan saya ditanggapi oleh petugas CS. Saya katakan satu per satu panggilan telepon yang sangat menganggu saya tersebut. Saya tanya ke petugas CS apakah bank memberikan data kepada pihak ketiga, ternyata dijawab tidak. Bank tidak pernah memberikan data pribadi nasabah ke siapapun. Laporan saya dicatat petugas CS dengan melampirkan foto kopi KTP saya disertai bukti catatan nomor telepon yang pernah menghubungi saya.

Bahkan petugas CS mengatakan jika ia juga beberapa kali menerima panggilan telepon seperti yang saya alami pada ponselnya. Modusnya juga sama menawarkan kartu kredit atau asuransi. Kata petugas CS, penelepon juga mengetahui bahwa dirinya adalah karyawan bank dan alamat kantor bank dimana ia bekerja.

Yang saya curiga adalah penelepon mengetahui data pribadi saya. Data pribadi yang dimaksud antara lain nomor ponsel, nama lengkap saya, kantor dan alamat kantor saya. Jika bukan karyawan bank yang memberi tahu data pribadi saya, lalu siapa? Sebagai catatan, nomor ponsel saya tersebut yang saya cantumkan pada saat pembukaan rekening. Nomor ponsel saya juga terdaftar untuk transaksi m-Banking dan saya sering menggunakan fasilitas m-Banking. Nomor ponsel saya juga terregistrasi dengan kartu ID e-KTP, namun saya tidak mencantumkan nama kantor dan alamat kantor saya.

Nomor yang menelepon saya semua dari Jakarta (ditandai dengan kode area), sedangkan saya bertempat tinggal dan berkantor di sebuah kota di Jawa Tengah. Saya yakin jika ini ulah teman saya tidak mungkin. Karyawan bank pada bagian CS sendiri mengalami hal yang sama seperti saya.

Mungkin memang benar karyawan yang di cabang tidak membocorkan data pribadi nasabah, namun bisa jadi justru karyawan yang di pusat yang membocorkan. Jika bukan karyawan alternatif lain yang membocorkan data pribadi nasabah adalah ulah para peretas (hacker) yang tidak bertanggung jawab yang akan menguras uang nasabah.

Beberapa hari sebelum kejadian ini saya membaca sebuah berita di media online nasional tentang maraknya uang nasabah yang hilang di luar negeri. Pada berita tetsebut memang tidak disebut Indonesia sebagai korban pembocoran data nasabah. Namun saya dan Anda yang punya rekening di bank harus hati-hati.

Saya ingat pada saat kampanye pemilu legislatif 2014 yang lalu. Saya menerima pesan singkat (SMS) dari calon legislatif (caleg) dari salah satu partai. Uniknya dalam SMS tersebut juga menyebut nama saya dengan benar. Sayangnya bahasa yang digunakan dalam SMS sangat amburadul seperti orang yang tidak berpendidikan. Caleg yang SMS kepada saya dari daerah pemilihan (dapil) yang sesuai dengan tempat tinggal saya.

Rupanya predator penipuan tadi masih mengincar saya sebagai mangsa. Pada hari Rabu, 18 Februari 2015 setelah saya melapor ke bank, pada pukul 16:16 pada saat jam kantor selesai ada panggilan ke ponsel saya dengan nomor +62815 XX23 8039 (Indosat Mentari), sama dengan operator yang saya pakai, namun saya abaikan.

Kalau memang itu benar dari sebuah perusahaan jasa layanan asuransi atau penerbit kartu kredit rasanya tidak mungkin menggunakan Flexi, pasti telepon tetap kabel dari Telkom dan tidak menggunakan ponsel untuk urusan seperti itu. Apalagi nomor yang digunakan berganti-ganti.

Kebetulan saya adalah nasabah yang mengetahui jika ini adalah penipuan. Bagi nasabah yang tidak tahu bisa jadi tertipu dan uang di rekeningnya terkuras habis. Terkurasnya rekening karena salah satu caranya penipu meminta PIN internet banking atau ATM. Penipu berdalaih jika ada masalah pada rekening calon mangsanya. Kalau sudah seperti ini amankah data kita di bank?