Daily Archives: Februari 16th, 2015

Di Jember Lulus SMP/SMA Harus Masih Perawan?


Ilustrasi, foto: tribunnews.com

Ilustrasi, foto: tribunnews.com

Umumnya, seorang siswa bisa dinyatakan sudah lulus jika telah menempuh ujian tertentu. Ujian yang dimaksud adalah ujian nasional, ujian praktik, dan beberapa ujian lain yang diselenggarakan oleh sekolah tempat siswa tersebut belajar. Namun, di Jember selain serangkaian ujian tersebut juga ada ujian yang lain.

Tes keperawanan dan keperjakaan adalah tes lain yang diujikan sebagai syarat kelulusan di Jember, Jawa Timur. Menurut sumber dari Myguru.cf, adalah Mufti Ali, seorang anggota Komisi D DPRD Kabupaten Jember yang pertama kali mengusulkan bahwa siswa harus lolos tes keperawanan untuk bisa lulus jenjang SMP dan SMA.

Usulan dari Ali ini memang bagus, tidak hanya sekedar mencari sensasi saja. Ali mengusulkan hal tersebut karena prihatin tentang maraknya pelajar dengan pergaulan bebas. Tak hanya tes keperawanan saja yang diusulkan Ali, tes keperjakaan juga.

Menurut sumber dari Suratsahabat.com, Jember sudah masuk kategori daerah endemik penyebaran virus HIV Aids dengan kenaikan jumlah penderita hingga 25 persen. Dengan demikian Jember tercatat masuk 10 besar penderita aids terbanyak di Jawa Timur.

Penyebab utama penyakit yang belum ada obatnya saat ini adalah karena pergaulan bebas. Pergaulan bebas di kalangan remaja yang saat ini marak membuat Jember waspada pada penyakit yang belum ada obatnya ini.

Usulan Ali sendiri berawal dari pemikirannya mengenai harus adanya sebuah Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang sikap terpuji atau yang disebut dengan Akhlakul Karimah. Dimana dirinya mengusulkan adanya tes keperawanan dan keperjakaan sebagai point penting dalam Perda tersebut. Dirinya sendiri mengakui kalau ide itu sendiri muncul setelah dirinya mendapatkan curhat (curahan hati) dari beberapa pelajar di Jember yang mengakui sudah tidak perawan lagi karena telah berbuat yang dilarang agama tersebut.

Usulan Ali ini menuai kontroversi, ada yang mendukung namun tak sedikit yang menolaknya. Yang mendukung usulan ini menilai bahwa dengan adanya tes keperawanan ini bisa seminimal mungkin atau bahkan menghilangkan perilaku pergaulan bebas pada remaja terutama anak sekolah.

Bagi yang kontra, tes keperawanan adalah melanggar privasi orang dan melanggar hak asasi manusia (HAM). Siswa dan orang tua akan merasa resah dengan adanya peraturan ini jika nanti benar-benar diterapkan. Beban psikologis siswa akan bertambah jika peraturan ini diterapkan.

Sebelum ujian nasional (UN) banyak yang harus dipersiapkan oleh siswa. Bekal materi pelajaran harus dikuasai oleh siswa. Tak hanya mata pelajaran yang di-UN-kan saja, namun juga mata pelajaran yang lain, termasuk ujian praktik. Selain menguasai materi pelajaran, persiapan fisik dan mental juga diperlukan sebelum ujian. Ditambah lagi harus menjalani tes keperawanan dan keperjakaan ini menambah beban mental siswa.

Jika peraturan ini berlaku nanti siswa dinyatakan lulus tak hanya yang pandai secara akademis yang ditunjukkan nilai saja. Moral siswa juga sebagai taruhan. Moral di sini ditunjukkan dengan masih perawan atau perjaka seorang siswa bisa lulus. Meskipun nilai ujiannya tinggi secara akademis, namun jika tidak perawan dan tidak perjaka juga tidak akan lulus.

Secara medis, seorang wanita yang tidak perawan tidak hanya disebabkan karena sudah pernah melakukan hubungan seksual saja. Seorang wanita bisa saja tidak perawan lagi dalam artian selaput daranya sudah robek bisa jadi karena suatu cedera, misal cedera pada saat berolahraga atau karena suatu kecelakaan.

Lalu untuk pria apakah bisa dikenali apakah masih perjaka atau tidak? Bisa juga, namun tidak serumit masalahnya seperti pada wanita. Secara fisik pria susah, namun bisa diketahui. Tak hanya secara fisik saja, dengan tes kepribadian juga bisa dilakukan.

Memang ini adalah sebuah polemik yang mana akar pangkalnya adalah liberalisasi dari teknologi informasi. Sebenarnya yang salah bukan perkembangan teknologi informasi, namun user atau manusianya yang menelan mentah-mentah informasi yang diterimanya.

Ini pekerjaan rumah (PR) besar tak hanya bagi guru saja. Orang tua juga sangat berperan. Guru mendidik siswa hanya sebatas di sekolah saja hanya beberapa jam, selebihnya diserahkan kepada orang tua. Masyarakat dalam hal ini lingkungan pergaulan siswa juga sangat berperan dalam menjaga akhlak anak bangsa ini.

Dibutuhkan pemahaman agama yang lebih agar masa remaja terhindar dai pergaulan bebas. Pelajaran agama di sekolah umum memang masih minim, hanya 2 jam pelajaran saja. Selebihnya siswa harus menimba ilmu agama di luar sekolah. Sebaiknya kurikulum menambah pelajaran agama di sekolah, tak hanya teori saja, namun butuh praktik juga. Siswa yang orang tuanya selalu memperhatikan ajaran agama kepada anaknya saja masih harus selalu waspada. Bagaimana dengan orang tua yang sibuk dan kurang atau tidak sempat memperhatikan agama pada anaknya?

Pendidikan tentang kesehatan reproduksi remaja juga harus ada pada kurikulum di sekolah mulai dari jenjang SMP. Dengan siswa mendapatkan pelajaran tentang kesehatan reproduksi remaja, diharapkan siswa tidak coba-coba melakukan hubungan lebih jauh sebelum mereka menikah.

Masa remaja adalah masa pubertas. Pada masa ini seorang anak mulai tumbuh menuju kedewasaan. Fisik dan mental tumbuh belum sepenuhnya siap dan butuh bimbingan dari orang dewasa yang mengerti tentang pergaulan antar teman. Pergaulan yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama. Saya yakin semua ajaran agama tidak mengajarkan pergaulan bebas yang bisa berdampak buruk pada mental dan kesehatan umatnya.

Kita tunggu saja apakah Perda Akhlakul Karimah ini nanti berlaku atau diurungkan. Jika memang nanti berlaku dan bagus diterapkan saya yakin daerah lain akan mengikuti.