Daily Archives: Februari 14th, 2015

Tuatunu, Kampung Religi yang Indah di Ujung Pangkalpinang


Kampung TuatunuEdisi wisata kali ini saya ajak Anda ke Pangkalpinang, ibukota dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Tahun 2015 ini adalah Tahun Kunjungan Pangkalpinang (Visit Pangkalpinang 2015). Saya ajak Anda jalan-jalan ke sebuah kampung yang ada di ujung kota yang berarti ‘pangkal kemenangan’ ini.

Namanya Kampung Tuatunu, disebut demikian konon kampung ini adalah kampung yang tertua. Tuatunu terletak di Kecamatan Gerunggang dengan letak geografisnya di ujung Pangkalpinang. Dari pusat kota Alun-alun Taman Merdeka (ATM) sekitar 5 km saja. Dari ATM Anda menuju ke arah Jalan Merdeka kemudian ke arah Jalan Ahmad Yani di Pasar Pagi. Dari Pasar Pagi ke Jalan Kampung Melayu. Tuatunu adalah kampung yang dibelah oleh Jalan Kampung Melayu. Jarak dari Pasar Pagi sekitar 2 km saja.

Jalan Kampung Melayu membelah Tuatunu menuju ke Kampung Airduren, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka. Jalan ini juga menuju ke arah Universitas Bangka Belitung (UBB) di Balunijuk. Di ujung kampung Tuatunu terdapat ‘kolong’ yang airnya sangat jernih. Kolong adalah danau bekas tambang timah rakyat atau Tambang Inkontinensial (TI). Namun kolong juga bisa terjadi secara alami. Jika di Jawa namanya ‘sendang’. Kolong ini airnya mengalir sangat melimpah baik musim hujan maupun kemarau. Mata air kolong sumbernya dari hutan yang ada di sekitar kampung.

Kolong dibatasi dengan dinding tembok, digunakan untuk mandi penduduk. Airnya yang dingin membuat jika mandi di kolong ini sangat sejuk. Tak hanya untuk mandi saja, kolong ini juga digunakan untuk mencuci pakaian dan motor, namun tempatnya dipisah dengan tempat untuk mandi.

Sebelum meninggalkan Tuatunu ada hutan Kota Pangkalpinang. Hutan ini ditanami berbagai tanaman termasuk karet yang menjadi andalan Babel. Di hutan ini juga ada ‘Perigi Pekasem’, perigi dalam bahasa Bangka yang artinya sumur. Konon Perigi Pekasem adalah sumur yang digunakan untuk membuang mayat Belanda yang dilakukan oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Memasuki kampung ini sangat sejuk dan damai. Di kanan dan kiri jalan berjajar rumah penduduk dengan beratapkan asbes, namun ada juga yang beratap genting dari tanah liat. Di Bangka jarang dijumpai atap yang dari genting. Umumnya rumah yang beratap genting adalah rumah yang sudah lama, sementara rumah yang baru atapnya terbuat dari asbes.

Untuk rumah lama berdinding semi permanen, bagian atas terbuat dari kayu sementara yang bawah tembok. Untuk rumah baru dindingnya sudah menggunakan tembok batu bata. Rumah penduduk berjajar di pinggir jalan dengan rapi. Parabola juga banyak menghiasi halaman samping rumah penduduk untuk bisa menikmati siaran TV. Jika tidak menggunakan parabola, hanya bisa menikmati chanel TV beberapa saja, berbeda dengan di Jawa yang bisa menikmati hampir semua chanel stasiun TV nasional.

Mata pencaharian penduduk adalah berkebun. Tanaman andalan yang ditanam adalah sahang (merica atau lada), karet, dan nanas Tuatunu. Selain berkebun, mata pencaharian sebagian penduduk adalah berdagang di Pasar Pagi.

Penduduk Tuatunu sangat ramah, saya bertamu disambut dengan baik. Beberapa kali jika saya ke Pangkalpinang saya sempatkan ke Tuatunu. Seperti pada saat lebaran haji (Idul Adha tahun 2012) saya bertamu ke salah satu rumah warga. Meskipun saya tidak kenal dengan rumah yang saya datangi, namun tuan rumah mempersilahkan saya untuk masuk dan memberi suguhan yang menurut saya ini sangat istimewa.

Di Bangka, selain lebaran Idul Fitri, lebaran haji juga sangat ramai. Berbeda dengan di Jawa yang hanya sholat Id terus potong hewan kurban tanpa ada bertamu ke tetangga atau famili seperti layaknya Idul Fitri. Khusus di Tuatunu lebaran haji sangat ramai, selain potong hewan kurba, acara bertamu ke tetangga dan famili sudah menjadi keharusan. Orang muda biasanya yang bertamu ke yang lebih tua.

Waktu saya bertamu, banyak makanan yang disuguhkan. Rendang dengan ketupat sudah pasti ada di setiap rumah. Setelah makan rendang yang nikmat saya masih disuguhi aneka makanan khas Bangka yang berbahan dasar ikan laut. Sebut saja kericu yang berbahan dasar telur cumi, getes atau kretek yang berbahan dasar ikan tenggiri, serta kempang yang juga berbahan dasar ikan laut yang lain. Tak hanya itu saja, aneka kue basah dan kering juga disuguhkan kepada saya. Untuk minuman tinggal pilih air mineral atau minuman kaleng.

Ada tradisi yang mirip dengan di daerah Jawa, terutama di Solo Raya di daerah pedesaan. Pada hari besar Islam diadakan kenduri di masjid atau di rumah ketua RT untuk berdoa dan membawa makanan. Makanan tersebut dimakan setelah berdoa selesai.

Berangkat Nganggung setelah Sholat Idul Adha

Berangkat Nganggung setelah Sholat Idul Adha

Tradisi yang mirip dengan di Jawa ini namanya Nganggung atau Nganggong. Nganggung adalah acara berdoa di masjid pada saat hari besar Islam. Tradisi nganggung biasanya dilakukan pada hari besar Islam Maulid Nabi, 1 Muharram, Idul Fitri, Idul Adha, dan bulan Ruwah.

Tiap laki-laki kepala rumah tangga datang ke masjid membawa makanan. Makanan ditempatkan di sebuah tempat dan ditutup dengan tudung saji. Tradisi ini sudah ada sejak jaman dulu, namun meskipun jaman sudah modern masih tetap dipertahankan. Setelah berdoa, makanan dimakan bersama-sama. Makanan yang dibawa antara lain ketupat, lepet, rendang dan aneka kue dan makanan khas Bangka yang sudah disebutkan di atas.

Tuatunu tidak begitu luas dan penduduknya tidak banyak, namun banyak berdiri masjid. Penduduk di sini sangat menjunjung adat dan budaya Melayu yang kental dengan religi Islamnya. Dari awal masuk perkampungan sudah ada dua masjid, belum yang di dalam perkampungan berjarak bahkan tidak sampai 200 m. Total kampung ini mempunyai lima masjid yang saya lihat, termasuk Masjid Raya Tuatunu. Masjid ini adalah kebanggaan tidak hanya penduduk Tuatunu saja, namun juga penduduk Kota Pangkalpinang dan Babel.

Masjid Raya Tuatunu sebelum sholat Idul Adha

Masjid Raya Tuatunu sebelum sholat Idul Adha

Masjid Raya Tuatunu sangat modern, dilengkapi dengan peralatan elektronik yang canggih, termasuk bedug elektronik. Saya selalu sempatkan sholat di masjid ini jika ke Pangkalpinang. Masjid ini juga pernah dikunjungi oleh Presiden SBY pada tahun 2008 pada acara Isra’ Mi’raj. Kebetulan waktu itu saya juga berada di di Pangkalpinang, jadi saya berkesempatan mengikuti pengajian akbar bersama mantan orang nomor satu di republik ini.

Tak hanya dihadiri oleh warga Kota Pangkalpinang saja pada acara Isra’ Mi’raj tersebut, namun juga warga di penjuru provinsi ikut menghadirinya. Turut hadir pada waktu itu beberapa pejabat negara, termasuk Imam Masjid Istiklal. Kesempatan ini digunakan oleh pemerintah kota untuk memperkenalkan Pangkalpinang dan juga Kampung Tuatunu. Ribuan nanas Tuatunu yang terkenal besar dan manis dipajang di sisi kanan dan kiri jalan menuju Masjid Raya Tuatunu. Setelah selesai acara, nanas-nanas tadi dibagikan kepada pengunjung yang hadir.

Meskipun masih muda, namun nanasnya sangat besar, panjang nanasnya saja sekitar 33 cm

Meskipun masih muda, namun nanas Tuatunu sangat besar, panjang nanasnya saja sekitar 33 cm

Di Tuatunu yang terkenal adalah komoditas nanas. Nanas-nanas ini sudah dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk ke Jakarta. Saat ini tak hanya Tuatunu saja penghasil nanas besar ini, namun sudah banyak ditanam pada perkebunan di Babel.

Jika Anda ke Kota Pangkalpinang, sempatkan ke Tuatunu dan jika Anda Muslim sempatkan sholat di Masjid Raya Tuatunu. Dan, jika musim panen nanas, Anda bisa membeli nanas yang besar dengan harga per buah hanya dua sampai lima ribu rupiah saja, bahkan jika Anda datang ke kebun penduduk bisa makan sepuasnya di tempat secara gratis.