Daily Archives: Februari 10th, 2015

Asik Siswa Sarapan di Sekolah Tapi Dananya …


Ilustrasi sarapan di sekolah, foto: sekilan.com

Ilustrasi sarapan di sekolah, foto: sekilan.com

Menteri Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan akan menerapkan program sarapan di sekolah. Program ini bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan. Program sarapan di sekolah ini sebenarnya pernah ada di pemerintahan SBY pada tahun 2011, namun tidak berlanjut sampai sekarang.

Namun, sebelum program ini benar-benar dilaksanakan sebaiknya dipikirkan secara matang. Jangan sampai program yang telah ada sejak 2011 itu terbengkalai lagi. Anies harus memikirkan bagaimana teknik pelaksanaannya. Apakah sarapan harus disediakan dari sekolah atau dari katering. Jika dari sekolah saya yakin akan kewalahan, apalagi jika sekolah memiliki siswa yang banyak.

Jika harus katering, maka yang perlu diperhatikan adalah menu sarapan yang disajikan juga harus sesuai dengan standar nilai gizi. Makanan yang higienis juga harus diterapkan secara ketat. Tak hanya itu saja, sebaiknya menu sarapan juga harus dari bahan yang segar, bukan instan. Jika hanya instan saja mudah namun nilai gizinya tidak ada. Jika dari bahan instan justru akan menimbulkan masalah yang lain, seperti masalah kesehatan.

Jangan sampai program yang bagus namun di lapangan justru sebaliknya. Jangan sampai laporan secara fisik hitam di atas putih bagus namun realitas di lapangan amburadul. Jika hal ini terjadi, maka akan menimbulkan celah korupsi baru di negeri ini.

Variasi menu juga harus dipertimbangkan, karena jika hanya itu-itu saja maka akan membosankan bagi siswa. Program sarapan ini apakah dilaksanakan setiap hari atau sepekan sekali sampai saat ini beritanya belum ada. Jika hanya sepekan sekali sepertinya kurang efektif, karena siswa belajar setiap hari dari Senin sampai Sabtu.

Untuk siswa di tingkat KB, TK, dan SD masih bisa dilaksanakan. Namun jika di tingkat SMP ke atas maka ini akan sulit dilaksanakan. Dari segi usia siswa sampai tingkat sekolah dasar masih memungkinkan karena ini adalah bagian dari edukasi, namun untuk sekolah menengah mungkin ini akan menjadi masalah.

Program sarapan di sekolah ini menurut pendapat saya bagus, namun biaya juga harus diperhitungkan secara matang. Biaya biasanya yang menjadi kendala. Apakah dibebankan pada dana BOS atau iuran dari orang tua siswa.

Di beberapa sekolah swasta tingkat TK dan SD yang bagus sudah menerapkan sarapan di sekolah. Bahkan tak hanya sarapan saja, makan siang juga sudah diterapkan. Sekolah tinggal minta persetujuan dari orang tua atau wali tentang dananya. Namun bagi sekolah negeri maupun swasta yang bukan dari kalangan orang tua atau wali siswa yang mampu maka ini juga menjadi kendala jika tidak ada BOS.

Untuk sekolah yang berada di daerah, program ini mungkin ada kendalanya. Anies juga harus memikirkan kemungkinan terburuk dari sebuah program kerja, jangan hanya yang baik saja. Kalau yang baik yang sudah pasti bisa berjalan tidak perlu dipikirkan, namun jika ada kemungkinan terburuk maka ini yang harus disikapi secara serius.

Misalnya sekolah-sekolah yang ada di daerah terpencil yang jauh dari kota, ini akan menjadi masalah. Akses transportasi yang sulit membuat distribusi makanan akan terhambat. Sarapan sebaiknya dilakukan sebelum siswa belajar, namun jika ada kendala masalah transportasi dalam logistik, maka sarapan akan sampai di sekolah sudah siang yang kondisinya sudah rusak/basi, bahkan tidak sampai.

Di daerah terpencil juga susah didapatkan bahan makanan yang layak untuk dijadikan sarapan. Ini adalah tantangan tersendiri. Tak jarang pada musim kemarau di daerah tertentu sulit didapatkan sumber makanan. Siswa sering tidak sarapan sebelum berangkan ke sekolah karena faktor tersebut.

Yang menjadi pertimbangan program sarapan ini adalah karena maraknya anak sekolah yang tidak sarapan di pagi hari. Setelah di sekolah pun waktu tidak memungkinkan untuk sarapan karena bel telah berbunyi sewaktu siswa sampai di sekolah. Para siswa yang tidak sarapan ini selain dari kalangan keluarga kurang mampu ternyata justru banyak yang dari kalangan keluarga mampu.

Alasan siswa tidak sarapan di rumah bermacam-macam. Alasan yang paling klasik adalah mengejar waktu karena macet. Ini terjadi di kota-kota besar seperti di ibukota dan sekitarnya. Belum ada nafsu makan karena terlalu pagi juga menjadi alasan kenapa pagi tidak sarapan di rumah.

Tak sedikit orang tua yang sudah menyiapkan sarapan, namun banyak yang disia-siakan. Alasan tak ada selera dengan menu yang ada adalah alasan yang juga sering terjadi. Pada hal menu yang di rumah justru banyak yang memenuhi nilai gizi yang baik. Sarapan di sekolah seperti di kantin tak menjamin nilai gizi terpenuhi. Bahkan malah tidak sehat, seperti saus yang mengandung pewarna buatan serta masakan yang mengandung penyedap yang tentunya tidak bagus untuk kesehatan.

Pemerintah juga harus memberikan edukasi kepada siswa tentang pentingnya sarapan sebelum belajar. Materi pelajaran tentang pentingnya sarapan misal dimasukkan pada pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan. Tak hanya pada siswa saja, edukasi juga harus diberikan kepada orang tua. Jika diperlukan seluruh orang tua atau wali dikumpulkan di sekolah membahas tentang pentingnya sarapan bagi siswa.

Semoga saja program sarapan di sekolah ini bisa dilaksankan dengan baik. Jangan hanya baik di depan saja namun buruk di belakang. Jangan hanya program ini baik pada saat awal saja dan tidak berkelanjutan seperti pada pemerintahan sebelumnya.