Ini Masalah yang Timbul Setelah Kembali ke KTSP


KTSP vs K13Kurikulum 2013 (K13) dihentikan oleh Menteri Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikbud) Anies Baswedan. Pengumuman penghentian K13 ini disampaikan pada akhir semester gasal 2014/2015 pada Desember 2014 yang lalu. Penghentian K13 ini bagi sekolah yang baru melaksanakan K13 satu semester, sekolah yang sudah melaksanakan K13 tiga semester tetap melanjutkan.

Semua sekolah baik di lingkungan Kemendikbud maupun Kemenag yang baru melaksanakan K13 satu semester harus menghentikan dan kembali ke Kurikulum 2006, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Namun, sekolah di lingkungan Kemenag (Madrasah) menggunakan dua kurikulum pada tingkat yang sama, misal kelas VII pada MTs dan kelas X pada MA. Untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab tetap menggunakan K13, namun pelajaran umum kembali ke KTSP.

Awalnya penghentian K13 disambut baik oleh sebagian besar guru. Tak terkecuali bagi guru TIK yang pada K13 mata pelajarannya ditiadakan. Selain guru TIK, guru mata pelajaran yang lain juga ikut senang. Harapannya setelah kembali ke KTSP guru tidak terlalu banyak beban administrasi yang dilakukan, termasuk pada penilaian.

Namun, setelah kembali menggunakan KTSP, ternyata terdapat beberapa masalah. Berikut masalah yang timbul setelah kembali ke KTSP tersebut.

Buku K13 untuk apa?

Tak sedikit sekolah yang sudah memesan buku pelajaran K13, terutama sekolah swasta. Jika sekolah kembali ke KTSP, maka buku yang digunakan tentu buku lama yang masih menggunakan KTSP. Ini akan menjadi masalah tersendiri bagi sekolah. Bagi sekolah yang sudah membayar dan buku sudah dikirim maka rasanya tidak mungkin buku dikembalikan lagi. Orang tua siswa yang sudah membayar buku bisa jadi menanyakan tentang uang untuk membayar buku. Buku akan digunakan lagi nanti jika K13 dilaksanakan kembali, namun kapan dilaksanakan K13 sampai saat ini belum diketahui kepastiannya.

Bagi sekolah yang mendapatkan buku pelajaran K13 dari pemerintah, maka tidak begitu masalah karena orang tua siswa tidak mengeluarkan uang untuk biaya buku. Namun, dengan dikirimnya buku ke sekolah juga akan membuat buku hanya ditumpuk di perpustakaan saja.

Perbedaan materi pelajaran antara K13 dan KTSP

Beda kurikulum pasti beda materi yang diajarkan. Meskipun pada jenjang pendidikan yang sama, pada tingkat yang sama, perbedaan kurikulum tentu berbeda pula materinya, meskipun tak jarang ada yang sama. Contohnya pada jenjang kelas 1 SD yang semula (KTSP) materi pelajaran dipisah sendiri-sendiri, namun pada K13 materi pelajaran menjadi tematik. Terdapat beberapa tema dalam satu semester untuk beberapa mata pelajaran. Pada KTSP antara mata pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lain terpisah. Pemisahan mata pelajaran ini membuat penilaian menjadi lebih mudah.

Contoh lain pada jenjang SMP pada mata pelajaran matematika. Untuk kelas VII, materi pelajaran matematika SMP antara K13 dan KTSP ada yang sama dan ada yang berbeda. Pada semester gasal K13 materi pelajaran yang diajarkan antara lain himpunan, serta garis dan sudut. Kedua materi ini pada KTSP diajarkan pada semester genap. Jadi jika semula menggunakan K13 kemudian menggunakan KTSP ini artinya akan mengulang materi yang sama. Sementara materi aritmatika sosial serta persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel pada KTSP ada di semester gasal yang waktunya telah menggunakan K13.

Ini menjadi masalah bagi guru yang mengajar matematika di kelas VII. Guru akan terbebani dengan mata pelajaran yang tidak ada pada semester satu seperti aritmatika sosial serta persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel. Jika guru tidak mengajarkan, maka ini akan sangat memberatkan guru yang mengajar pada kelas di tingkat berikutnya. Materi persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel sebagai dasar untuk mempelajari materi persamaan dan pertidaksamaan linear dua variabel pada kelas VIII semester gasal untuk KTSP.

Tak hanya pada pelajaran matematika saja yang bermasalah. Pelajaran TIK juga ada masalah. Pada kelas VII semester gasal menggunakan K13. TIK pada 13 tidak ada, sebagai gantinya adalah pelajaran prakarya. Setelah kembali ke KTSP maka siswa harus belajar TIK. Guru TIK juga kebingungan dalam memberikan materi mana dulu yang harus diajarkan, karena materi semester satu tidak diajarkan karena waktunya digunakan untuk K13. Pelajaran TIK untuk kelas VII baru didapat pada semester genap pada KTSP. Pada hal materi pelajaran TIK antara semester satu dan dua saling berkesinambungan.

Untuk jenjang SLTA baik SMA, MA, dan SMK juga pasti ada masalah setelah kembali ke KTSP. Masalah yang sering muncul adalah perbedaan materi pelajaran yang diajarkan antara semester gasal yang menggunakan K13 dan semester genap yang menggunakan KTSP. Jika materi pelajaran pada semester gasal yang tidak ada bukan merupakan prasyarat bagi tingkat kelas berikutnya tidak begitu masalah, namun jika sebagai prasyarat maka ini akan menjadi masalah besar.

Format rapor membingungkan

Masalah berikutnya yang muncul adalah format dalam laporan hasil belajar siswa dari sekolah kepada orang tua siswa yang berupa rapor. Dua jenis rapor pada jenjang yang sama, ini artinya untuk kelas VII dan kelas X dalam setahun menerima rapor yang berbeda. Pada semester gasal orang tua siswa menerima rapor untuk K13 dan pada semester genap menerima rapor untuk KTSP.

Jelas sekali penilaian antara K13 dan KTSP berbeda, ini akan membuat orang tua siswa juga kebingungan. Tak jarang rapor juga digunakan untuk syarat dalam pendaftaran ke jenjang berikutnya. Jika rapornya berbeda kurikulum maka ini akan membuat masalah lagi.

Semua kebijakan pasti akan membawa dampak baik dan tidak baik. Termasuk kebijakan yang harus kembali ke KTSP setelah sebelumnya menggunakan K13.

Iklan

3 responses

  1. saya pernah iseng baca buku pelajaran adik saya. saya lihat isinya bagus, intinya memahami bukan menghafalkan materi. ya mungkin jd beban berat jd guru karna blum terbiasa atau lbh nyaman dg sistem yg lama. kasih soal dinilai beres, sedang yg ktsp harus mahami murit2nya, baru di nilai.

  2. jika saya lihat buku K13, saya teringat ucapan guru saya ketika SD dulu “jangan bukunya seperti gado-gado”. mana mungkin anak kita mempelajari pelajaran yang tidak jelas seperti apa cita rasanya (andaikan makanan). jadi saat ini prilaku pelajar sudah tak jelas juga akibat dari pelajaran dari gurunya yang tidak jelas. bahkan peraturan Undang2 kita inipun jadi tak jelas karena pembuatnya juga tak jelas. sehingga prilaku pelajar jadi beringas karena guru dikebiri dan tidak berdaya didepan kelas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: