Bertemu dengan Novelis ‘Negeri 5 Menara’ dan Aktivis Kemanusiaan Sunaryo


Ahmad Fuadi 'Negeri 5 Menara' sebagai pembicara

Ahmad Fuadi ‘Negeri 5 Menara’ sebagai pembicara

Pertemuan dengan novelis ‘Negeri 5 Menara’ ini karena undangan sebuah acara workshop yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kegiatan ‘Motivasi dan Pelatihan Jurnalistik Remaja’ dengan tema ‘Inspirasi Menulis dan Kemanusiaan’ ini diselenggarakan di Pendopo Kabupaten Klaten pada Selasa (06/01/15). Undangan ini untuk dua orang siswa SMP/MTs dan SMA/MA/SMK. Tiap sekolah di Klaten diundang dua siswa dan seorang guru pembimbing.

Novel Negeri 5 Menara yang terkenal sampai sekarang ini ditulis oleh alumni Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur. Novel yang juga difilmkan ini ditulis oleh Ahmad Fuadi yang lahir di Bayur 1972, sebuah kampung kecil di pinggir Danau Maninjau, Padang, Sumatera Barat.

Awalnya Fuadi tidak mau belajar di Gontor, namun karena permintaan ibunya akhirnya dengan setengah hati Fuadi mau juga. Gontor yang mengajarkan ‘man jadda wa jadda’, siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses.

Setelah dari pondok Gontor, Fuadi melanjutkan studi di Universitas Padjajaran (UNPAD) dengan jurusan hubungan internasional. Lulus dari UNPAD, Fuadi menjadi wartawan majalah Tempo. Tugas jurnalistik pertamanya dijalani dengan reportase di bawah bimbingan para wartawn senior Tempo. Tahun 1999 mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S-2 di School of Media Anad Public Affairs, George Washington University, AS dan beberapa besasiswa yang lain. Sambil kuliah, Fuadi menjadi koresponden Tempo dan wartawan Voice of America (VOA).

Saat ini Fuadi sibuk sebagai penulis, jadi pembicara dan motivator, serta membangun yayasan sosial untuk membantu pendidikan bagi orang yang tidak mampu. Novel perdananya Negeri 5 Menara telah mendapat beberapa penghargaan, atara lain Nominasi Khatulistiwa Award 2010, Penulis & Buku Fiksi Terbaik 2011 dari Perpustakaan Nasional. Negeri 5 Menara juga telah diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama, dan menjadi salah satu film terlaris tahun 2012.

Novel Negeri 5 Menara edisi Bahasa Inggris menjadi buku wajib/rekomendasi SMA di Australia, SMP di Singapura dan di University of California Barkely, AS. Dari novelnya, Fuadi banyak tawaran menjadi pembicara di berbagai diskusi, seminar, dll di lima benua dan puluhan negara antara lain di Rusia, Australia, Malaysia, Singapura, Jerman, India, tiongkok, dan AS.

Menurut Fuadi, dengan menulis bisa menembus segala batas pergaulan dan menyampaikan kebaikan. Tulisan lebih kuat dari pada peluru. Peluru membuat orang mati hanya satu kepala saja, namun tulisan bisa menghidupkan jutaan orang lewat kepala. Tulisan juga sebagai karpet terbang, dengan tulisan orang bisa terbang kemanapun dengan gratis, karena banyak undangan sebagai pembicara di berbagai negara.

Ternyata menulis juga bisa membuat orang awet muda. Meskipun penulis sudah meninggal, namun karya-karyanya masih terus dibaca orang sampai ratusan bahkan ribuan tahun. Tulisan bisa menjadi apa saja, seperti pada novel Negeri 5 Menara bisa dibuat film, musik, dan Fuadi berencara akan menjadikan novelnya menjadi komik.

Foto bareng Sunaryo Adhiatmoko

Foto bareng Sunaryo Adhiatmoko

Lain Fuadi lain lagi dengan penulis dan juga wartawan yang satu ini. Namanya Sunaryo Adhiatmoko, seorang jurnalis dan aktivis kemanusiaan. Sunaryo yang lahir di Trenggalek, Jawa Timur 1977 juga tak kalah dengan Fuadi. Bedanya, jika Fuadi pergi ke berbagai negara yang damai dan sejahtera, sebaliknya dengan Sunaryo, yang selalu pergi ke negara yang konflik dan dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit.

Sunaryo saat ini telah menjelajah di tiga benua dan delapan belas negara konflik. Negara konflik yang pernah dikunjungi Sunaryo antara lain Plestina yang harus melalui jalur Gaza, Thailand, Tiongkok, Myanmar, dan beberapa negara di Afrika, termasuk Somalia.

Sunaryo menceritakan tentang tragedi kemanusiaan yang ada di Somalia, khususnya dengan kaum muslim yang ada di sana. Dalam video yang ditayangkan membuat siapa saja yang melihatnya bisa meneteskan air mata. Dalam video tanpa rekayasa, tampak anak-anak yang menjilati bekas tempat memasak nasi dari aktivis kemanusiaan. Mereka makan seminggu hanya dua kali, itu pun jika ada bantuan kemanusiaan.

Sunaryo, salah satu aktivis yang ke Somalia yang hanya 9 hari sangat stres. Awalnya sunaryo tidak diijinkan oleh negara untuk pergi kesana karena alasan keamanan. Di Somalia, tak ada satu pun perwakilan kedutaan. Negara ini adalah negara yang masuk pada daftar negara termiskin dan terkorup menurut sumber dari The Richest. Selama 9 hari Sunaryo berpindah-pindah kamp dan hotel karena keamanan. Ia dan teman-temannya juga harus membayar 200 dolar AS per hari kepada tentara bayaran supaya keamanannya terjamin.

Dia menceritakan jika orang meninggal di sana tidak ada yang berkabung, karena sudah hal yang biasa. Mereka meninggal karena kelaparan. Pernah suatu saat ada seorang ibu yang menarik tangan Sunaryo sambil menangis dan menunjukkan anaknya yang meninggal karena kelaparan. Ibu itu menggali lubang sendiri dan menguburkannya sendiri tanpa ada yang peduli membantunya.

Di Somalia ada sekitar 6000 pengungsi karena perang saudara. Namun, meskipun dalam keterbatasan dan kekurangan serta kelaparan, terdapat sebuah gubug dengan dinding dari seng dan berlantai tanah yang merupakan tempat bagi anak-anak muslim belajar berbagai hal, termasuk agama dan menghafal Al Qur’an.

Di Somalia, yang berkuasa adalah yang punya senjata. Bahkan presiden Somalia sampai mengungsi ke negara tetangga di Kenya.

Terakhir Sunaryo berkata: “Sebuah tulisan bisa membuat perdamaian dan juga bisa menyebabkan peperangan”. Sunaryo saat ini mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak dari orang tua yang kurang mampu. Pendirian sekolah ini karena sewaktu kecil ia miskin, jangan sampai anak-anak dari keluarga miskin tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

Sebelum selesai, para siswa peserta workshop diberi tugas untuk membuat tulisan dari video tentang tragedi kemanusiaan yang ada di Somalia. Tulisan tersebut harus dikirim via email yang telah diberikan oleh Sunaryo. Bagi 50 terbaik dari ratusan peserta akan dipanggil kembali untuk mengikuti pelatihan tingkat selanjutnya.

Saya dan dua siswa yang saya bimbing bisa berfoto dengan Sunaryo, namun tidak bisa dengan Fuadi karena setelah Fuadi selesali sebagai pembicara pada sesi pertama ia langsung buru-buru menuju ke bandara karena pada sekitar pukul 13.00 sudah harus berada di Jakarta juga sebagai pembicara.

Iklan

3 responses

  1. wah ada wartawannya juga ya

  2. Orang2 yg inspiratif.. makasih sdh sharing pengalaman mereka di sini 🙂

  3. Inna lillah … separah itu yang terjadi di Somalia ya.

    Mereka berdua inspiratif. Saya pun pernah menghadiri sesi Fuadi, di Makassar 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: