Guru Senang Kurikulum 2013 Dihentikan, Lampu Hijau Bagi Guru TIK?


Siswa belajar TIK

Siswa belajar TIK

Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan mengumumkan penghentian pelaksanaan Kurikulum 2013 pada Jumat (05/12/2014). Penghentian Kurikulum 2013 ini berlaku bagi sekolah yang melaksanakan pada tahun pelajaran 2014/2015 atau baru satu semester. Bagi sekolah yang sudah melaksanakan tiga semester sejak 2013/2014 untuk melanjutkan, namun bagi yang merasa keberatan karena ketidaksiapannya diharapkan mengajukan kepada Dinas pendidikan.

Penghentian Kurikulum 2013 ini disambut baik oleh guru-guru. Termasuk guru SD dan guru TIK. Dengan dihentikannya Kurikulum 2013 ini, maka pada semester genap 2014/2015 kembali menggunakan kurikulum tahun 2006 yaitu KTSP.

Dari hasil wawancara saya kepada sejumlah guru di beberapa daearah, mereka menyatakan senang jika Kurikulum 2013 dihentikan. Wawancara saya lakukan via telepon seluler pada Minggu malam (07/12/2014). Berikut ini hasil wawancara saya, yang sudah diolah, namun tidak mengurangi maknanya.

Wawancara pertama saya kepada Ibu Widaningsih. Guru kelas satu SD Negeri 2 Guli, Kecamatan Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah ini menyambut gembira karena dihentikannya Kurikulum 2013. Guru yang sudah mengajar sejak 1986 ini mengatakan jika buku Kurikulum 2013 belum ada. Sekolah tempat ia mengajar baru satu semester melaksanakan Kurikulum 2013.

Menurut Ibu Wid panggilan akrabnya, ia dan teman-temanya sudah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013 selama 5 hari. Meskipun sudah mengikuti 5 hari pelatihan, namun untuk pelatihan dalam hal penilaian belum ia dapatkan, sehingga ia dan teman-temanya masih kebingungan dalam menilai.

Pada Kurikulum 2013 di SD tematik, untuk semester pertama kelas satu ada 4 tema, namun baru 2 tema yang ia dapatkan, yaitu tema pertama dan kedua. Tema ketiga dan keempat belum ia dapatkan, sehingga harus mencari sendiri di internet. Ia menuturkan jika ini adalah kesulitan bagi dirinya dan juga teman-temannya. Tidak semua guru SD bisa komputer dan tidak semua guru SD bisa menggunakan internet dan tidak setiap sekolah ada akses internet.

Di SD Negeri 2 Guli kelas yang melaksanakan Kurikulum 2013 adalah kelas 1, 2, 4, dan 5. Sementara kelas 3 dan 6 masih menggunakan KTSP. Untuk penilain sikap spiritual (KI1) dan sikap sosial (KI2) di SD tersebut hanya guru yang menilai berdasarkan observasi setiap hari. Siswa tidak dilibatkan karena bagi siswa ini sangat terbebani. Untuk format rapor yang digunakan Ibu Wid juga masih bingung karena belum ada kepastian, meskipun sudah ada beberapa aplikasi.

Wawancara kedua saya dengan Ibu Endang Siswati. Guru yang mengajar di SD Negeri Pejagan 02, Kecamatan Tanjung, Brebes, Jawa Tengah ini merasa bebannya berkurang dengan dihentikannya Kurikulum 2013. Di SD ini baru satu semester melaksanakan Kurikulum 2013.

Menurut Ibu Endang, ia senang Kurikulum 2013 dihentikan karena sukar dalam menilai. Guru yang mengajar di kelas satu ini mengatakan jika muridnya belum bisa mengikuti proses pembelajaran dengan tematik. Guru yang mengajar sejak 1982 ini mengaku jika buku untuk Kurikulum 2013 di sekolah tempat ia mengajar sudah ada.

Meskipun Ibu Endang sudah mendapatkan pelatihan 5 hari, namun ia tetap kebingungan. Untuk penilaian KI1 dan KI2 dengan pengamatan setiap hari, tidak menggunakan skala sikap yang dibagikan ke siswa. Tak hanya ia saja yang merasa kebingungan, teman-temannya yang mengajar di kelas 2, 4, dan 5 selama satu semester ini dengan Kurikulum 2013 juga setali tiga uang. Di SD Negeri Pejagan 02 untuk format rapor yang harus ditulis belum ada, sehingga ini menambah pusing para guru.

Wawancara ketiga saya dengan Bapak Nur Kholis, guru SD Negeri 3 Tanggung, Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah. Senang dengan dihentikannya Kurikulum 2013. Menurutnya, ia dan teman-temannya merasa kesulitan dalam menilai pada Kurikulum 2013. Penilaian pada Kurikulum 2013 menurutnya sangat ribet. Untuk penilaian KI1 dan KI2 hanya dilakukan oleh guru dengan pengamatan setiap hari.

Menurut Pak Nur, panggilan akrabnya, di sekolah tempat ia mengajar baru satu semester melaksanakan Kurikulum 2013. Kelas yang sudah melaksanakan yaitu kelas 1, 2, 4, dan 5. Menurutnya, pada Kelompok Kerja Guru (KKG) sempat meminta kepada pengawas supaya Kurikulum 2013 dihentikan, karena banyak guru yang kebingungan pada penilaian. Menurutnya, dalam satu tema terdapat 7 mata pelajaran.

Menurut guru yang mengajar sejak 2009 ini pada Ulangan Tengah Semester (UTS) soal 1 paket per sub tema ada 7 mata pelajaran. KI3 (pengetahuan) per mata pelajaran (mapel) per Kompetensi Dasar (KD) tidak ada panduan, sehingga memusingkan ia dan teman-temanya. Guru disuruh memilah-milah sendiri masuk dalam mapel apa pada tiap sub tema, sehingga membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengoreksinya.

Lampu hijau bagi guru TIK?

Wawancara keempat saya dengan guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Bapak Muhammad Dzikron, guru MTs Muhammadiyah Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Menurut Pak Dzikron, ia dan teman-temannya sangat senang dengan dihentikannya Kurikulum 2013. Pasalnya, jika masih diteruskan maka ia sebagai guru TIK akan kehilangan jam mengajar karena pada Kurikulum 2013 tidak ada jam pelajaran TIK.

Guru yang lulusan sarjana komputer di sebuah universitas swasta di Jakarta ini mengaku sebelum pemberlakukan Kurikulum 2013 ia mengajar TIK kelas 7, 8, dan 9. Namun, setelah ada Kurikulum 2013 ia hanya mengajar kelas 8 dan 9 saja. Guru yang baru mengajar 4 tahun ini berharap dengan dihentikannya Kurikulum 2013 maka ini adalah lampu hijau bagi guru TIK untuk dapat menjadi guru lagi. Karena dengan dihentikannya Kurikulum 2013, sekolah kembali memakai KTSP yang ada mapel TIK.

Wawancara kelima saya dengan guru TIK juga. Ibu Dwi Setyorini, meskipun ia merasa senang, namun itu hanya setengah saja, tidak seperti pada keempat narasumber saya. Meskipun Kurikulum 2013 dihentikan, namun kebijakan itu bisa saja tidak berlaku pada sekolahnya. Guru yang mengajar di SMP Negeri 2 Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung ini mengatakan jika di sekolah tempat ia mengajar sudah menggunakan Kurikulum 2013 sejak 2013/2014. Ini berarti tetap melanjutkan Kurikulum 2013 karena sudah 3 semester melaksanakannya.

Menurut guru yang sudah lulus sertifikasi TIK ini menjadi bingung karena untuk Kurikulum 2013 pelajaran TIK tidak ada, namun ia sebagai guru TIK bersertifikasi guru Bimbingan Konseling (BK) TIK. Tugas yang ia emban sangatlah banyak, ia sebagai konseling dari guru dan siswa dalam menggunakan fasilitas komputer dan sejenisnya. Menurutnya, beban yang berat ini tidak hanya sebagai konseling saja, namun administrasi yang harus dibuat yang sangat rumit, seperti guru BK namun ini BK untuk masalah teknologi atau media bagi guru dan siswa dalam pembelajaran. Di SMP Negeri 2 Kota Pangkalpinang yang berjumlah 20 kelas hanya ada satu guru TIK saja, ini yang membuat ia sangat berat.

Apakah Kurikulum 2013 dihentikan sementara atau nanti berlajut dengan nama lain, kita tunggu saja. Ini adalah PR dari Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah. Harapan guru-ruru adalah jangan sampai kebijakan dalam pendidikan ini tergesa-gesa, sehingga berakibat fatal bagi bangsa ini. Guru sebagai ujung tombak pendidikan adalah yang menerima dampaknya secara langsung. Tak hanya itu saja, siswa dan orang tua siswa juga akan terkena dampak dari kebijakan yang tidak matang.

Iklan

4 responses

  1. Baguuus…..sbgai bhan referensi… makasih infony

    1. Itu hasil wawancara saya, mereka semua bilang senang banget.

  2. Mantebb pak .. repost yaaa ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: