Kurikulum 2013, Siswa: Pak, Kenapa Siswa Disuruh Menilai Juga?


IMG_20141127_215749Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang berbasis saintifik. Kurikulum ini sudah digunakan mulai tahun pelajaran 2013/2014, namun baru sedikt sekolah yang menerapkannya. Hanya sekolah tertentu yang ditunjuk oleh dinas pendidikan saja yang menerapkan. Pada tahun pelajaran 2014/2015 serentak semua sekolah sudah harus menerapkan kurikulum 2013 pada peserta didik baru.

Masih banyak masalah yang timbul dari pemberlakuan kurikulum 2013 ini. Guru yang belum diberi pelatihan adalah kendala yang sering dihadapi oleh guru. Ada juga guru yang sudah diberi pelatihan namun masih bingung. Kebingungan guru ini wajar terjadi karena pada saat pelatihan waktunya hanya sedikit. Tak jarang ada guru yang hanya satu hari saja untuk mengenyam ilmu kurikulum 2013 ini, selebihnya harus cari sendiri.

Pada hal guru adalah ujung tombak dari penerapan kurikulum ini. Sementara orang yang sebagai trainer saja yang tidak terjun langsung di lapangan justru mendapatkan pelatihan terlebih dahulu berhari-hari, bahkan mungkin bisa dua minggu atau lebih. Bisa jadi kondisi di daerah terpencil justru malah lebih parah lagi, ada yang belum mendapatkan pelatihan sama sekali. Jadi para guru harus pontang-panting kesana-kemari untuk mencari sendiri tentang kurikulum 2013.

Masalah yang lain dari kurikulum 2013 adalah belum adanya buku yang menunjang proses belajar mengajar (PBM). Tak sedikit guru yang harus mengakali dengan menggunakan buku pada kurikulum sebelumnya yang materinya masih relevan. Bagi sekolah yang sudah tersambung dengan jaringan internet (Free Wi-Fi) tentu lebih enak, guru bisa mengakses ke internet. Namun, itupun belum maksimal.

Pada kurikulum 2013 berbeda dari kurikulum-kurikulum yang sebelumnya, termasuk juga pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Meskipun pada KTSP sudah ada penilaian karakter, namun pada kurikulum 2013 sangat berbeda. Pada KTSP penilaian tidak melibatkan siswa, artinya guru saja yang menilai siswa. Pada kurikulum 2013, selain guru sebagai evaluator, siswa juga terlibat. Dengan demikian siswa juga harus memberikan penilaian.

Pada kurikulum 2013 penilaian mencakup Kompetensi Inti (KI) sikap spiritual (KI1), sikap sosial (KI2), pengetahuan (KI3), dan ketrampilan (KI4). Penilaian KI1 dan KI2 oleh guru bisa berupa observasi dan jurnal. Untuk penilain KI3 diadakan ulangan harian, UTS, tugas baik lisan maupun tertulis, dan UAS. Sementara untuk penilaian KI4 diperoleh melalui penilaian kinerja, yaitu nilai praktik, portofolio, dan proyek.

Pada KI1 dan KI2 siswa juga dilibatkan dalam menilai. Siswa harus menilai dirinya sendiri dan juga menilai temannya (antar teman). Instrumen penilaian diberikan oleh tiap guru mata pelajaran dalam bentuk daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik. Siswa hanya memberikan tanda cek menurut keadaan masing-masing siswa.

Dalam penilaian antar teman, ada sekolah yang menerapkan tiap siswa menilai hanya satu teman saja secara acak. Caranya tiap guru mata pelajaran membagikan instrumen penilaian KI1 dan KI2 pada masing-masing siswa secara acak yang sudah diberi nama siswa. Jika ada siswa yang mendapatkan namanya sendiri maka harus ditukar dengan temannya. Namun ada juga sekolah yang menerapkan setiap siswa harus menilai semua teman-temannya yang ada di kelas tersebut. Misal jika dalam satu kelas ada 30 siswa, maka tiap siswa harus menilai 29 siswa untuk KI1 dan KI2.

Pernah ada kejadian yang tak terduga di kelas yang saya ajar. Saya adalah guru matematika di sebuah sekolah negeri di sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Pada saat saya membagikan instrumen KI1 di sebuah kelas VII, ada seorang anak yang bertanya kepada saya, sebut saja Budi (bukan nama yang sebenarnya). Pertanyaan Budi tersebut sangat bagus dan itu bisa sebagai evaluasi tentang kurikulum 2013 kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). “Pak, kenapa siswa disuruh menilai juga?”, tanya Budi dengan nada agak kesal. Ia juga berkata lagi: “Pak, kami ini sudah banyak tugas masih disuruh menilai diri sendiri dan juga teman?”. Tak hanya itu saja pertanyaan Budi, “Mending kalau cuman satu mata pelajaran saja ini semua” tambahnya dengan nada kasihan.

Sebagai informasi kepada pembaca, bahwa Budi ini selalu aktif dalam mata pelajaran matematika dan juga mata pelajaran yang lainnya. Tiap ada diskusi kelompok dia sering memberikan komentar atau pertanyaan yang kadang di luar dari dugaan guru. Justru menurut saya, anak yang seperti itu harus diacungin dua jempol.

Saya sampai bingung untuk menjawabnya. Anak yang seperti itu jangan dimatikan kreativitasnya. Saya justru sangat senang jika ada anak yang seperti itu. Akhirnya saya menjawab sesuai dengan sepengetahuan saya. Begini jawaban saya: “Iya, memang pada kurikulum 2013 siswa dilibatkan dalam menilai”. Mungkin jawaban saya kurang tepat dan saya yakin Budi dan teman-temannya tidak puas dengan jawaban saya.

Saya yakin tidak hanya satu Budi saja yang mempunyai pertanyaan seperti itu. Masih banyak Budi-Budi yang lain bahkan mempunyai pertanyaan yang lebih kreatif dalam evaluasi kurikulum 2013 ini. Di sekolah saya hanya menerapkan setiap siswa hanya menilai satu teman pada penilaian antar teman secara acak. Coba bayangkan jika tiap siswa harus meniali semua temannya yang lain. Itu baru satu mata pelajaran, pada hal ada berapa mata pelajaran? Tak hanya itu saja, pada KI2 penilaian ini diterapkan pada setiap kompetensi dasar (KD). Jika setiap mata pelajaran pada satu semester ada 4 KD, berapa kali tiap siswa harus memberikan penilaian? Apakah ini tidak membingungkan siswa? Guru saja orang dewasa yang tugasnya menilai mengalami kesulitan. Dibutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk merekap penilaian untuk KI1 dan KI2 dari tiap siswa, belum observasi dan jurnal dari guru. Itu baru penilain sikap, belum penilaian KI3 dan KI4. Jika seorang guru minimal 5 kelas, maka bisa jadi di sekolah dan di rumah harus bekerja. Terus kapan waktu untuk anak dan keluarga? Kapan harus bersosialisasi dengan masyarakat?

Benar juga apa yang dikeluhkan oleh Budi. Kalau siswa dilibatkan dalam penilaian maka tidak akan efektif. Untuk mensiasati supaya tidak menganggu pelajaran, di sekolah saya menerapkan untuk instrumen KI1 dan KI2 tersebut bisa dibawa pulang dan keesokan hari harus sudah dikumpulkan lagi ke guru masing-masing pelajaran. Pembagian instrumen KI1 dan KI2 diserahkan pada masing-masing guru dan tidak semua mata pelajaran dalam hari yang sama. Tak hanya itu saja, untuk penilaian KI2 tidak harus tiap KD, namun dalam satu semester satu kali saja. Penilaian KI1 dan KI2 oleh siswa diberikan menjelang akhir semester.

Jika Anda sebagai pembaca adalah guru, Anda bisa tuliskan bagaimana penilain KI1, KI2, KI3, dan KI4 di sekolah Anda pada kolom komentar yang ada di bawah ini. Anda yang bukan guru juga dipersilahkan jika memberikan komentarnya tentang kurikulum 2013.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: