Indahnya Menghormati Perbedaan dan Belajar Berkurban


Pemotongan kurban di MAN Model Pangkalpinang

Pemotongan kurban di MAN Model Pangkalpinang

Umat Islam di seluruh dunia memperingati dua hari besar keagamaan, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Meskipun berbeda dengan Idul Fitri, namun ada yang sama pada perayaan Idul Adha. Persamaannya adalah adanya takbir yang mengumandang mulai magrib sampai pada saat akan dilaksanakannya sholat Id. Perbedaannya adalah sebelum Idul Fitri Umat Islam diwajibkan puasa selama sebulan penuh, sedangkan pada Idul Adha puasa disunahkan dua atau sehari menjelang hari raya. Perbedaan yang lain adalah pada Idul Fitri tidak ada penyembelihan hewan kurban namun ada zakat yang harus sudah dibagikan sebelum Sholat Id. Pada Idul Adha tidak ada zakat akan tetapi ada penyembelihan hewan kurban dan dibagi-bagikan setelah Sholat Id dan pada saat hari tasryriq.

Pada tahun 2014 atau 1435 H Umat Islam di Indonesia mempunyai perbedaan dalam menentukan Idul Adha, namun pada Idul Fitri sama meskipun penentuan 1 Ramadan juga berbeda. Menurut ormas Islam Muhammadiyah penentuan Idul Adha (10 Dzulhujjah) jatuh pada Sabtu, 4 Oktober 2014, sedangkan ormas Nahdatul Ulama dan juga pemerintah menetapkan (10 Dzulhijjah) jatuh pada hari Minggu, 5 Oktober 2014.

MTsN Pedan, Daging ditimbang sebelum dibagikan

Daging ditimbang sebelum dibagikan

Meskipun ada perbedaan dalam menentukan Idul Adha, namun hendaknya kita sebagai bangsa yang besar hendaknya senantiasa saling menghormati. Kita harus selalu belajar untuk menghormati perbedaan yang ada. Bukankan pada saat hari besar agama lain kita juga selalu menghormati? Toleransi dan tenggang rasa kita wujudkan dengan adanya libur bersama dan ini sudah diatur oleh pemerintah. Jika dengan umat yang beragama lain saja kita menghormati, seharusnya dengan umat seagama juga demikian. Bukankan dari dulu memang Bangsa Indonesia memang berbeda, namun disatukan oleh bahasa, dan tanah air yang meliputi 17 ribu pulau.

Bhineka Tunggal Ika yang selalu kita dengungkan hendaknya jangan sampai pupus di tengah jalan. Perbedaan bukanlah halangan suatu umat atau bangsa ini untuk menjadi bangsa yang maju, namun justru sebaliknya. Dengan adanya perbedaan maka bisa kita buat kerjasama antar umat dan antar suku di negeri ini. Jangan sampai dengan perbedaan ini kita buat suatu pertikaian. Jika hal iitu terjadi maka akan ada pihak lain yang ingin ‘memancing di air yang keruh’ dan akan memanfaatkannya untuk mengadudomba persatuan dan kesatuan sesama umat dan sesama Bangsa Indonesia.

MTsN Pedan, Gotong-royong memotong daging

Gotong royong memotong daging

Kita harus belajar dari pengalaman yang sudah jika kita pernah beberapa kali terjadi perbedaan dalam penentuan hari besar Islam. Umumnya memang yang terjadi perbedaan adalah penetapan 1 Ramadan dan juga Idul Fitri. Namun sejauh ini kita tidak pernah adanya pertikaian antar umat dan antar bangsa sendiri. Biarlah keyakinan kita masing-masing yang memahami bahwa kapan ditetapkannya hari besar Islam tersebut.

Umat Islam yang mampu harus merelakan sebagian hartanya disumbangkan kepada yang lain. Bentuk pengorbanan ini adalah sedekah dan infak. Namun yang wajib adalah zakat fitrah (fitri) yang dilaksanakan pada saat Ramadan sampai menjelang sholat Idil Fitri. Sementara zakat mal harus dikeluarkan oleh Umat Islam karena harta yang dimiliknya misal penghasilan, ternak, emas, dll yang sudah sesuai dengan nisabnya.

Umat Islam yang mampu juga sebaiknya merelakan hartanya untuk berkurban. Harta yang digunakan untuk berkurban diwujudkan ke dalam hewan seperti kambing atau domba, sapi, kerbau, dan unta. Hal ini meneladani dari sejarah pada saat Nabi Ismail AS dan Nabi Ibrahim AS. Pada saat itu Nabi Ibrahim AS diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya Nabi Ismail AS. Nabi Ibrahim AS yang pada saat itu baru mempunyai putra yang sangat disayangi setelah bertahun-tahun diidamkan justru disuruh menyembelihnya. Namun dengan kuasa Allah SWT akhirnya putra yang disembelih tadi diagantikan dengan kambing yang besar. Sejak saat itu maka Umat Islam diseluruh dunia memperingati Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban.

Sebagai contoh hewan kurban yang disembelih sapi untuk maksimal tujuh orang. Sementara kambing hanya seorang saja. Beberapa komunitas majelis taklim perkumpulan yang ada di masyarakat mencari kelompok untuk mewujudkan kurban ini. Untuk sapi yang beranggotakan tujuh orang bisa dicicil per bulan oleh setiap anggota. Ada juga yang membuat arisan kurban dan tiap tahun ditetapkan tujuh orang untuk memenangkan siapa yang berhak sebagai orang yang namanya disebutkan pada kurban tersebut.

Ini adalah suatu bentuk dari kesadaran individu yang ingin mendapatkan pahala dengan cara berkurban. Masih ada lagi cara yang lain seperti menabung yang nantinya diwujudkan hewan kurban pada saat Idul Adha. Ada juga masyarakat pedesaan yang menabung hewan kurban dengan memeliharanya sendiri, setelah memenuhi syarat umur dan tidak cacat, maka pada saat Idul Adha disembelih untuk dikorbankan.

Berkurban bukanlah masalah yang gampang. Jika tidak ada tekat dari diri sendiri meskipun berlimpah harta maka tidak akan terwujud. Oleh karena itu harus dilatih sejak dini. Latihan kurban ini dimaksudkan supaya anak-anak memahami betapa pentingnya berbagi selain juga mengharap pahala dari allah SWT. Salah satu cara melatih atau belajar berkurban adalah di sekolah. Dari SD sampai SMA dan sederajat banyak sekolah yang melatih siswanya untuk berlatih berkurban. Dengan iuran uang nominal tertentu, maka setelah terkumpul diwujudkan dengan hewan kurban kambing atau sapi.

MTsN Pedan, Penyerahan daging kurban

Penyerahan daging kurban

Seperti yang terjadi di MTs Negeri Pedan, Klaten, Jawa Tengah, tiap tahun siswa-siswi serta guru dan karyawan iuran uang yang besarnya telah ditentukan oleh madrasah dan setelah terkumpul nantinya dibelikan seekor sapi yang disembelih pada saat hari tasyriq. Namun karena sifatnya berkurban dan tidak wajib, maka jika ada siswa yang tidak iuran juga tidak dipermasalahkan.
MTsN Pedan, Daging yang tidak dibagikan dimasak

Daging yang tidak dibagikan dimasak

Pada Lebaran Haji 1435 H siswa-siswi MTs Negeri Pedan berlatih berkurban dengan memotong seekor sapi pada Senin (06/10/14). Sapi yang telah disembelih dibagi-bagikan kepada 15 SD/MI yang ada di sekitar madrasah. Daging kurban yang tidak dibagikan dimasak untuk dinikmati oleh siswa-siswi serta guru dan karyawan.

Sementara di Madrasah Aliyah Negeri Model (MAN Model) Pangkalpinang, Bangka Belitung (Babel) latihan berkurban siswa dilaksanakan pada Selasa (07/10/14) dengan memotong dua ekor sapi. Seperti halnya di MTs Negeri Pedan, di MAN Model daging kurban selain dibagikan ke masyarakat juga dimasak untuk dinikmati oleh warga madrasah. Untuk tahun ini MAN Model mengundang keluarga besar Kemenag Babel untuk mengikuti acara penyembelihan hewan kurban sekaligus menikmati daging kurban. Pembagian daging kurban untuk 50 siswa-siswi yang kurang mampu dan 48 kepala keluarga (KK) yang ada di sekitar madrasah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: