Hati-hati Menerima Tawaran Kartu Kredit


Foto: 9ori.com

Foto: 9ori.com

Kartu kredit adalah kartu yang diterbitkan oleh bank yang menjamin pemegangnya untuk dapat berbelanja tanpa membayar kontan dan pengeluaran belanja itu akan diperhitungkan di rekening pemilik kartu di bank tersebut. Berbeda dengan kartu debit atau yang sering disebut kartu ATM adalah sebuah kartu pembayaran secara elektronik yang diterbitkan oleh bank. Kartu ini dapat berfungsi sebagai pengganti pembayaran dengan uang tunai.

Hati-hati dengan penawaran kartu kredit. Jangan sampai Anda terjebaak pada pusaran kartu yang sebenarnya mungkin tidak Anda butuhkan. Jika Anda mempunyai penghasilan dan tidak mencukupi untuk membuat kartu kredit, jangan coba-coba untuk membuatnya. Anda jangan tergiur dengan promosi yang gencar dilakukan oleh pihak bank penerbit kartu kredit yang bekerja sama dengan toko atau merchant tertentu.

Bagi seorang sales marketing kartu kredit, mencari nasabah bukan persoalan yang mudah. Yang ditawarkan bukanlah makanan atau minuman yang bisa dirasakan atau dicicipi di tempat ia menawarkan produknya. Ini adalah produk jasa yang tidak bisa dicicipi di tempat penawaran produk. Namun, pelayanan atau jasa yang ini adalah bisnis kepercayaan. Seorang sales kartu kredit memang harus pandai dalam mengambil hati calon nasabahnya, namun ia juga harus jujur dalam mengatakan produk layanan kartu kreditnya.

Tak sedikit para sales kartu kredit tidak sejujurnya mengatakan kepada calon nasabah, sehingga tak sedikit pula calon nasabah yang terjebak menggunakan kartu kredit. Pada hal ia sebenarnya tidak menginginkan kartu kredit tersebut. Jika hal ini terjadi pada Anda, maka Anda yang akan menanggung akibatnya dengan membayar sejumlah tagihan yang mungkin tidak Anda ketahui, karena Anda tidak pernah menggunakan kartu Anda untuk berbelanja.

Sales yang tidak jujur tersebut hanya mengatakan tentang enaknya nasabah dimanjakan dengan diskon jika berbelanja dengan kartu pada toko atau merchant yang bekerja sama dengan bank penerbit kartu kredit tersebut. Namun, sales tersebut tidak mengatakan ‘pahitnya’ mempunyai kartu kredit. Sales tidak mengatakan bagaimana nasabah harus membayar biaya tahunan dan juga bunga kartu kredit yang besarnya bisa ‘mencekik leher’ nasabahnya.

Seperti yang terjadi di kantor saya, Kamis 28/08/14 terdapat dua orang sales kartu kredit dari sebuah bank swasta. Ada sesuatu yang janggal pada sales tersebut. Tak seperti sales perusahaan jasa asuransi yang harus mempresentasikan dulu produknya. Mereka langsung mendata karyawan yang ada di kantor saya. Beberapa teman saya menanyakan tentang kartu apa. Sales menjawab jika ia menawarkan sebuah kartu anggota (member card) dari sebuah toko ritail di negeri ini.

Awalnya teman-teman saya banyak yang terkecoh dan langsung mendaftar. Mereka pada menyodorkan kartu identitas KTP. Kebetulan saya tanya pada salesnya, kartu member dari toko apa. Salesnya menjawab dari ********* (sebuah toko riteil) yang juga satu grup dengan bank penerbit kartu kredit yang ditawarkan oleh sales tersebut. Terus saya jawab kalau kartu kredit yang ditawarkan itu kartu kredit, kenapa dari awal tidak mengatakannya? Ini berarti sebuah kebohongan besar. Jika nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, maka tentu pihak nasabah yang lemah.

Begitu saya mengatakan jika itu kartu kredit langsung muka sales tersebut merah pucat. Kebetulan saya mengetahui dan saya pernah ditawari sampai tiga kali kartu kredit yang juga kartu member pada saat saya berbelanja di toko ritai tersebut. Namun saya menolaknya karena ternyata kartu kredit, bukan kartu prabayar.

Kebetulan suami dari teman sekantor saya juga pernah mendapatkan tawaran yang sama seperti itu. Salesnya juga tidak bilang kalau kartu kredit dan akhirnya terjebak, tidak pernah menggunakan kanrtu untuk belanja namun setelah beberapa tahun harus membayar sejumlah uang kepada bank penerbit kartu.

Sales tadi mengatakan jika tidak ada biaya apapun, termasuk iuran tahunan. Jika kartu tidak digunakan juga tidak dikenakan biaya. Itu adalah taktik marketing, Anda jangan mau dibodohin. Apa mungkin sebuah bank mau menanggung nasabah yang tidak mau melakukan aktivitas perbankan tidak membayar biaya administrasi? Sepertinya tidak mungkin hal itu terjadi pada jaman sekarang ini. Coba, apa mungkin ada sebuah operator seluler mau mengaktifkan nomor ponsel pelanggannya pada hal nasabah tidak pernah melakukan isi ulang atau mengeluarkan pulsa untuk SMS, telepon, atau internet? Operator akan rugi besar.

Mungkin benar saat ini nasabah tidak membayar sepeserpun pada tahun pertama, namun pada tahun berikutnya berapa biaya yang harus dibayar pada hal tidak pernah memanfaatkan kartu. Mungkin saat ini pimpinan belum diganti, jika sudah diganti dan kebijakan pimpinan baru berubah dengan mewajibkan semua pemegang kartu baik yang aktif maupun yang tak pernah menggunakan sama sekali harus membayar administrasi, maka ini namanya penipuan. Belum lagi jika pemegang saham mayoritas berpindah tangan, pasti kebijakan baru, bisa jadi biaya ini dan itu dibebankan kepada nasabah.

Kalau sudah buat kartu kredit trus nasabah tidak mempunyai kewajiban membayar administrasi atau iuran lalu bank dapat penghasilan dari mana? Karyawan mau digaji apa? Biaya sewa gedung dan pajak ke negara dari mana? Semua kan dibebankan kepada nasabah. Akhirnya semua teman-teman saya yang daftar tadi membatalan.

Ini adalah keputusan Anda ingin membuat kartu kredit atau tidak. Namun, sebelum melangkah lebih jauh sebaiknya pikirkan matang-matang. Jangan sampai terjebak, tidak pernah menggunakan kartu kredit namun harus membayar biaya ini dan biaya itu.

Iklan

2 responses

  1. Setuju sekali…harus hati-hati dengan tawaran kartu kredit. Lebih baik bijaksana dengan manajeme keuangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: