Asiknya Petik Buah di Kebun Beruas


aKebun (pondok)Petualangan saya di Bangka sangat asik jika berada di alam. Saya adalah orang yang suka mengunjungi tempat-tempat yang masih segar dan alami. Salah satu petualangan saya kali ini adalah ke Desa Beruas, Kecamatan Simpangkatis, Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Belitung.

Saya ditemani oleh Suhardi dan Zaki. Saya diajak ke kebun milik Bapak H. Basri. Jarak Desa Beruas dari pusat Kota Pangkalpinang sekitar 20 km. Kami mengendarai sepeda motor, karena setelah sampai di Beruas, mobil tidak bisa masuk karena jalannnya yang menyempit dan tidak beraspal.

Masuk ke kebun sekitar 2 km dari rumah H. Basri. Kami ditemani oleh pemilik kebun, Basmin. Sangat indah bisa ke kebun yang sangat sejuk dan sampai saat belum bisa saya jumpai di Jawa.
aKebun (sahang jemur)Sampai di kebun kami diperlihatkan oleh tanaman lada atau bahasa Bangka disebut dengan sahang.Kami diajari cara memetik sayang. Sahang-sahang yang sudah tua berwarna merah bisa dipetik, jika masih hijau tidak boleh, karena ini akan menentukan kualitas sahang tersebut. Kami juga diperlihatkan sahang yang baru dijemur, diterangkan bagaimana cara mengolah sahang dari memetik sampai sahang siap dipakai sebagai bumbu masak.
aKebun (sahang panen)Sahang yang telah dipetik direndam dalam air selama satu minggu. Perendaman yang lama ini bertujuan supaya kulit sahang mengelupas. Sahang diangkat terus diayak dengan menggunakan alat mirip wajan berkali-kali sampai kulitnya mengelupas. Proses ini di air mengalir, setelah itu dijemur. Proses penjemuran tergantung teriknya sinar matahari, jika panas, maka dua hari sudah selesai.

Sahang adalah tanaman yang mirip dengan sirih. Tanaman ini bisa tumbuh subur di Bangka. Cara menanam juga tidak sulit. Tiga sampai lima ruas mata dipotong terus dianam di poliback selama 2 bulan. Setelah itu, sahang baru bisa dipindahkan ke lahan yang sudah dipersiapkan, hanya dicangkul saja. Sahang baru bisa berbuah dan bisa dipanen setelah 2 tahun.
aKebun (sahang siap panen)Sahang yang ditanam oleh H. Basri adalah yang kualitas nomor satu. Harga per kg sahang miliknya 150 ribu rupiah. Ini adalah harga yang fantastis. Luas kebun puluhan hektar dan tidak hanya ditanami sahang saja, namun juga tanaman hasil pertanian khas Bangka yang lain.
aKebun (petik manggis)Kami diajak juga memetik manggis. Tanaman manggis di kebun ini tidak tinggi, bahkan ada yang buah manggisnya hampir menyentuh tanah. Asik banget bisa memetik manggis, sebelumnya saya hanya membeli manggis tanpa melihat bagaimana pohonnya. Selain manggis, ternyata juga tanaman kakao. Tak hanya itu pisang juga banyak ditanam di kebun ini.
aKebun (petik nanas)Saya sangat kaget dengan tanaman nanas yang ada di kebun ini. Saya kaget karena ukuran nanas di sini sangat besar. Sangat jauh dari ukuran yang biasa saya jumpai. Saya memetik nanas, namun belum matang. Jika sudah tua nanas di sini per buah bisa mencapai 3 kg, luar biasa.
aKebun (sm Basmin)Ternyata tak hanya itu saja tanaman di kebun H. Basri, sawit juga tumbuh dengan subur. Sayangnya kami tidak bisa menjumpai buah sawit yang siap panen, karena belum musimnya. Kami diajak ke pohon durian, namun sayang tidak ada duria yang jatuh. Tanaman karet juga ada, karena kebun ini sangat luas, entah berapa luas. Kami juga dikenalkan dengan tanaman yang belum pernah kami lihat, seperti tanaman kayu manis dan pelawan.
aKebun (kolong TI)Tak hanya memetik buah saja, saya juga sangat menikmati pemadangan di kebun tersebut. Kolong TI (bekas tambang timah) yang menjadi danau berisi air sangat indah bagi saya. Di sekitar kebun tersebut ada beberapa danau bekas tambang timah. Di pinggir danau ini ternyata juga banyak saya jumpai kantong semar atau dalam bahasa Bangka disebut dengan ketuyut. Berbagai jenis ketuyut saya abadikan dengan kamera saya.Sungguh luar biasa indahnya.Ternyata kebun yang kami kunjungi berada di kaki bukit Mangkol. Ternyata di bekalang kebun tersebut masih hutan yang belum dijamah.
aKebun (kantong semar)Di dalam kebun terdapat beberapa pondok. Ada pondok yang untuk menyimpan pupuk. Pondok utama panggung dengan tinggi sekitar 2 m. Pondok ini sering dipakai pemilik dan pekerja untuk istirahat. Jika lagi panen sahang, maka pondok ini dijadikan tempat untuk menginap.

Setelah lelah berjalan, kami diajak beristirahat di pondok utama. Setelah lelah terobati, kami pulang ke rumah pemilik kebun. Meskipun kami tidak mendapatkan durian, namun kami tidak kecewa. Memang awalnya kami ingin mencari durian, sedangkan buah yang lain bukan target kami. Untuk mengobati kekecewaan kami, ternyata Basmin sudah menyediakan durian di rumahnya. Kami makan durian sepuasnya. Setelah selesai makan durian, baru kami balik ke Pangkalpinang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: