Lagi Putra Indonesia Dapat Penghargaan Internasional Goldmanprize


Foto: news.mongabay.com

Foto: news.mongabay.com

Menjadi orang yang mendapatkan penghargaan memang menyenangkan. Apalagi jika penghargaan tersebut tingkatnya internasional. Namun, orang yang mendapatkan penghargaan tersebut awalnya bukan penghargaan yang dicari. Mereka mengabdikan diri pada negara melalui lingkungan.

Setelah Aleta Baun (Mama Aleta) dari NTT mendapatkan penghargaan di tahun 2013, satu lagi putra Indonesia yang mengharumkan nama Bangsa ini di forum internasional di bidang lingkungan. Tak banyak yang mendapatkan penghargaan ini, hanya tujuh orang saja dan tidak setiap negara mendapatkan kesempatan untuk menjadi duta. Namun, Rudi Putra mampu membuktikan kerja kerasnya dan mendapatkan Goldman Environmental Prize 2014 (Hadiah Lingkungan Hidup) atas jasa-jasanya di bidang lingkungan.

Penghargaan bergengsi ini dinilai oleh tujuh juri. Perwakilan dari Yayasan Goldman Environmental adalah John D. Goldman sebagai Presiden Yayasan serta Douglas E. Goldman dan Susan R. Gelman masing-masing menjabat sebagai Wakil Presiden Yayasan. Tiga juri yang lain adalah Yolanda Kakabadse (Mantan Presiden Ekuador IUCN), Geoffrey Ramping (Environmental Journalist Inggris), dan Alvaro Umaña Mantan (Menteri Lingkungan Kosta Rika). Ternyata ada perwakilan juri dari Indonesia, yaitu Erna Witoelar (Pendiri WAHYU Indonesia).

Berbeda dengan Mama Aleta yang hanya seorang ibu rumah tangga, Rudi Putra adalah seorang ahli biologi. Dikutip dari laman Golmanprize.org, yang dikutip pada 19/06/2014, Rudi Putra adalah pembongkaran perkebunan kelapa sawit ilegal yang menyebabkan deforestasi besar-besaran di Ekosistem Leuser Sumatera utara, melindungi habitat yang terancam punah, yaitu badak Sumatera.

Hutan Indonesia adalah yang paling banyak keanekaragaman hayati di planet ini. Rumah bagi 12 persen spesies mamalia yang diketahui di dunia. Hanya setengah dari hutan asli tetap berdiri sampai saat ini, karena diperkirakan 2 juta hektar hutan hilang setiap tahunnya karena deforestasi.

Sebuah penyebab besar di belakang laju deforestasi di Indonesia adalah permintaan di seluruh dunia berkembang untuk kelapa sawit. Hal ini digunakan sebagai aditif dalam makanan kemasan seperti cookies, sereal, keripik kentang, cokelat, margarin, susu bayi, dan sup kalengan, bersama dengan berbagai sabun dan produk kosmetik.

Hampir 90 persen minyak sawit dunia tumbuh di Indonesia dan Malaysia, dan meskipun moratorium pembukaan hutan di Indonesia yang ditandatangani oleh Presiden pada tahun 2011, sebagian besar hutan yang hilang berasal dari perkebunan ilegal yang telah menerobos masuk ke kawasan hutan lindung melalui suap dan korupsi pemerintah merajalela.

Motivasi

Sebagai seorang siswa SMA tumbuh di wilayah Aceh, Rudi Putra menunjukkan minat awal di alam dan hewan. Ia belajar biologi konservasi dan jatuh cinta dengan badak Sumatera yang masih tersisa sedikit dan paling terancam punah.

Ia menjadi seorang peneliti ahli dan tracker, memimpin tim perlindungan badak ekspedisi lapangan untuk melacak pemburu liar di Ekosistem Leuser. Ini 6,4 juta hektar, hutan lindung yang mencakup propinsi Aceh dan Sumatera Utara merupakan salah satu rumah yang tersisa untuk badak Sumatera.

Putra menyadari bahwa selain upaya anti-perburuan, karyanya tidak bisa lengkap tanpa mengatasi ancaman yang jauh lebih besar dengan cepat melampaui konservasi, perusakan habitat dari perkebunan kelapa sawit ilegal.

Penelitian lebih lanjut menunjukkan pentingnya hutan bagi 4 juta orang yang tinggal di dekat Ekosistem Leuser yang dilindungi, yang bergantung pada hutan untuk pertanian dan air yang berkelanjutan. Hutan juga memberikan perlindungan yang sangat dibutuhkan dari banjir, yang telah berkembang dalam frekuensi dan tingkat keparahan dalam beberapa tahun terakhir. Putra mulai melihat karyanya tidak hanya melindungi badak dan habitatnya, tetapi orang-orang dari daerah juga.

Hasil

Dengan dukungan dari masyarakat setempat, Putra mendekati polisi setempat langsung untuk menegakkan hukum perlindungan tanah dan menutup perkebunan kelapa sawit ilegal. Dia berbicara tentang ratusan ribu keluarga yang kehilangan rumah mereka dan orang yang dicintai selama tahun 2006 banjir Aceh dan perjuangan mereka untuk mengakses air minum yang bersih.

Dia juga mendekati pemilik perkebunan kelapa sawit dan mengingatkan mereka bahwa tindakan mereka melawan hukum. Setelah Putra menunjukkan mereka batas-batas menandai kawasan konservasi, beberapa pemilik secara sukarela menutup perkebunan dan memberikan tanah kembali ke pemerintah sehingga Putra dan rekan-rekannya bisa melakukan pekerjaan restorasi.

Usaha Putra nampaknya membuahkan hasil. Pembongkaran lebih dari 1.200 hektar perkebunan ilegal di Kawasan Ekosistem Leuser. Reboisasi hutan dari perkebunan kelapa sawit telah menciptakan koridor satwa liar penting sekarang digunakan oleh gajah, harimau dan orangutan untuk pertama kalinya dalam 12 tahun. Populasi badak Sumatera di Ekosistem Leuser juga naik tipis dalam dekade terakhir.

Putra sekarang merupakan bagian dari perang melawan ancaman baru ke hutan hujan yaitu usulan dari pemerintah provinsi Aceh yang secara hukum akan membuka besar-besaran hutan di Kawasan Ekosistem Leuser pembangunan kebun sawit.

Pada 2013, Putra menyelenggarakan sebuah petisi online untuk menerapkan tekanan internasional terhadap pemerintah Indonesia untuk menegakkan hukum konservasi sendiri dan menolak usulan pemerintah Aceh. Petisi itu mengumpulkan 1,4 juta tanda tangan, dan telah banyak berjasa dengan katalisasi percakapan internasional antara pejabat pemerintah dari Norwegia, Uni Eropa, Indonesia dan provinsi Aceh dan akhirnya membuahkan hasil sesuai harapan.

Iklan

One response

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: