Sekolah Internasional Belum Tentu ‘Baik’


Foto:  ilm.com.pk

Foto: ilm.com.pk

Menurut UUD 1945 pasal 31 ayat 1 disebutkan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Pengajaran ini berarti tiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan sesuai dengan yang diinginkannya. Sehingga, setiap warga negara berhak memilih sekolah sesuai dengan keinginannya. Tentu saja sesuai dengan usia dan jenjang pendidikan anak.

Memilih sekolah tidaklah mudah, karena sekolah dengan biaya yang tinggi belum tentu baik. Tak menutup kemungkinan juga untuk sekolah internasional. Bukan berarti jika sudah bersekolah di sekolah internasional maka akan selalu bernasib baik untuk masa depannya.

Jadi, para orang tua hendaklah selalu berhati-hati dalam memilih sekolah untuk anak-anaknya. Jangan hanya gengsi jika tidak bersekolah di sekolah internasional, maka status sosial orang tua anak akan turun. Hal ini banyak dialami oleh banyak orang tua dari anak ‘kelas atas’. Dengan memasukkan anaknya ke sekolah internasional, maka dianggap sudah yang ‘paling baik’ dan menaikkan status sosial mereka. Pada hal belum tentu demikian.

Orang tua juga harus banyak pertimbangan sebelum memutuskan untuk memasukkan anaknya ke sekolah internasional. Memang masalah biaya bagi mereka yang masuk ke sekolah internasional bukan lagi menjadi masalah, namun masalah keamanan dan kurikulum adalah faktor yang tidak boleh dianggap sepele.

Orang tua jangan hanya pasrah begitu saja pada sekolah tentang keamanan anaknya jika sekolah di suatu sekolah internasional. Tak hanya itu, orang tua juga harus memantau perkembangan belajar anaknya dengan mempelajari kurikulum yang diajarkan di sekolah. Jika ada kurikulum yang tidak sesuai, maka orang tua berhak untuk menghubungi sekolah dan menanyakan hal tersebut. Dengan demikian peran aktif orang tua sangat diperlukan guna perbaikan kurikulum di sekolah tersebut. Orang tua sebagai anggota masyarakat yang aktif tersebut sangat diharapkan sebagai pengawas dan evaluasi dari program pendidikan di sekolah anaknya.

Hal yang tidak boleh ditinggalkan dari semua sekolah yang ada di Indonesia adalah tentang kurikulum yang memuat tentang rasa nasionalisme. Pelajaran-pelajaran yang harus diajarkan tentang nasionalisme adalah pelajaran Bahasa Indonesia, Sejarah Indonesia, kewarganegaraan, dan juga budaya Indonesia.

Sekolah adalah tempat untuk membentuk pribadi anak yang berakhlak yang baik. Untuk mewujudkannya perlu adanya pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianut oleh siswa. Pendidikan agama ini harus diajarkan dari tingkat yang paling dasar sampai ke perguruan tinggi. Sehingga tidak ada alasan bagi pengelola sekolah internasional untuk tidak melaksanakannya.

Menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 12 ayat 1a disebutkan bahwa “Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama”. Ini artinya semua sekolah baik negeri maupun swasta yang ada di Indonesia wajib menyelenggarakan pendidikan agama, termasuk sekolah internasional.

Kasus JIS

Pada kasus Jakarta Internasional School (JIS) mengenai adanya pelecehan seksual di lingkungan sekolah banyak kalangan sebaiknya sekolah internasional ditindaklanjuti kembali. Selain faktor perekrutan guru dan karyawan, juga kurikulum.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Ni’am Sholeh yang dikutip dari Detik News (22/04/2014) menilai kurikulum pendidikan di Jakarta Internasional School (JIS) melanggar Undang-undang Pendidikan. Salah satu syarat formal kelembagaan di Indonesia tidak diterapkan di JIS. “Setiap sekolah di indonesia terikat oleh regulasi formal, dalam hal ini ada UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan salah satunya mengatur soal keberadaan sekolah internasional. Dimungkinkan dengan syarat-syarat formal kelembagaan juga syarat substansial kurikulumnya, salah satunya mengajarkan pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, dan Sejarah Indonesia,” kata Ni’am.

Ni’am menuturkan, hasil dari tesimoni orang tua murid di lingkungan sekolah di JIS jauh dari nilai-nilai kultur masyarakat Indonesia. Hal tersebut dimungkinkan menjadi pemicu timbulnya kekerasan tindakan seksual. “Salah satu contoh misalnya hubungan laki-laki dan perempuan, baik siswa laki-laki maupun perempuan digambarkan oleh orang tua murid ciuman di area publik jadi pemandangan biasa, kultur itu bisa menjadi satu pemicu tindak kekerasan seksual terhadap anak,” terang Ni’am.

Sementara menurut Sekjen Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Erlinda yang dikutip dari Hidayatullah.com (01/05/2014) menyesalkan karena di Jakarta International School (JIS) tidak memiliki pelajaran Bahasa Indonesia,PPKn dan pelajaran Agama. Ia berpendapat JIS tak nasionalis. “JIS tidak ada pelajaran agama, bahasa Indonesia, dan PPKN (kewarganegaraan). Kita berpendapat ini sudah tercabutnya nasionalisme di JIS,” kata Erlinda kepada wartawan, di Gedung Mendikbud, Jakarta.

Ini berarti bahwa sekolah Internasional tidak ada jaminan sebagai sekolah yang ‘baik’. Baik di sini bukan hanya unggul dalam pelajaran umum saja seperti ilmu sains, matematika, dll. Namun yang tak kalah penting juga pelajaran tentang sikap dan tingkah laku yang bisa diajarkan pada mata pelajaran agama, budaya, dan kewarganegaraan. Dengan demikian para orang tua yang hendak menyekolahkan anak di sekolah internasional harus mempelajari dahulu tentang kurikulum sekolah tersebut.

———————————————————-

Jika Anda ingin berlangganan informasi dari blog ini melalui facebook Anda, silahkan klik tautan halaman (page) facebook berikut ini cauchymurtopo.wordpress.com kemudian klik suka (like) atau ikuti (follow) melalui twitter @CauchyMurtopo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: