Bahasa Indonesia Belum Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri?


Jika Anda peka pada sekeliling Anda, maka Anda akan sering menemukan bahasa asing yang sudah menggantikan Bahasa Indonesia. Bahasa asing yang sering kita jumpai adalah Bahasa Inggris. Keberadaan bahasa asing memang kita perlukan, namun bukan berarti menggantikan Bahasa Indonesia.

Penggunaan bahasa asing seperti Bahasa Inggris sudah merambah di berbagai bidang di kehidupan kita. Sebut saja pada bidang dunia hiburan, tempat belanja, pendidikan, transportasi, kesehatan, dan bahkan hampir di segala bidang. Uniknya, bahasa asing yang kita gunakan secara tidak sadar telah banyak menggantikan Bahasa Indonesia yang membuat penggunanya tidak mengetahui artinya dalam Bahasa Indonesia.

Tayangan program stasiun televisi (TV) banyak menggunakan bahasa asing. Misal pada acara masak-memasak, orang yang ahli masak jarang disebut dengan koki, namun sering disebut chef. Tak satupun TV yang menyebut dengan koki. Begitu juga dengan kata entertainment lebih sering digunakan dari pada kata hiburan.

Di bidang pendidikan bahasa yang sering digunakan adalah home visit. Home visit menggantikan Bahasa Indonesia kunjungan rumah. Home visit sering dikaitkan dengan guru Bimbingan Konseling (BK) jika ada siswa yang bermasalah kemudian guru harus berkunjung ke rumah siswanya. Sementara boarding school menggantikan asrama. Bahasa-bahasa tersebut sering diucapkan oleh guru pada saat di sekolah. Bahkan guru Bahasa Indonesia juga menggunakan bahasa tersebut, bukannya menggunakan Bahasa Indonesia.

Di bidang kesehatan sering ada istilah-istilah asing seperti migrain, osteoporosis, dll yang merupakan istilah-istilah nama penyakit. Migrain untuk menggantikan sakit kepala sebelah dan osteoporosis untuk menggantikan keropos tulang. Nama penyakit tertentu memang harus disebutkan dengan istilah atau bahasa secara medis, namun tidak setiap bahasa di bidang kesehatan harus digantikan dengan bahasa asing.

Saya pernah menjumpai di sebuah Rumah Sakit (RS) Negeri Propinsi di Pulau Jawa yang menggunakan bahasa asing. Jargon dari RS tersebut menggunakan bahasa Inggris Care 2 U. Selain itu, saya jumpai juga Nurse Station pada ruang perawat. Juga ada mobil RS yang bertuliskan Home Visit. Penggunaan bahasa asing tersebut tidak disertai dengan arti dalam Bahasa Indonesia. Pada saat petugas kebersihan sedang membersihkan ruangan juga diberi tanda dari papan yang berbunyi CAUTION WET FLOOR, yang seharusnya HATI-HATI LANTAI BASAH. Bukankah lebih baik menggunakan bahasa Indonesia saja? Ini kan RS negeri, bukan RS asing.

Petuntuk untuk berhati-hati karena lantai sedang basah digantikan oleh bahasa asing

Petuntuk untuk berhati-hati karena lantai sedang basah digantikan oleh bahasa asing


Coba jika Anda jalan-jalan di kota, maka masih banyak lagi penggunaan bahasa asing. Sebut saja bakery yang menggantikan arti toko roti. Masih berhubungan dengan makanan, ada kata cake yang seharusnya kue. Sementara gedung-gedung juga ada tulisan tower yang seharusnya menara. Ada juga underpass yang berarti jalan melintang di bawah jalan lain. Selain itu juga ada fly over yang artinya jalan layang.

Di pusat perbelanjaan juga banyak dikita jumpai bahasa asing. Shoping center menggantikan pusat perbelanjaan. Pada pusat perbelanjaan, misal pada swalayan yang saya datangi papan pemberitahuan harga juga terdapat bahasa asing. Pear sweet, bukankah lebih enak jika ditulis pear manis?

Petuntuk harga buah pear yang manis

Petuntuk harga buah pear yang manis


Produk-produk barang yang dijual di Indonesia juga masih banyak yang mencantumkan bahasa asing tanpa mencantumkan Bahasa Indonesia pada label, buku petunjuk penggunaan, dan petunjuk pemakaian pada barang. Hal ini sering terjadi pada barang elektronik impor.

Beberapa mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dari berbagai bank yang saya dapati juga masih menggunakan bahasa asing. Pada saat memasukkan kartu ATM, pemakai disuruh untuk memilih menggunakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Namun, setelah saya pencet tombol perintah menggunakan Bahasa Indonesia ternyata petuntuk lisan masih menggunakan Bahasa Inggris. Ini terjadi justru pada mesin ATM dari bank dengan plat merah alias bank BUMN.

Pada iklan-iklan baik cetak maupun elektronik juga banyak dijumpai bahasa asing. Misal saja pada iklan sabun menggunakan istilah body wash yang seharusnya disebut dengan sabun saja. Ada juga skin care yang seharusnya perawatan kulit.

Masih banyak lagi bahasa-bahasa asing yang sudah menggantikan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Jika dalam suatu petunjuk menggunakan bahasa asing, maka sebaiknya Bahasa Indonesia harus disertakan. Bahasa Indonesia berada di atas dan bahasa asing berada di bawah pada papan petunjuk, seperti pada gambar berikut ini.bhs out
Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara pertama kali digunakan sejak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Salah satu bunyi dari ikrar Sumpah Pemuda tersebut adalah Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 36 disebutkan bahwa Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia menjadi bahasa negara juga berdasarkan Undang-Undang No. 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Pada pasal 25 ayat 3 Undang-undang No. 24 tahun 2009 disebutkan bahwa Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara, pengantar pendidikan, komunikasi tingkat nasional, pengembangan kebudayaan nasional, transaksi dan dokumentasi niaga, serta sarana pengembangan dan pemanfatan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bahasa media masa.

Sementara pada pasal 30 disebutkan bahwa Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pelayanan administrasi publik di instansi pemerintahan. Berarti termasuk juga dalam pelayanan di RS negeri seperti yang telah disebutkan di atas.

Pada pasal 36 ayat 3 Undang-undang No. 24 tahun 2009 disebutkan bahwa Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan,merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan,organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia.

Pada pasal 37 ayat 1 Undang-undang No. 24 tahun 2009 disebutkan bahwa Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam informasi tentang produk barang atau jasa produksi dalam negeri atau luar negeri yang beredar di Indonesia.

Jika memang Bahasa Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, seharusnya semua harus menggunakan Bahasa Indonesia. Ini juga menunjukkan rasa nasionalisme pada negara. Seperti Jepang yang memberlakukan peraturan tentang penggunaan bahasa Jepang pada segala hal yang ada di negara matahari terbit tersebut, termasuk produk asing.

Sayangnya, pelanggaran-pelanggaran atas Undang-undang No. 24 tahun 2009 yang berkaitan dengan tidak menggunakan Bahasa Indonesia ini belum ditindak. Seakan-akan pemerintah masa bodoh dan membiarkan penggunaan bahasa asing di negeri ini. Jika terjadi demikian secara terus-menerus, maka bukan hal yang mustahil jika suatu saat nanti generasi penerus bangsa ini tidak lagi menghargai Bahasa Indonesia dan lebih menghargai bahasa asing (bahasa Inggris). Penggunaan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi bukan menjadi kebanggan lagi, namun lebih bangga menggunakan bahasa asing dalam berkomunikasi.

———————————————————-
Baca juga:
10 Bahasa ‘Vikinisasi’ yang Menghebohkan, Begini Artinya
Ciyus Ni…..!!!
“Kami” atau “Kita”?
10 Kata yang Sering Salah dalam Penulisan
———————————————————-
Jika Anda ingin berlangganan informasi dari blog ini melalui facebook Anda, silahkan klik tautan halaman (page) facebook berikut ini cauchymurtopo.wordpress.com kemudian klik suka (like) atau ikuti (follow) melalui twitter @CauchyMurtopo

Iklan

2 responses

  1. Keren Om, lanjut terus..

    1. Terima kasih, baca juga tulisan yang lain ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: