Pelatihan Jurnalistik Untuk Guru, Kenapa Tidak?


Foto bersama para peserta pelatihan

Foto bersama para peserta pelatihan

Bagi para guru, pelatihan tentu sudah tidak asing lagi. Apa lagi pelatihan tentang kurikulum, pelatihan model dan strategi pembelajaran, serta pelatihan tentang pendalaman materi pelajaran. Pelatihan-pelatihan tersebut paling tidak pernah dilakukan oleh guru baik tingkat kabupaten/kota, propinsi, maupun tingkat nasional.

Namun, jika guru mengikuti pelatihan jurnalistik, maka ini adalah hal yang baru bagi guru. Bahkan ada yang memandang pelatihan jurnalistik bagi guru tidak penting. Pasalnya guru bukanlah wartawan yang pekerjaannya mencari berita, namun harus mendidik dan mengajar di kelas. Tapi jangan disalahkan dulu jika guru mengikuti pelatihan jurnalistik, karena banyak manfaatnya.

Manfaat yang didapat oleh guru dengan mengikuti pelatihan jurnalistik ini antara lain pengetahuan guru menjadi bertambah. Guru sebenarnya adalah salah satu sumber belajar bagi para siswa. Jadi ya harus banyak ilmu. Tak jarang siswa menanyakan tentang hal-hal di luar pelajaran yang menuntut guru harus mengetahuinya. Karena ini adalah bagian dari guru mendidik siswanya.

Manfaat yang lain adalah guru bisa menyampaikan kepada masyarakat tentang pengalaman apa yang pernah ia alami dalam mendidik siswa-siswinya. Kenapa bisa begitu. Dengan pelatihan jurnalistik ini maka guru bisa menuliskan tentang pengalaman-pengalaman selama mendidik siswa dan dikirimkan ke koran atau majalah. Orang yang membaca akan mengetahui tentang perkembangan pendidikan. Secara tidak langsung ini sebenarnya bisa menjadi laporan kepada orang tua atau masyarakat. Guru tidak harus memanggil kepada orang tua siswa tentang perkembangan pendidikan disekolah dimana guru menuliskan pengalamannya pada koran atau majalah tersebut.

Manfaat selanjutnya adalah dengan mengikuti pelatihan jurnalistik ini untuk meningkatkan kemampuan guru dalam membuat karya ilmiah. Karya ilmiah adalah salah satu faktor penilaian angka kredit bagi guru PNS yang akan naik pangkat. Selain Penelitian Tindakan Kelas (PTK), karya ilmiah yang bisa sebagai angka kredit dalam kenaikan pangkat adalah publikasi artikel di koran atau majalah.

Kepala sekolah (kiri) dan para narasumber dari Solopos

Kepala sekolah (kiri) dan para narasumber dari Solopos


Salah satu sekolah yang mengadakan pelatihan jurnalistik bagi para guru adalah MTs Negeri Pedan, Klaten, Jawa Tengah. Pada hari Sabtu, 19 Oktober 2013 dari pukul 08.00 sampai selesai puluhan guru di sekolah ini sangat bersemangat mengikuti pelatihan jurnalistik yang bekerjasama dengan Solopos.

Meskipun hanya satu hari, namun pelatihan jurnalistik dari Solopos ini sangat berkesan bagi para guru. Bagi guru yang semula belum mengetahui tentang seluk beluk jurnalistik maka dengan pelatihan ini mendapatkan gambaran yang jelas.

Materi yang diberikan dari empat narasumber. Materi tersebut meliputi jenis-jenis karya jurnalistik, apa saja yang bisa ditulis, teknik menulis, dan model-model penulisan. Yang membuat peserta semakin bersemangat adalah kiat-kiat bagaimana caranya guru menulis dan dikirimkan ke koran atau majalah. Trik-trik supaya tulisan yang dibuat oleh guru bisa dimuat oleh koran atau majalah.

Di sela-sela acara peserta diberikan pertanyaan, bagi yang bisa menjawabnya maka akan mendapat souvenir dari Solopos dan Solopos FM (stasiun radio grup Solopos).

Dalam sesi terakhir pelatihan, para peserta diberikan tugas untuk membuat artikel. Artikel bisa apa saja, jadi peserta bebas menuangkan ide-ide yang ada dalam pikirannya. Tidak harus mengenai masalah pendidikan, namunjuga masalah-masalah lain yang menurut peserta pantas untuk ditulis sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh narasumber sebelumnya.

Peserta yang  artikelnya masuk dalam tiga terbaik menerima souvenir

Peserta yang artikelnya masuk dalam tiga terbaik menerima souvenir


Pada kesempatan ini saya tidak menyangka jika tulisan saya yang menyoroti tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang telah digantikan oleh bahasa asing mendapatkan apresiasi yang baik dari narasumber. Akhirnya tiga tulisan terbaik menurut narasumber diumumkan dan punya saya salah satunya. Meskipun saya bukan guru bahasa, namun saya bisa mengalahkan guru bahasa. Tiga orang peserta yang artikelnya masuk tiga besar dari puluhan peserta tersebut mendapatkan souvenir menarik dari Solopos FM dan Solopos. Sementara satu peserta hanya mendapatkan satu souvenir dari Solopos.

Untuk penugasan tidak hanya tugas menulis artikel di dalam pelatihan saja. Bagi peserta yang ingin mendapatkan sertifikat pelatihan jurnalistik dari Solopos, maka peserta harus mengirimkan artikel lewat email ke bagian promosi Solopos dengan tema bebas, pengiriman paling lambat satu minggu dari pelatihan.

Jika Anda sebagai guru di daerah Solo Raya dan sekitarnya ingin mengadakan pelatihan jurnalis, Anda bisa menghubungi Solopos. Karena di Solopos ada sebuah lembaga yang bernama Lembaga Pelatihan Jurnalistik Solopos (LPJS). Lembaga ini khusus membidangi pelatihan jurnalis, termasuk untuk guru.

———————————————————-
Baca juga:
Guru Plus, Guru yang Menulis
———————————————————-
Jika Anda ingin berlangganan informasi dari blog ini melalui facebook Anda, silahkan klik tautan halaman (page) facebook berikut ini cauchymurtopo.wordpress.com kemudian klik suka (like) atau ikuti (follow) melalui twitter @CauchyMurtopo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: