Tradisi Pagelaran Wayang pada Ruwah Rosul Bersih Desa


wayang4Beberapa daerah di Indonesia mempunyai tradisi tersendiri dalam menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan. Salah satu tradisi tersebut adalah Tradisi Ruwah Rosul Bersih Desa yang ada di Desa Tegalampel, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sebenarnya tidak hanya di Desa Tegalampel saja di Klaten, masih banyak yang merayakan tradisi ini, namun yang setiap tahun selalu mengadakan adalah di Desa Tegalampel.

Alunan musik tradisional Solo, gamelan mengalun sayup-sayup. Nyanyian sinden (penyanyi Jawa) yang merdu membuat saya sangat terkesima menikmati musik yang lembut ini sebelum wayang dimulai. Gamelan juga termasuk musik klasik yang keberadaannya saat ini sudah jarang dimainkan.

Tradisi di Desa ini tiap tahun selalu mengadakan pagelaran Wayang Kulit atau Wayang Purwo sehari semalam. Untuk tahun 2013 ini dalang yang memainkan wayang adalah Ki Slamet Kuncung Carito, SH. Pagelaran wayang diselenggarakan pada tanggal 4 Juli siang pukul 09.00-17.00 sampai dengan 5 Juli 2013 pukul 05.00 WIB di balai khusus yang tiap tahun untuk tempat pagelaran wayang.

Untuk siang hari tanggal 4 Juli pagelaran wayang mengambil lakon Sri Mulih yang artinya Sri pulang. Pagelaran wayang untuk malam hari sampai pagi tanggal 5 Juli mengambil lakon Wayang Agung yang artinya Wayang besar.

Saya senang bisa meliput pagelaran wayang ini. Jarang sekali ada pagelaran wayang seperti ini. Yang sering kita jumpai pertunjukan musik yang menurut saya jauh dari kesan tradisional yang banyak terdapat nilai-nilai luhur dan budaya daerah.

Pada siang hari para pemain gamelan (Niyogo) tidak mengenakan pakaian tradisional Solo. (Sinden) tiga dengan dua sinden berkebaya merah dan seorang berkebaya oranye dengan sanggul khas Solo. Untuk dalang memakai pakaian tradisional Solo lengkap dengan beskap hitam dan bawahan kain jarik batik serta bertutup kepala (Blangkon). Penontonnya juga tidak banyak, karena pada siang hari penduduk banyak yang bekerja.

Pagelaran wayang pada siang hari

Pagelaran wayang pada siang hari


Pada pagelaran malam hari para Niyogo mengenakan seragam beskap warna merah tua dan bawah jarik batik serta bangkon. Untuk dalang tetap beskap hitam dan dan bawah jarik batik. Malam hari sinden ditambah satu, jadinya ada empat orang, tiga orang dengan kebaya warna merah dan seorang berkebaya warna hijau.
Sinden

Sinden


Pada pagelaran malam hari bagi tamu undangan kelas VIP duduk di kursi yang telah disediakan paling depan. Kelas VIP ini juga mendapatkan hidangan. Mereka yang duduk di kelas VIP adalah penonton yang memberikan donatur. Bagi yang berpenghasilan tinggi seperti pengusaha dan PNS menyumbang dana yang lebih besar. Saya dapat duduk di kelas VIP di belakang Kepala Desa Tegalampel, Bapak Suwanto beserta istrinya. Kursi paling depan diisi Kepala Desa beserta perangkatnya dan tamu undangan seperti dari Polsek Karangdowo.
Makanan untuk kelas VIP

Makanan untuk kelas VIP


Penonton pagelaran wayang pada malam hari membludag. Ternyata selain warga Desa Tegalampel sendiri, penonton juga dari desa-desa tetangga. Semakin malam para penonton semakin ramai. Tiap ada pagelaran wayang yang ditunggu-tunggu penonton adalah pada saat ‘goro-goro’. Pada sesi goro-goro ini terdapat punokawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) dan juga Limbuk. Selain itu pada sesi ini juga terdapat ‘dagelan’ yang mengocok perut penonton.
Pagelaran wayang pada malam hari

Pagelaran wayang pada malam hari


Sungguh suatu kehormatan dan kesenangan tersendiri dapat menikmati pagelaran ini. Pada sesi goro-goro selain berisi tentang komedi, ternyata banyak disisipkan falsafah, budaya, pendidikan, dan pesan moral yang ingin disampaikan oleh dalang.

Pada pagelaran wayang ini, baik siang maupun malam mendatangkan keuntungan bagi penjaja makanan. Terdapat juga penjual mainan anak-anak dan juga wayang kulit imitasi.

Wayang kulit imitasi yang dijual

Wayang kulit imitasi yang dijual


Menengok ke sejarah ke belakang, wayang merupakan tradisi yang dibawa oleh Sunan Kalijaga pada waktu itu untuk menyebarkan ajaran agama Islam di tengan kepercayaan masyarakat Jawa menganut agama Hindu pada waktu itu. Dengan adanya wayang pesan siar agama dapat diterima masyarakat tanpa adanya pertikaian. Sampai saat ini wayang juga masih digunakan sebagai siar agama Islam. Selain itu, wayang juga digunakan untuk kampanye tentang apa saja, misalnya pemilihan umum atau sosialisati tentang kebijakan pemerintah. Ternyata cara ini lebih efektif bisa diterima oleh masyarakat Jawa, khususnya yang ada di daerah pedesaan.

Sebelum digelar wayang, warga mengadakan tradisi Rosul yang dipusatkan di Masjid. Seperti di daerah lain, tradisi ini membawa makanan untuk dimakan bersama-sama setelah doa selesai. Mirip dengan tradisi yang ada di Bangka yaitu Lebaran Ruwah, dimana kaum laki-laki pergi ke masjid dengan membawa makanan tradisional, setelah selesai berdoa makanan dimakan bersama-sama. Tradisi ini di Bangka disebut dengan ‘Nganggung’.

Tradisi bersih desa seperti ini sering disebut dengan Nyadran. Nyadran dilaksanakan pada bulan Ruwah akhir menjelang Ramadan. Para warga membersihkan desa, terutama pada pemakaman. Banyak warga yang pergi ke makam untuk ‘Nyekar’ dengan membawa bunga untuk ditabur di makam keluarga yang sudah mendahului dan diiringi dengan doa.

Saya nonton wayang sampai pagi, sebenarnya ngantuk juga, tapi mata ini tidak bisa dipejamkan. Dari pada tidak bisa tidur, saya akhirnya ambil laptop dan menulis artikel ini.

——————————————-

Baca juga:
Catatan Kecil tentang Negeri Serumpun Sebalai
Raja Dangdut Rhoma Irama Bersilaturahmi pada Lebaran Maulid di Kemuja Bangka

Jika Anda ingin mendapatkan informasi dari blog ini melalui facebook Anda, silahkan klik tautan halaman (page) facebook berikut ini cauchymurtopo.wordpress.com kemudian klik suka (like) atau ikuti (follow) melalui twitter @CauchyMurtopo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: