Musim Menawar Nilai


buku raporJika Anda berada di daerah tropis, maka Anda akan mengenal musim penghujan dan musim kemarau. Jika Anda berada di daerah beriklim subtropis dan maka Anda akan menjumpai musim dingin, musim panas, musim gugur, dan musim semi.

Namun tahukan Anda bahwa ternyata tidak hanya ada musim seperti yang telah disebutkan di atas. Musim buah, musim panen, dan musim menawar nilai. Pada akhir semester, baik semester ganjil atau semester genap adalah musimnya menawar nilai di sekolah. Untuk sekolah tingkat SD sampai dengan SMA dan sederajat semester ganjil di bulan Desember – Januari sedangkan untuk semester genap bulan Juni -Juli.

Mungkin tawar-menawar nilai ini tidak terjadi pada sekolah favorit. Pada sekolah “pinggiran” yang input siswanya kurang bagus, bahkan mencari siswa ke sana-kemari pada saat tahun ajaran baru bisa saja terjadi hal demikian.

Ada perbedaan antara tawar-menawar nilai suatu barang dan nilai. Jika Anda membeli barang dan menawarnya, maka Anda akan menginginkan barang yang bagus dengan harga barang yang lebih rendah dari penawaran penjual. Hal ini sebaliknya pada penawaran nilai, siswa menginginkan nilai yang bagus atau tinggi pada guru mata pelajaran supaya nilai rapornya bagus yang sebenarnya nilai kurang atau tidak bagus.

Kejadian menawar nilai dilakukan pada siswa yang kurang cakap pada bidang akademik. Bisa jadi sebenarnya siswa tersebut seharusnya tidak tuntas pada mata pelajaran tertentu. Namun dengan usaha yang “gigih”, maka diharapkan nilainya tuntas di rapor. Pada akhir semester genap pemandangan ini selalu dijumpai di sekolah-sekolah. Sebelum guru mata pelajaran menyerahkan nilai pada wali kelas, maka guru tersebut harus memberikan remedial pada siswa yang nilainya kurang mencukupi KKM. Tak jarang ada siswa yang dikenal dengan “juragan remidi” atau hampir semua mata pelajaran remidi.

Namun apa daya jika guru sudah memberikan remidi tetap saja nilai masih belum mencukupi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)? Ya seharusnya nilai di rapor masih belum tuntas. Sebenarnya penyebab ketidaktuntasan nilai siswa karena faktor dari siswa itu sendiri. Banyak faktor yang menyebabkan nilai seorang siswa tidak tuntas.

Kehadiran di kelas merupakan salah satu faktor penyumbang ketidaktuntasan. Beberapa sekolah menerapkan peraturan sendiri-sendiri untuk ketidakhadiran siswa pada setiap mata pelajaran. Ada juga peraturan prerogatif pada tiap guru pada masing-masing pelajaran. Apapun peraturannya yang jelas jangan samppai siswa yang malas pergi ke sekolah dan jarang mengikuti pelajaran tertentu maka nilai pelajaran tersebut tuntas.

Penyebab ketidaktuntasan yang lain adalah nilai tugas yang diberikan oleh guru pada tiap mata pelajaran belum mencukupi. Bisa jadi siswa kurang mengumpulkan tugas, baik tugas individu maupun kelompok. Selain itu nilai ulangan harian juga sangat berpengaruh. Siswa yang belum mengikuti ulangan harian pada Kompetensi Dasar (KD) tertentu maka nilai pada ulangan akan berkurang atau belum ada nilai. Siswa yang telah ulangan, namun karena nilainya belum sampai KKM dan belum mengikuti remidi juga merupakan faktor penyumbang ketidaktuntasan.

Pada mata pelajaran tertentu ada praktik, misal fisika, biologi, dan kimia. Praktik sebaiknya harus diikuti oleh setiap siswa. Jika karena sesuatu hal menyebabkan seorang siswa tidak bisa mengikuti praktik seharusnya melakukannya sendiri di lain waktu. Nilai praktik sebaiknya tidak diganti dengan nilai yang lain. Jadi nilai praktik juga tidak bisa dianggap remeh, karena mempunyai pengaruh dalam ketidaktuntasan nilai rapor.

Faktor yang lain adalah nilai Ulangan Tengah Semester (UTS) dan Ulangan Kenaikan Kelas (UKK). Kedua nilai pada jenis evaluasi tersebut mempunyai bobot yang lebih besar bila dibandingkan dengan nilai tugas, nilai praktik, dan nilai ulangan harian.

Perilaku siswa di dalam kelas juga bisa berpengaruh pada ketidaktuntasan. Karena bagaimanapun seorang guru tidak hanya mengajar saja, namun juga mendidik. Jika di dalam kelas seorang siswa sering mempunyai kelakuan atau sikap yang tidak bagus dan mengganggu proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), maka bisa juga berpengaruh pada nilainya.

Beberapa siswa yang sering dianggap kurang baik pada nilai akdemik maupun sikap sering menunjukkan perilaku yang “baik” hanya sementara saja. Pada saat akhir semester, terutama pada semester genap menunjukkan sikap baik. Sikap baik yang dimaksud seperti kelihatan rajin masuk, mengerjakan tugas, dan sikap sopan saat menghadap guru. Sikap ini hanya menipu guru supaya nilainya tuntas. Akan tetapi sebagai guru yang profesional seharusnya tidak terpancing pada “sikap manis” yang sesaat ini. Karena pada beberpa kasus demikian pada saat siswa tersebut nilainya tuntas dan sudah naik kelas, maka sikap yang tidak baik tersebut diulangi lagi. Bahkan sikapnya bisa lebih parah dari yang sebelumnya.

Jangan sampai menawar nilai supaya tuntas dilakukan oleh wali kelas. Wali kelas tidak boleh memaksa guru untuk memberikan nilai tuntas. Begitu juga oleh pemimpin tertinggi di sekolah tersebut. Karena nilai adalah hak prerogatif dari masing-masing guru. Yang penting guru dalam menilai ada bukti konkrit. Jangan sampai karena seorang siswa dengan latar belakang tertentu pada orang tuanya seperti anak pejabat atau orang berpengaruh maka siswa tersebut harus diberi nilai tuntas, pada hal pada bukti fisik tidak memungkinkan nilai tuntas. Apa lagi didukung oleh sikap siswa yang sering tidak bagus. Jika hal itu terjadi, maka hancurlah pendidikan di negeri ini. Jangan sampai pendidikan bisa disetir oleh segelintir orang yang mempunyai kepentingan yang hanya untuk pribadi atau golongan tertentu saja.

Saat ini pola pendidikan sudah berbeda bila dibandingkan dengan pada jaman sebelum tahun 1990an. Seharusnya kurikulum sekarang ini lebih baik dari pada pada tahun tersebut. Adanya teknologi informasi seharusnya membuat pendidikan lebih baik. Namun, apakah lebih baik? Pola pemberian nilai saat ini sepertinya sudah tidak sesuai lagi dengan fakta yang sebenarnya. Sudah menjadi rahasia umum jika nilai rapor yang sekarang ini adalah bukan nilai yang sebenarnya. Nilai sudah “dikatrol” sedemikian sehingga nilai rapor saat ini menjadi tinggi. Tapi apakah nilai yang tinggi tersebut mencerminkan kualitas pendidikan sekarang bagus juga?

Saya yakin belum tentu bagus. Nilai yang tinggi sekarang ini banyak yang hanya untuk memenuhi kuota 40% nilai kelulusan adalah dari nilai rapor. Jadi supaya siswa bisa lulus, maka nilai rapornya dibuat setinggi mungkin. Ini terjadi tidak hanya pada satu atau dua sekolah saja, bahkan hampir semua sekolah. Namun saya tidak bisa menyimpulkan semuanya.

Anak yang tidak berkompeten semakin tidak karuan. Imbas dari pemberian nilai yang tinggi pada rapor yang tidak sesuai dengan kompetensi siswa membuat siswa “besar kepala”. Siswa merasa bahwa tidak perlu belajar saja nilainya sudah bagus. Ini sebenarnya menjadi bumerang bagi siswa itu sendiri dan sekolah. Siswa akan semakin malas dalam belajar. Jika terus terjadi demikian pada setiap jenjang pendidikan, maka tunggulah kehancuran pendidikan di negeri ini. Negeri kita tidak akan mampu bersaing dengan negara lain.

Akibat dari siswa yang tidak kompeten diberi nilai yang tinggi maka mereka tidak akan bisa bersaing dengan siswa lain dalam jenjang pendidikan berikutnya maupun dalam mencari lapangan kerja. Pekerjaan membutuhkan kompetensi dan keahlian. Selain itu nilai yang tinggi akan tetapi tidak berkompeten maka akan membuat sekolah tersebut mempunyai kualitas yang rendah. Nantinya masyarakat sendiri yang akan menilai lulusan sekolah tersebut bisa diterima di sekolah lanjutan yang bagus atau perguruan tinggi yang bagus atau hanya bisa melanjutkan sekolah yang “asal-asalan” atau perguruan tinggi yang “asal-asalan” juga.

———————————————-

Baca juga:
Lulus Bukanlah Akhir Perjuangan dalam Belajar
Jangan Terlalu Banyak Memberi Uang Saku Kepada Anak, Kenapa?

Jika Anda ingin mendapatkan informasi dari blog ini melalui facebook Anda, silahkan klik tautan halaman (page) facebook berikut ini cauchymurtopo.wordpress.com kemudian klik suka (like) atau ikuti (follow) melalui twitter @CauchyMurtopo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: