Susahnya Mencari Sinar Matahari di Musim Kemarau


iklim (sinar matahari)Bulan April, Mei, dan Juni tahun ini sebagian besar wilayah Indonesia hampir sepanjang hari diselimuti oleh mendung. Tidak hanya mendung saja, namun hujan juga sering turun. Pada hal seharusnya menurut teori sudah tidak lagi musim penghujan. Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan merupakan daerah yang terjadi demikian. Menurut teori, bulan April sampai dengan September biasanya musim kemarau dan bulan Oktober sampai dengan Maret musim penghujan.

Bergesernya musim tersebut dikarenakan adanya anomali iklim. Menurut laman pangan.litbang.deptan.go.id, anomali iklim adalah pergeseran musim dari rata-rata normalnya. Empat faktor dominan penyebab anomali iklim adalah SST NINO, arah angin, beda tekanan udara permukaan di Darwin dan Tahiti, serta Indian Ocean Dipole. Ada tiga pola hujan di Indonesia, yaitu pola monsunal, pola ekuatorial, dan pola lokal. Wilayah dengan pola monsunal paling terpengaruh anomali iklim dan sebagian besar sentra padi di Indonesia berada di wilayah ini.

Menurut laman waspada.co.id, anomali cuaca berupa curah hujan di atas normal pada musim kemarau yang terjadi mengakibatkan kemarau basah, dengan pengertian saat musim kemarau yang seharusnya kering, namun ternyata hujan masih turun. Hal ini berpengaruh sangat buruk bagi perkembangan pertumbuhan fisiologis tanaman serta berpotensi menimbulkan ledakan serangan penyakit, yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat produksi, selain memperbesar biaya untuk komponen biaya penanggulangan dalam menekan perkembangan gangguan serangan hama penganggu tanaman.

Memang ada juga baiknya kemarau basah, namun banyak juga dampak negatif yang ditimbulkan. Dampak positifnya cadangan air selalu ada di saat musim kemarau yang biasanya air sudah tidak ada. Namun dampak negatif yang dirasakan banyak. Terjadinya banjir pada musim kemarau. Tanaman yang pada musim kemarau seharusnya berbuah menjadi susah berbuah, bahkan tidak mau berbuah. Seperti tanaman mangga jika pada musim kemarau sering hujan, maka ia susah untuk berbunga. Jika mau berbunga, maka mangga yang masih keci-kecil akan rontok. Begitu juga untuk tanaman buah-buahan lain yang biasanya berbuah pada musim kemarau yang membutuhkan cuaca panas.

Tidak hanya itu saja, tanaman padi juga akan terganggu dalam pertumbuhannya. Jika demikian, maka hasil panen juga akan turun, bahkan di beberapa daerah gagal panen karena musim kemarau basah ini. Hal ini cukup beralasan karena tanaman padi membutuhkan suhu yang cukup, jika hampir sepanjang hari susah didapat sinar matahari, maka akan menghambat pertumbuhan padi. Berbeda jika pada musim penghujan meskipun hampir tiap hari hujan, akan tetapi matahari masih bersinar hampir sepanjang hari.

Selain hujan deras yang terjadi, pada musim kemarau yang basah juga disertai angin kencang. Di beberapa daerah di Jawa Tengah seperti di Kabupaten Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Klaten, dan mungkin di daerah lain terjadi angin kencang disertai hujan deras dan petir pada Minggu (16/06/13) dini hari. Angin yang kencang ini merusak berhektar-hektar tanaman padi siap panen. Padi yang siap panen roboh sulit untuk dipanen. Padi banyak yang rontok, sehingga banyak petani yang rugi. Selain padi yang siap panen juga padi yang mulai berbuah pada roboh. Padi yang masih muda roboh sangat merugikan petani karena padi tidak akan sempurna mencapai kematangan saat dipanen nanti. Selain itu padi juga akan sulit untuk dipanen yang tinggal dua atau tiga pekan lagi.

Padi yang masih muda roboh diterjang angin di daerah Boyolali

Padi yang masih muda roboh diterjang angin di daerah Boyolali

Adanya cuaca yang sering hujan pada musim kemarau juga berakibat pada tumbuh suburnya hama tanaman. Kebanyakan tanaman padi dan palawija akan diserang hama sehingga kerugian akan diderita oleh para petani. Hama tanaman susah untuk diberantas karena seringnya hujan mengakibatkan pestisida yang disemprotkan ke tanaman padi akan disapu oleh guyuran air hujan.

Kejadian seperti ini juga terjadi pada tahun 2007 dan 2010 yang lalu. Tidak ada bedanya antara musim penghujan dan musim kemarau. Bagi penduduk yang terbiasa tinggal di daerah pegunungan dengan intensitas hujan yang tinggi tidak begitu bermasalah. Karena tidak ada perbedaan cuaca antara musim penghujan dan kemarau. Penduduk yang tinggal di daerah yang hampir sepanjang tahun hujan seperti Bogor di Jawa Barat dan di daerah Kepulauan Bangka Belitung tidak masalah.

Namun, bagi yang tinggal di dataran rendah yang pada musim kemarau panas mengalami masalah, terutama pada kesehatan. Penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ispa) sering terjadi. Dampak negatif pada kesehatan yang lain adalah pada penderita reumatik akan merasakan akibatnya. Musimkemarau yang basah akan membuat tulang semakin ngilu karena cuaca yang dingin.

Tingginya curah hujan pada musim kemarau ini dikarenakan adanya La Nina. Menurut laman kemdiknas.go.id, fenomena La Nina menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia bertambah, bahkan sangat berpotensi menyebabkan terjadinya banjir. Peningkatan curah hujan ini sangat tergantung dari intensitas La Nina tersebut. Namun karena posisi geografis Indonesia yang dikenal sebagai benua maritim, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena La Nina.

Melencengnya iklim seperti musim kemarau yang basah terjadi karena adanya pemanasan global (global warming). Menurut Wikipedia, pemanasan global adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

—————————————————

Baca juga:
Banjir Jakarta Dimana-mana, Siapa yang Disalahkan?Misteri di Balik Tanggal 26

Jika Anda ingin mendapatkan informasi dari blog ini melalui facebook Anda, silahkan klik tautan halaman (page) facebook berikut ini cauchymurtopo.wordpress.com kemudian klik suka (like) atau ikuti (follow) melalui twitter @CauchyMurtopo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: