Daily Archives: Januari 15th, 2013

Mencari Ikan di Waktu Senggang di Saluran Irigasi


Asiknya mancing meskipun dengan pancing seadanya

Asiknya mancing meskipun dengan pancing seadanya


Pada suatu hari ada pemandangan unik waktu saya pulang dari kantor. Kebetulan saya pulang tidak terlalu sore. Saya melihat pemandangan yang menurut saya menarik. Adalah sekelompok anak yang sedang mencari ikan di pinggir sawah tepatnya di saluran irigasi.

Adalah sekelompok anak SD dari SDN 3 Karangwungu, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah yang mencari ikan tersebut. Sebut saja Dhany kelas 6, Danar kelas 5, Adven kelas 4, Vita kelas 1, dan Riang kelas 4. Mereka membawa beberapa peralatan untuk mencari ikan. Peralatan itu antara lain serokan atau seperti jaring kecil, joran atau pancing kecil yang sangat sederhana yang hanya terbuat dari bilah bambu yang diberi senar. Selain itu mereka tak lupa membawa cacing untuk umpan memancing. Tak lupa mereka juga membawa plastik dan ember kecil untuk hasil tangkapan.

Vita membawa pulang hasil tangkapan ikan

Vita membawa pulang hasil tangkapan ikan

Mereka merasa senang bisa mencari ikan ramai-ramai bersama. Sambil bercanda mereka menunggu hasil pancingan. Vita dan Dhany lebih suka menangkap ikan dengan menggunakan serokan. Mencari ikan dengan menggunakan serokan lebih banyak di dapat dari pada memancing. Kalau menggunakan serokan harus menyebur ke air, sedangkan jika memancing hanya duduk-duduk saja di pinggir saluran irigasi.

Mereka mencari ikan selepas pulang sekolah. Mereka mencari ikan hanya pada waktu cuara cerah, kalau hujan mereka tidak mencari ikan. Ikan tidak akan mereka dapatkan jika hari hujan. Jika hari hujan cuaca dingin selain itu hari hujan kadang ada petir yang membahayakan keselamatan mereka.

Ikan yang mereka dapatkan bermacam-macam, yang jelas ikan air tawar. Ikan yang sering mereka dapatkan antara lain ikan bethik, anak ikan kutuk (gabus), ikan lele, dan ikan srepet. Selain ikan kadang mereka juga mendapatkan belut.

Hasil tangkapan ikan rata-rata mereka mendapatkan satu kilogram. Jika beruntung mereka sampai mendapatkan dua kilogram. Ikan yang mereka dapat kebanyakan dikonsumsi sendiri. Mereka tak pernah menjualnya. Biasanya ikan digoreng untuk lauk makan. Selain dimasak ikan yang bagus dan sehat juga dipelihara. Memelihara ikan hasil tangkapan sendiri membuat anak-anak ini gembira.

Doni mencari ikan dengan setrum

Doni mencari ikan dengan setrum

Lain halnya dengan Doni, warga desa Bathokan Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten Jawa tengah ini. Pria dengan satu orang anak ini mengaku mencari ikan hanya kerjaan sambilan saja. Ia tidak menjadikan mencari ikan di saluran iridgasi sebagai mata pencaharian. Jika ada waktu senggang saja ia mencari ikan. Ia mencari ikan dengan setrum tenaga accu. Selain di saluran irigasi ia juga mencari ikan di parir-parit yang tergenang. Di situ biasanya ada ikan yang ia dapatkan meskipun tidak banyak.

Hasil tangkapan Doni tidaklah menentu, kadang jika lagi beruntung ia mendapatkan ikan benerap kilogram. Jika lagi tidak beruntung ia hanya mendaptkan bebera ons saja, itu pun ia sudah bersyukur karena ini hanya untuk sambilan.

Untuk hasil tangkapannya, Doni mengaku hanya untuk dikonsumsi sendiri. Istrinya yang biasanya memasaknya untuk lauk makan sekeluarga. Jika ada yang menawar untuk membeli kadang dijual juga.

Jenis ikan hasil tangkapan Doni tak jauh beda dengan hasil tangkapan anak-anak SD tadi. Hanya saja ia sering mendapatkan belut dengan ukuran lebih besar dari pada hasil tangkapan anak-anak tadi. Ia mengaku kadang mendapatkan belut dengan diameter jempol jari orang dewasa.

Belut hasil tangkapan Doni selain dikonsumsi sendiri sering juga dijual. Biasanya ia menjual kepada orang yang sudah menjadi langganannya. Untuk harga per kilogram belut dihargai Rp 20.000,00. Jika sedang musim tandur (menanam padi) harga itu bisa naik menjadi Rp 25.000,00.

Anda tertarik? Sepertinya asik juga ya. Saya yang mengikuti mereka seneng banget, jadi lupa kalau hari sudah sore. Sampai-sampai orang rumah telpon ke ponsel saya.