RSBI dihapus, Siapa yang Untung, Siapa yang Buntung?


Demo penghapusan RSBI doc metro.sindonews.com

Demo penghapusan RSBI doc metro.sindonews.com


Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) akhir-akhir ini menjadi perbincangan yang seru di kalangan masyarakat kita. Bukan karena prestasinya yang telah mengharumkan nama bangsa ini melainkan kontrofersial keberadaan RSBI. Berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada tanggal 8 Januari 2013 RSBI dihapuskan.

Penghapusan RSBI ini didasarkan pada penggugat yang telah mengajukannya pada Desember 2011 lalu. Adapun pertimbangan kenapa RSBI dibubarkan antara lain karena RSBI dinilai oleh penggugat sebagai diskriminasi terhadap pendidikan. RSBI yang membutuhkan fasilitas yang serba canggih dalam pembelajarannya seperti LCD, ruangan berAC, laptop setiap siswanya, dan fasilitas-fasilitas lain yang berkelas membuat kalangan masyarakat yang tidak berkantong tebal didak bisa menyekolahkan anaknya di sini. Seolah-olah hanya anak orang berduit saja yang bisa bersekolah di sini meskipun kemampuan anak belum tentu selalu unggul bila dibandingkan dengan anak yang sekolah bukan di RSBI.

Sewaktu saya masih tugas di sebuah Ibukota Propinsi di Luar Jawa saya mempunyai tetangga yang kebetulan mempunyai anak yang pintar. Sebut saja Wati (bukan nama sebenarnya), nilai Ujian Nasional SD Wati ranking 1. Guru-gurunya menyarankan Wati masuk SMP RSBI di kota tersebut, akan tetapi ia tidak bisa masuk karena kendala biaya meskipun dari segi nilai dan kemampuan ia bisa. Orang tuanya kurang mampu, ibunya sebagai pengasuh anak saya dan ayahnya kerja serabutan. Setelah ia bersekolah negeri di tempat lain meskipun bukan di RSBI prestasinya selaju yang terbaik, ia selalu menjadi juara 1, bahkan mengalahkan anak yang bersekolah di RSBI. Itu adalah salah satu gambaran dari adanya diskriminasi pada RSBI meskipun mungkin tidak setiap RSBI berlaku seperti itu.

Sekolah RSBI memang diberi kebebasan untuk menarik iuran bila dibandingkan sekolah yang bukan RSBI, apa lagi sekolah tingkat SD dan SMP pada sekolah negeri yang sekarang tidak boleh memungut sumbangan bulanan dari orang tua siswa. Adanya kebebasan untuk menarik iuran dari orang tua siswa ini kadang kurang tepat dalam penarikan dan pembelanjaannya. Misalnya masuk RSBI uang pangkal bisa diatas 10 juta rupiah dan anak mendapat laptop, meskipun anak sudah mempunyai laptop tetap membayar segitu. Ironisnya lagi laptop yang didapat bukan laptop yang bermutu bagus dan tidak sesuai dengan harga resmi di pasaran, artinya harganya malah lebih tinggi.

Alasan lain kenapa RSBI dibubarkan MK adalah karena di RSBI bahasa yang digunakan dalam proses pembelajaran bilingual, 70% bahkan lebih bahasa yang digunakan menggunakan bahasa Inggris. Ini berarti bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional bisa terkikis. Anak bisa jadi tidak bisa berbahasa bahasanya sendiri. Jika itu sekolah internasional yang bukan sekolah negeri tidak masalah.

Kebetulan istri saya mantan guru di sekolah RSBI waktu di luar Jawa dulu. Dia menjelaskan jika di sekolahnya guru dan siswa berada di sekolah baik pada jam pelajaran maupun bukan dianjurkan untuk berbahasa Inggris. Selain itu, semua ujian tertulis baik ulangan, ujian tengah semester maupun ujian akhir semester menggunakan bahasa Inggris. Jika ada guru yang tidak berbahasa Inggris dalam mengajar akan ditegur oleh Kepala sekolah karena di setiap ruang kelas terdapat kamera CCTV. Memang tidak semua mata pelajaran menggunakan bahasa Inggris. Mata pelajaran tertentu tidak berbahasa Inggris, misal mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Mandarin.

Lalu siapa yang diuntungkan dan dirugikan jika memang RSBI sudah dihapuskan? Yang jelas dengan adanya RSBI dibubarkan ini banyak kalangan masyarakat yang menyambut gembira, pasalnya biaya pendidikan pada sekolah yang dianggap masyarakat bagus tidak lagi ditakuti. Anak pintar dari orang tua yang tidak mampu tidak usah khawatir lagi. Mereka bisa bersekolah di sekolah bagus tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar seperti di RSBI.

Guru yang mengajar di RSBI juga banyak yang menyambut gembira atas dihapuskannya RSBI ini. Beban kerja yang selama ini dipikul dipundaknya berkurang. Guru tidak harus mengajar menggunakan bahasa Inggris. Selain itu guru juga tidak harus seharian berada di sekolah. Dulu waktu istri saya masih mengajar di RSBI waktu untuk keluarga, terutama untuk anak berkurang. Berangkat kerja pagi dan pulang sore. Meskipun hari Sabtu dinyatakan tidak ada pelajaran tetap saja harus masuk. Kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan pada hari Sabtu. Rapat dan segala kegiatan guru dan siswa yang bukan akademis dilaksanakan pada hari Sabtu. Ini berarti selama 6 hari harus masuk sampai sore.

Selain itu guru-guru di RSBI juga sering dikirim keluar kota untuk pelatihan. Ini memang bagus karena dengan adanya pelatihan membuat kompetensi guru semakin baik. Akan tetapi seringnya pelatihan membuat pekerjaan lebih berat karena pekerjaan mengoreksi latihan mandiri siswa juga bertambah banyak. Dengan seringnya ditinggal pelatihan beban murid juga semakin berat. Siswa-siswa harus terbiasa belajar mandiri. Meskipun di satu sisi baik supaya membiasakan siswa belajar mandiri dengan tugas-tugas, akan tetapi jika ini sering mereka alami maka akan berdampak kurang baik pada siswa itu sendiri. Meskipun ini pengalaman dari istri saya, tapi saya bisa membayangkan betapa lelahnya guru yang mengajar di sekolah RSBI.

Anak-anak belajar dari Senin sampai Jumat dari pagi sampai sore, hari Sabtu masih harus ikut kegiatan ekstrakurikuler. Jadi mereka hanya libur satu hari yaitu hari Minggu. Anak yang bersekolah di RSBI kebanyakan juga memikul beban di pundak yang lebih berat. Beratnya beban ini adalah barang bawaan yang mereka bawa ke sekolah. Saya sering mengamati anak-anak yang bersekolah di RSBI pada waktu saya mengantar istri berangkat dan pulang. Rata-rata anak membawa dua tas, tas yang pertama berisi buku-buku pelajaran yang tiap pelajaran bukunya besar karena buku yang dipakai buku yang bilingual. Tas yang kedua adalah tas laptop karena pada hampir tiap pembelajaran anak menggunakan internet dengan fasilitas free WiFi.

Ternyata dengan dihapusnya RSBI juga berdampak kurang baik pada guru-guru yang mengajar di RSBI. Penghasilan guru-guru yang mengajar di sekolah RSBI memang jauh lebih besar dari pada guru-guru yang mengajar di sekolah bukan RSBI. Ini sesuai dengan beban kerja yang lebih berat bila dibandingkan dengan di sekolah yang bukan RSBI. Dengan dihapusnya RSBI otomatis penghasilan guru-guru menurun. Sekolah tidak bebas lagi memungut iuran dari orang tua siswa, apa lagi pada tingkat sekolah SD dan SMP. Sebagai contoh saja waktu istri saya masih mengajar di RSBI selain gaji dan tunjangan dari pemkot juga ada penghasilan lain seperti uang transport, uang pelajaran tambahan yang besarnya bisa 3 atau 4 kali lipat bila dibandingkan pada sekolah yang bukan RSBI per jamnya. Selain itu juga ada kesejahteraan yang lain.

Penghapusan RSBI selain berdampak kurang baik pada penghasilan guru-guru yang mengajar di sekolah RSBI, juga berdampak kurang baik pada kinerjanya. Guru yang terbiasa kerja keras dengan penghasilan yang lebih menjadi kurang bersemangat karena penghasilannya menurun. Ini bisa jadi dimanfaatkan guru untuk mendapatkan penghasilan lain, misal memberi les privat pada siswanya. Ini berdampak pada penilaian yang tidak objektif pada siswa yang diberi les privat tersebut.

Dana yang digelontorkan pemerintah untuk RSBI memang jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan sekolah yang bukan RSBI. Dana itu selain dari pemerintah pusat juga dari pemerintah kabupaten/kota serta propinsi. Dana yang melimpah ini rawan diselewengkan, jika tidak dipakai dengan tepat sasaran, justru dana ini malah diperuntukkan kegiatan yang bersifat pemborosan. Dengan adanya RSBI dibubarkan ini masyarakat menginginkan supaya dengan dana yang tidak sebesar pada sebelumnya dapat dimanfaatkan pada kegiatan-kegiatan yang tepat sasaran dan tidak terbuang percuma.

RSBI sudah dihapuskan, mungkin setelah ini pemerintah dalam hal ini melalui Kementerian Pendidikan Nasional membentuk sekolah unggulan yang mirip dengan RSBI. Apapun namanya yang penting jangan sampai ada lagi diskriminasi pada pendidikan. Jangan ada lagi anak yang tidak mampu tetapi cerdas tidak bisa masuk sekolah yang bermutu baik. Jangan lagi bahasa kita dikesampingkan dan tidak dijadikan bahasa pengantar pertama dalam dunia pendidikan. Bukankan pendidikan ini adalah hak segala bangsa?

Iklan

8 responses

  1. Penghapusan itu menunjukkan pemerintah lebih bersikap bijak daripada menggunakan istilah untung-rugi karena pendidikan itu bukan lembaga profit, tetapi lembaga pendidikan. Sebuah lembaga yang bertanggung jawab atas kebutuhan setiap warga negara Indonesia yang haknya itu dilindungi undang-undang, lebih-lebih UUD 1945 sebagai pedoman utama pelaksanaan menjalankan negara Indonesia.

    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

    1. Saya setuju pendapat Pak Mochammad. Makasih atas komentarnya, semoga dibaca oleh pihak yang berwenang.

  2. seharusnya menurut hemat saya jangan dihapuskan tapi di tertibkan saja besaran pungutanya 🙂
    buat bapak admin kami mengundang bapak untuk bergabung dengan IDG media di ideguru.com
    sebuah forum yang didesikan sebagai wadah bagi guru dan mereka yang peduli pendidikan
    ditunggu pak partisipasinya 🙂

    1. Terima kasih atas informasinya Pak.

  3. Muhammad Sarjananto | Balas

    Menurut saya RSBI adalah korban kebijakan pemerintah yang kurang matang dalam membuat keputusan. Sesuai dengan kebijakan yang ada bahwa wajib belajar untuk SD dan SMP.
    Jadi menurut saya dengan adanya wajib belajar untuk SD dan SMP (9 tahun) dari pemerintah dimana siswa tidak dipungut biaya iuran sekolah.
    Dan untuk program RSBI tentunya pemerintah bertanggung jawab penuh dengan program RSBI itu. Dan untuk SD dan SMP RSBI tidak dipungut biaya apapun, karena sesuai dengan program pemerintah wajib belajar 9 tahun.
    Nah lain lagi untuk SMA, karena program wajib belajar hanya 9 tahun. Untuk SMA baik umum maupun RSBI semua ada pungutan. Yang membedakan hanya besaran pungutannya.
    Jadi menurut saya RSBI tetap ada, hanya diselaraskan dengan program wajib belajar 9 tahun !

    1. Hmmm menurutku RSBI itu gpp ada, hanya saja sistemnya agak dirubah. RSBI ada seakan-akan hanya untuk yang berduit, toh juga masih banyak anak-anak kurang mampu yang mempunyai kemampuan yang baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: