Kerja Bakti Geropyok Tikus


Anak-anak memperlihatkan hasil tangkapan tikus

Anak-anak memperlihatkan hasil tangkapan tikus


Tikus adalah salah satu musuh petani. Karena tikus banyak petani mengalami kerugian, padi yang ditanam disawah dimakan hewan pengerat ini (Rodentia). Bahkan ada pula petani yang tinggal memanen padinya hanya semalam saja bisa habis. Seperti yang dialami oleh seorang petani di Desa Tegalampel, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah yang mempunyai dua pathok (petak) sawah hanya semalam saja diserang oleh ratusan bahkan lebih dari seribu ekor tikus, sehingga petani tersebut gagal panen. Hama tikus tidak hanya menyerang padi yang sudah siap panen, tetapi juga padi yang baru disemai juga tak lupa jadi santapan mereka.

Kenapa tikus-tikus ini menyerang padi dengan ganasnya? Kenapa hama tikus selalu meresahkan para petani? Mereka menyerang padi karena hanya padi di daerah tersebut yang menjadi makanannya. Tanaman lain selain padi misal singkong tidak ada, jadi mereka hanya menyerang padi. Adanya hama tikus karena terjadinya ketidakseimbangan ekosistem di alam. Rantai makanan yang ada di alam ada yang terputus. Ular yang merupakan salah satu konsumen pada rantai makanan ini sudah jarang bahkan tidak lagi bisa dijumpai. Kita tahu bahwa ular adalah pemangsa tikus. Jika ular sudah tidak ada lagi maka sudah pasti tikus yang merupakan konsumen pertama pada rantai makanan ini populasinya akan semakin membengkak.

Kenapa ular bisa hilang dari rantai makanan? Ini semua adalah ulah manusia itu sendiri. Semua konsumen pada rantai makan di alam ini bermanfaat, termasuk ular. Ular bisa hilang dari rantai makanan karena banyak yang diburu. Alasannya macam-macam mulai dari yang dimanfaatkan kulitnya untuk kerajinan, daging ular yang dimakan manusia karena dipercaya mempunyai khasiat tertentu sampai bisa ular yang dijadikan obat. Selain itu hilangnya ular juga karena penggunaan pestisida untuk pertanian yang berlebihan. Ular adalah salah satu binatang yang tidak suka adanya pestisida, berbeda dengan tikus yang dapat bertahan dan bahkan mungkin bisa lebih kebal terhadap pestisida.

Dua pekan ini tiap hari Sabtu dan Minggu (tanggal 5, 6, 12, dan 13 Januari 2013) puluhan warga Desa Tegalampel laki-laki yang mempunyai sawah di daerahnya melakukan kerja bakti geropyok tikus. Selain yang mempunyai sawah, petani penggarap yang mempunyai sawah sewa juga harus ikut kegiatan ini. Petani yang tidak ikut dikenakan denda Rp 10.000,00 setiap kerja bakti dilakukan. Kegiatan ini dilakukan setelah beberapa warga mengalami kerugian hasil panen yang tidak maksimal dikarenakan hama tikus. Bahkan beberapa warga ada yang gagal panen.

Semangat menggeropyok tikus

Semangat menggeropyok tikus

Kerja bakti geropyok tikus ini dipimpin langsung oleh Kepala Desa Tegalampel Bapak Suwanto. Menurut Pak Wanto, tanah persawahan yang diserang tikus sekitar 80 hektar. Dengan semangatnya para petani menggeropyok tikus-tikus yang telah merugikan mereka. Ternyata tidak hanya laki-laki dewasa saja yang melaksanakan geropyok tikus ini, anak-anak pun mengikuti dengan semangat. Bahkan Ibu Kepala Desa juga ikut memantau dan memberi semangat. Ibu Kepala Desa juga membawakan makanan untuk sarapan.

Peralatan yang digunakan untuk menggeropyok tikus antara lain jaring, cangkul, ember plasti, dan pemukul dari kayu. Cara menggeropyok tikus adalah mencari lubang tikus yang berada dipinggir sawah. Tikus membuat rumah di pematang sawah dekat saluran irigasi. Lubang tikus dicangkul kemudian disiram dengan air. Sementara benerapa orang berjaga-jaga di pinggir lubang dengan jaring yang sudah dipegang. Tikus merasa terganggu karena lubang tempat persembunyiannya dimasuki air sehingga tikus meninggalkan lubang. Tikus lari keluar lubang kemudian dipukul dengan pemukul dari kayu yang sudah disiapkan. Bahkan beberapa diantara para petani karena kesalnya dengan tikus-tikus ini tidak jarang mereka langsung memukul dengan tangan kosong dan langsung membantingknya.

Lalu apa yang bisa anak-anak lakukan? Beberapa anak laki-laki ikut membantu dengan memukul tikus yang sudah setengah sekarat yang dilempar oleh Bapak-bapak dari pematang sawah tadi. Anak-anak menunggu di jalan, tikus-tikus hasil tangkapan dilempar ke jalan kemudian dipukuli rame-rame. Mereka juga mengumpulkan tikus-tikus hasil tangkapan yang sudah mati. Beberapa tikus ada yang bobotnya sampai sekitar 2 kg, ini adalah induk tikus.

Tikus raksasa dengan bobot mencapai 2 kg

Tikus raksasa dengan bobot mencapai 2 kg

Dari empat hari hasil geropyok tikus ini didapatkan tidak kurang dari 1.250 ekor tikus ditangkap. Tikus-tikus hasil tangkapan yang sudah mati kemudian dikubur. Satu lubang ada 50 ekor tikus. Kerja bakti dilakukan sampai pukul 15.00 WIB dan hanya istirahat pada saat waktu makan siang dan sholat duhur saja.

Sebagian tikus hasil geropyokan

Sebagian tikus hasil geropyokan

Semoga saja setelah tikus-tikus ini digeropyok, tidak ada lagi hama tikus yang meresahkan para petani. Karena jika tikus-tikus ini masih ada dan menjadi hama, maka ketahanan pangan juga akan terganggu. Akibatnya perekonomian masyarakat desa khususnya dan nasional pada umumnya juga terganggu.

Iklan

2 responses

  1. tikus jaman sekarang gak kayak tikus jaman dulu pak…..

    1. Makasih atas kunjungan blgo dan komentarnya Bu Astu. Iya, tikusnya bandel-bandel, kalau tikus jaman dulu kan nurut, apa lagi waktu jaman penjajahan. Heee…heeee…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: