Daily Archives: Januari 8th, 2013

Menolong Apa Mengemis?


Jalan rusak ditimbun tanah trus ada yang cari sumbangan

Jalan rusak ditimbun tanah trus ada yang cari sumbangan


Jika kita berkendara di jalan raya baik bersepeda, naik motor, maupun mobil kita pasti menginginkan perjalanan kita selalu nyaman. Salah satu faktor kenyamanan terletak pada jalan yang kita lalui. Karena jika jalan yang kita lalui rusak seperti banyak kerikil atau berpasir maka akan membuat perjalanan kita jadi terhambat. Selain itu jika kita berkendara dengan roda dua maka dengan adanya kerikil/pasir membuat kita akan terjatuh. Jalan yang berlubang juga akan menghambat perjalanan kita. Pengguna jalan harus ekstra hati-hati untuk menghindari lubang, apa lagi jika musim penghujan hampir semua ruas jalan tertutup air sehingga pengguna jalan tidak bisa membedakan mana jalan yang berlubang dan mana jalan yang bagus. Jalan yang berlubang selain memperlambat perjalanan kita juga akan membuat kendaraan kita menjadi cepat rusak.
Jalan rusak berlubang dan kerikil berserakan membuat pengendara kecelakaan

Jalan rusak berlubang dan kerikil berserakan membuat pengendara kecelakaan

Suasana jalan yang rusak seharusnya cepat diperbaiki oleh pemerintah. Tapi sering juga banyak jalan yang sudah rusak malah tidak cepat diperbaiki, sehingga mengakibatkan terjadi korban kecelakaan. Di mata msyarakat sebagai pengguna jalan seolah-olah ini seperti dibiarkan tidak diperbaiki. Tak jarang pemandangan ini dapat kita jumpai di jalan yang dekat dengan fasilitas publik yang banyak dilalui orang tidak hanya warga sekitar saja melainkan orang lain di luar daerah tersebut.

Jalan yang rusak sering dijadikan objek untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompok tertentu. Misal jalan tersebut diperbaiki namun terkesan memperbaikinya setengah-setengah sehingga mendapatkan keuntungan proyek yang lebih. Jalan hanya ditambal yang berlubang saja. Itu pun tidak semua lubang ditambal. Bahkan menambalnya juga tidak sesuai dengan aturan, campuran antara aspal dan kerikil yang digunakan untuk menambal tidak pas, malah dikurangi. Ini berakibat pada jalan tidak tahan lama, sehingga cepat berlubang lagi meskipun baru beberapa minggu diperbaiki. Selain itu kerikil dan aspal lebih cepat berpisah sehingga terjadinya kerikil yang berserakan dipinggir jalan karena kurangnya aspal pada perbaikan jalan.

Selain menambal dengan proyek perbaikan legal dari dinas terkait dari PEMDA ternyata beberapa jalan yang rusak yang saya temui juga ditambal oleh warga sekitar jalan yang rusak tersebut. Mereka menambal tidak dengan aturan yang benar misal dicor beton atau diaspal kembali melainkan asal menambal. Misal jalan yang berlubang ditambal dengan tanah atau pasir sehingga jika kondisi hujan malah membahayakan karena membuat jalan menjadi licin. Beberapa warga yang saya tanya kenapa mereka melakukan ini mereka menjawab karena jalan tersebut sudah banyak dikeluhkan oleh masyarakat namun pihak dinas terkait tidak segera memperbaikinya. Mereka melakukan ini supaya para pengguna jalan tidak terlalu harus bersusah payah untuk mencari sela-sela jalan yang masih bisa dilalui. Mereka juga sadar kalau apa yang mereka lakukan tidaklah membuat para pengguna jalan merasa nyaman berkendara karena bukan aspal yang digunakan untuk menambal.

Awalnya saya salut dengan apa yang dilakukan oleh warga yang berusaha membantu para pengguna jalan dengan menambal jalan meskipun bukan sesuai aturan. Namun setelah saya perhatikan lebih lanjut saya tidak simpatik lagi, jika niat menolong yang tidak didasari rasa ikhlas menurut saya percuma saja. Kelihatannya memang membantu tapi apa yang mereka lakukan malah terkesan seperti mengemis. Beberapa lelaki yang saya lihat membawa bakul untuk meminta sumbangan dari para pengguna jalan. Mereka meminta sumbangan seolah-olah seperti pengemis. Mereka menerima apa saja yang diberikan oleh para pengendara yang menurut mereka diperlukan misal uang atau rokok. Beberapa pengendara memang memberikan sebatang atau dua batang rokok, namun para pengguna jalan sering memberikan uang pecahan seribu atau dua ribu rupiah. Dengan tenangnya para “pengemis” tadi meminta sumbangan seolah ini sudah hal yang biasa mereka lakukan.

Beberapa pengguna jalan yang saya perhatikan termasuk saya sendiri merasa tindakan yang mereka lakukan justru tidak membuat nyaman. Jalan yang ditambal dengan tanah justru malah menimbulkan masalah baru yaitu jalan menjadi licin sehingga para pengguna jalan akan lebih sulit mengendarai kendaraannya bila dibandingkan dengan jalan yang semula masih berlubang. Keadaan diperparah karena ada “pengemis” yang membuat perjalanan menjadi tersendat.

Seharusnya apa yang mereka lakukan dengan “mengemis” seperti diatas tidak dilakukan. Seharusnya mereka merasa malu. Terkesan orang yang tidak punya kerjaan, hanya “mengemis” padahal mereka memiliki tenaga yang kuat. Mereka memang kebanyakan anak muda usia di bawah 30 tahun. Saya pergoki mereka ternyata setelah uang di bakul penuh kemudian mereka menghitungnya dan uang/rokok dibagi-bagi.

Bukankah para pengguna jalan sudah membayar jalan yang mereka lalui secara tidak langsung? Kenapa saya mengatakan seperti itu? Analisisnya begini, para pengendara tiap tahun membayar pajak kendaraan mereka. Pajak yang mereka bayar ini disetor kepada negara untuk berbagai kepentingan publik. Salah satu realita membayar pajak untuk kepentingan publik tadi adalah untuk perbaikan jalan. Nah sekarang tinggal PEMDA setempat yang seharusnya merealisasikan itu. Jadi jangan sampai jalan yang rusak dibiarkan terbengkalai dan menjadi sasaran orang yang tidak bertanggung jawab seperti di atas yang memanfaatkan jalan yang rusak sebagai lahan untuk mencari keuntungan pribagi atau kelompok.