Ulat Jati Enak Dimakan?


Ulat jati

Ulat jati


Bulan Oktober akhir atau November awal biasanya musim penghujan tiba, tanaman yang semula kelihatan mati atau kering menjadi bertunas atau tumbuh kembali. Begitu juga dengan tanaman Jati. Pohon jati yang mempunyai nama ilmiah Tectona grandis ini dapat tumbuh dengan ketinggian mencapai 30 – 40 meter. Pohon yang yang biasanya digunakan kayunya karena kuat dan tahan terhadap rayap ini dapat tumbuh sampai umur  ratusan tahun.

Hutan jati sebelum diserang ulat jati

Hutan jati setelah diserang ulat jati

Pada waktu saya melewati hutan jati di daerah Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah, saya terkejut kemudian memarkirkan motor saya. Saya melihat fenomena daun jati muda yang dimakan oleh ulat yang berwarna hitam dengan sedikit garis oranye di bagian punggungnya. Ulat yang panjangnya sekitar dua atau tiga sentimeter ini merupakan jenis Hyblaela puera atau orang sering menyebutnya dengan ulat jati. Ulat-ulat ini memakan seluruh daun jati yang baru tumbuh setelah pada waktu musim kemarau meranggas. Meranggas adalah rontok daun untuk mempertahankan hidup karena kekurangan air. Hanya tulang-tulang daun saja yang tersisa. Ulat jati biasanya memakan daun jati secara besar-besaran pada malam hari. Saya jadi merinding dan merasa geli melihat ulat-ulat yang bergelantungan di atas jalan dengan tali seperti benang yang dihasilkan oleh ulat itu sendiri. Tidak hanya itu, perasaan semakin  tidak nyaman setelah melihat kotoran ulat jati yang yang berserakan berwarna hitam bulat kecil-kecil.

Ulat yang siap-siap menjadi kepompong setelah makanan daun jati habis.

Bagi masyarakat sekitar yang sudah terbiasa dengan fenomena ini tidak terlalu mempermasalahkan. Namun bagi orang yang jarang melihat atau bahkan belum pernah melihat sebelumnya, fenomena ini adalah seperti sebuah mimpi buruk diserang oleh ribuan ulat jati. Beberapa pengendara sepeda maupun motor yang kebetulan melewati jalan tersebut berusaha menghindari tempat yang di atasnya banyak bergelantungan ulat-ulat jati. Saya coba untuk memberanikan diri memegang tali yang digunakan untuk menggantung  diri ulat-ulat tadi. Saya juga memotret ulat jati yang akan menjadi kepompong karena bahan makanan daun jati muda yang sudah mau habis. Sebenarnya bentuk ulat jati tidak begitu menyeramkan seperti ulat bulu, namun mungkin karena warnanya yang hitam membuat orang banyak yang takut. Rasa ketakutan biasanya karena ulat jati membuat badan jadi gatal-gatal jika terkena sentuhannya.

Setelah saya puas dengan mainan ulat jati, perjalanan saya lanjutkan. Saya mengendarai motor dengan kecepatan rendah, saya selalu menengok kanan kiri jalan.  Pada waktu saya melewati persawahan irigasi di mana juga terdapat banyak pohon jati, namun pemandangan berbeda dengan pemandangan pohon-pohon jati yang saya lalui tadi, di sini daun jati hanya sebagian kecil saja yang dimakan oleh ulat jati, hanya bagian pucuk yang masih muda, daun yang tua tidak dimakan. Saya berpikir kenapa ulat tidak memakan semua seperti pada daun-daun jati yang saya lewati sebelumnya? Beberapa saat saya berpikir, kemudian saya menganalisa bahwa pohon-pohon jati yang saya lewati sebelumnya pada waktu musim kemarau meranggas, kemudian setelah 4 – 6 minggu musim hujan daun jati pada tumbuh, jadi semua daun masih muda dan ini adalah santapan enak dan empuk bagi ulat jati. Sedangkan pohon-pohon jati yang ada di pinggir sawah irigasi pada musim kemarau tidak kekurangan air karena mendapatkan air dari rembesan sawah, sehingga pohon tidak meranggas, jadi daun tua tidak rontok. Ulat jati suka pada daun jati yang masih muda, yang tua mungkin rasanya tidak enak dan terlalu keras untuk dikunyah.

Daun jati di dekat sawah irigasi yang tidak dimakan ulat karena daunnya tua.

Daun jati yang habis membuat ulat kehilangan makanannya, ulat akhirnya menjadi kepompong. Di saat akan menjadi kepompong ulat turun ke tanah dengan tali yang dikeluarkan dari air liurnya tadi, jadi kepompong berada di tanah bercampur dengan daun jati kering. Di sekitar daerah hutan jati seperti di Juwangi  Boyolali, Blora, dan Alas Roban Jawa Tengah kepompong ulat jati dijadikan makanan. Masyarakat sekitar ramai-ramai memungut kepompong yang berserakan di tanah sekitar hutan jati. Isi kepompong yang sering disebut “enthung” dapat dimasak menjadi hidangan kuliner yang menurut masyarakat sekitar lezat.

Saya bertanya pada orang yang pernah saya temui apakah ulat jati enak dimakan? Beberapa orang menjawab bisa dimakan, tapi mereka sendiri belum pernah makan ulat jati karena alasan jijik, geli, dan takut akan gatal. Sedangkan orang lain yang pernah tinggal di daerah dekat hutan jati mengatakan kalau ulat jati tidak dimakan, yang dimakan adalah ulat yang sudah menjadi kepompong, yang dimasak enthungnya. Suharmamik atau yang sering disapa Mamik warga Blora Jawa Tengah menuturkan kalau masyarakat di desanya sudah biasa setiap musim ulat jati memasak hidangan lauk dari ulat jati. “Enthung dimasak seperti digoreng, ditumis, dibuat bakwan, dipeyek, dan disayur asam” kata ibu dari seorang anak yang bekerja sebagai PNS di Blora ini. Saat saya tanya tentang ulat jati bisa dimakan apa tidak via telepon selularnya, Mamik menjawab “Tergantung orangnya sih, kalau yang tidak jijik ya suka, kalau saya sendiri waktu masih kecil suka, tapi sekarang hanya suka enthungnya saja”.

Fenomena mencari kepompong untuk dimakan ini seperti halnya mencari laron pada waktu awal musim hujan yang selalu ada. Layaknya seperti laron, ulat jati menjadi hidangan lezat bagi pecinta kuliner yang unik ini. Anda ingin mencobanya? Silahkan datang saja ke daerah hutan jati yang sudah disebutkan tadi pada awal musim hujan. Harga enthung per kilogram 20 ribu sampai dengan 30 ribu rupiah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: