“Kami” atau “Kita”?


Ilustrasi wawancara dengan grup band, foto: foto.inilah.com

Ilustrasi wawancara dengan grup band, foto: foto.inilah.com

Manusia sebagai makhluk sosial selalu berkomunikasi dengan manusia lain. Komunikasi yang sering dilakukan manusia adalah bahasa lisan maupun tertulis. Di dalam berbahasa tentunya harus saling mengerti makna yang dibicarakan. Untuk mengetahui makna dari sebuah pembicaraan haruslah mengerti apa yang diucapkan maupun cara mengucapkan (lafal) sebuah kata atau kalimat, jika tidak kedua belah pihak tidak akan dapat berkomunikasi dengan baik.

Di dalam percakapan kita mengenal istilah orang pertama, orang ke dua, dan orang ke tiga. Orang pertama adalah orang yang berbicara. Orang ke dua adalah orang yang diajak bicara. Orang ke tiga adalah orang yang dibicarakan. Baik orang pertama, orang ke dua maupun orang ke tiga dapat berupa tunggal atau jamak (lebih dari satu). Orang pertama tunggal adalah “saya” atau “aku” dan orang pertama jamak adalah “kami”. Orang ke dua tunggal adalah “kamu” atau “Anda” dan orang ke dua jamak adalah “kamu” atau “kalian”. Orang ke tiga tunggal adalah “dia” dan orang ke tiga jamak adalah “mereka”.

Anda pernah memperhatikan percakapan pada sebuah wawancara misalkan di berita, sinetron maupun dalam percakapan sehari-hari? Apakah yang mereka katakan sudah benar? Mungkin benar menurut mereka, akan tetapi belum tentu benar menurut aturan. Seperti yang penulis amati di berbagai percakapan yang sudah penulis sebutkan tadi, berikut beberapa contoh percakapannya:

  • Seorang reporter  melakukan wawancara kepada sebuah grup Band X (dengan anggota lebih dari satu). Reporter bertanya  “Kapan Band X mengeluarkan album baru?” Grup Band X menjawab “Kita akan mengeluarkan album baru pada awal bulan ini”.
  • Seorang wartawan bertanya kepada beberapa pejabat kepolisian dalam sebuah wawancara pada sebuah konferensi pers. Wartawan bertanya “Ada berapa personil polisi yang mengamankan jalannya persidangan ini Pak?” Seorang diantara pejabat polisi menjawab “Kita menugaskan seribu personil”.
  • Percakapan pada sebuah sinetron misal terdapat sepasang (dua orang) anak muda berkata “Kita akan makan malam di restoran mewah malam ini, kalian mana biasa?”

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online kami /ka·mi/ pron 1 yang berbicara bersama dengan orang lain (tidak termasuk yang diajak berbicara); yang menulis atas nama kelompok, tidak termasuk pembaca; 2 yang berbicara (digunakan oleh orang besar, misal raja); yang menulis (digunakan oleh penulis). Sedangkan kita /ki·ta/ pron 1 pronomina persona pertama jamak, yang berbicara bersama dengan orang lain termasuk yang diajak bicara.

Berdasarkan KBBI tadi seharusnya grup Band X, pejabat polisi, dan sepasang anak muda menggunakan kata “kami” karena reporter, wartawan dan “kalian” (orang ke dua jamak) tidak terlibat. Reporter tidak terlibat dalam membuat album baru grup Band X, wartawan tidak terlibat dalam anggota pengamanan jalannya persidangan, dan orang ke dua jamak (kalian) tidak terlibat dalam makan malam di restoran mewah. Kata “kami” seharusnya digunakan oleh orang yang mengajak bicara (jamak) atau orang yang diajak bicara (jamak) yang diucapkan kepada orang yang mengajak bicara. Kata “kita” seharusnya digunakan jika kedua belah pihak yang mengajak bicara dan yang diajak bicara terlibat.

Kenapa kata “kami” sering berubah menjadi kata “kita” akhir-akhir ini? Berdasarkan pengamatan saya pada percakapan beberapa film tempo dulu kata “kami” masih digunakan untuk jamak orang yang mengajak bicara saja atau orang yang diajak bicara saja jika satu pihak saja yang terlibat. Menurut pengamatan saya, akhir-akhir ini sering digunakan kata “kita” karena pengaruh bahasa asing, yaitu bahasa Inggris. Di dalam bahasa Inggris kata “we” dapat berarti  “kami” atau “kita”, orang yang mengajak bicara dan yang diajak bicara tidak dibedakan dengan jelas. Mungkin orang sekarang ini terutama yang ada di kota-kota besar seperti Jakarta lebih praktis dan tidak terlu memikir  dalam perbedaannya, pada hal di dalam bahasa Indonesia jelas sekali perbedaannya. Bahasa Indonesia memang bahasa yang fleksibel, bahasa yang banyak menyerap kata dari bahasa asing termasuk dari bahasa Inggris.

Lain lagi dengan penggunaan kata “kami” di daerah Sumatra Bagian Selatan, terutama di Bangka Belitung. Masyarakat di sana sering menggunakan kata “kami” meskipun untuk menyebut diri orang pertama yang seharusnya tunggal. Dari pengamatan penulis yang pernah tinggal di Bangka sekitar tujuh tahun, kata “kami” lebih sering digunakan dari pada kata “saya’ atau “aku”. Berikut contoh dalam sebuah percakapan dua orang, orang pertama (yang mengajak bicara) bertanya “Kapan ayahmu pulang?” dan dijawab orang kedua (yang diajak bicara) menjawab “Ayah kami pulang besok pagi”. Penulis sering mengajak bicara kepada masyarakat di sana di beberapa daerah dan ternyata kata “kami” memang sering digunakan dari pada kata “saya” atau “aku”.

Menurut Eka Kurniaty seorang  guru sejarah dari MAN Model Pangkalpinang mengatakan bahwa kata “kami” digunakan karena kebiasaan meniru bahasa pada ayat di Al Qur’an, kata “kami” sudah menjadi bahasa tradisi, sebagai bahasa kebesaran, pada hal untuk menyebut tunggal, terutama masyarakat di kampung. Menurutnya, kata “kami” sering diucapkan dengan kata “kamik” atau “kamen”. Kata “kamen” dipakai oleh masyarakat di Payabenua dan kata “kamik” dipakai oleh masyarakat di Belinyu Kabupaten Bangka. Ibu Eka Kur begitu panggilan akrabnya juga menambahkan kalau di kota Pangkalpinang berbeda (sesuai dengan bahasa Indonesia) karena banyak pendatang, kalau di kampung masih kuat, masih asli.

Dari paparan tulisan di atas, penulis dapat menyarankan kepada institusi pendidikan dalam hal ini guru sebagai pengajar dan pendidik sebaiknya meluruskan bahasa yang salah, jangan sampai kesalahan tersebut berlanjut. Jika Anda sebagai pembaca sudah mengetahui kata yang salah dan sudah mengetahui yang benar, penulis sarankan kepada Anda untuk menggunakan kata yang benar dan meluruskan kepada teman-teman yang masih salah. Jika kesalahan berlanjut, mungkin anak cucu kita nanti tidak tahu lagi mana yang benar.

Iklan

6 responses

  1. Ow,, iya. Baru tau nih..
    Like this

    1. Makasih atas kunjungannya. Banyak belajar pasti banyak tahu.

  2. Kami dlm bhsa bangka juga biasa nya diucapkan biar lebh sopan dlm tutur kata juga pak 🙂 blog nya bgus Pak ,

    1. Makasih Aziz atas tambahan arti dari kata “KAMI” dari bahasa Bangka.

  3. Saya sangat tertarik dengan artkel ini, karena anak muda zaman sekarang seoalah telah melupakan EYD Bahasa Indonesia yang baik dan benar, banyak yang tidak bisa membedakan penggunaan kata “kita” dan “kami” seperti seharusnya…

    1. Makasih Enggar. Iya itu yang sering saya perhatikan dialog-dialog di sinetron, di TV, dll. Jadi kalau sudah tahu jangan sampai disalahkan. Kasih tahu teman-teman yang masih salah supaya menjadi benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: