Banyak yang Kontra Pada Kurikulum 2013, Kenapa?


Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 yang mulai berlaku bulan Juli 2013 menuai pro dan kontra dari masyarakat. Diantara tanggapan dari masyarakat, ternyata banyak yang kontra. Pihak yang kontra kebanyakan dari kalangan pendidik atau guru itu sendiri. Itu hal yang wajar karena pada kurikulum 2013 ini beberapa jam pelajaran dikurangi.

Sebelum diberlakukan kurikulum 2013, kurikulum yang dipakai adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sumber yang saya dapat dari ROL (04/04/2013) dikutip dari Juru bicara Koalisi Revolusi Pendidikan Retno Listyarti bahwa mata pelajaran yang jamnya dikurangi adalah pelajaran Bahasa Inggris pada tingkat SMA/MA dari 180 menit pada kurikulum sebelumnya menjadi 90 menit pada kurikulum 2013. Mata pelajaran yang dihapus antara lain Bahasa Inggris pada tingkat SD. Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) juga dihapus. Mata pelajaran Bahasa Jerman, Perancis, Jepang, dan Mandarin juga dihapus. Mata pelajaran itu hanya boleh diajarkan pada sekolah yang memiliki jurusan bahasa sebagai peminatan. Mata pelajaran tata boga dan tata busana juga dihapus dan diganti dengan pelajaran prakarya. Sementara pelajaran ekonomi diganti dengan pelajaran kewirausahaan. Menurut Retno, kurikulum 2013 juga sangat tidak relevan dengan kemajuan ilmu pendidikan saat ini. Sebab, kurikulum tersebut mematikan daya kritis anak didik.

Pengurangan jam pelajaran ini membuat banyak guru mata pelajaran yang bersangkutan kekurangan jam untuk memenuhi jam wajib 24 jam bagi yang sudah bersertifikasi. Jika kekurangan jam, maka guru harus mencari jam di sekolah lain baik sekolah negeri maupun swasta pada saju jenjang pendidikan. Jika terjadi demikian maka justru guru yang seharusnya mengajar hanya di satu satuan pendidikan (sekolah) maka menjadi di beberapa sekolah. Ini menyebabkan guru malah tidak profesional. Jarak antara sekolah satu dengan yang lainnya kadang berjauhan. Itu pun jika guru mendapatkan jam di sekolah lain. Jika tidak, maka guru akan kekurangan jam karena sekolah lain juga mengalami masalah yang sama. Jika kekurangan jam maka tunjangan sertifikasi tidak akan cair.

Berbeda dengan guru yang mata pelajarannya dikurangi, guru yang mata pelajarannya dihapus nasibnya tidak jelas. Mereka sangat resah karena selama ini mata pencaharian sebagai pendidik pupus sudah. Jika dari sekolah negeri dan sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) maka tidak begitu bermasalah, hanya tidak mendapatkan tunjangan sertifikasi. Jika terjadi pada sekolah swasta itu yang menjadi masalah besar. Jadi kurikulum 2013 membuat banyak pengangguran terutama dari kalangan pendidik. Guru yang semula tenang mengajar menjadi menganggur. Nasib tragis juga dialami oleh mahasiswa yang pada kurikulum 2013 jurusan pada mata pelajarannya dihapus. Ini berarti menambah lagi pengangguran dari sektor pendidikan.

Beberapa elemen masyarakan menolak kurikulum 2013. Menurut sumber dan edisi yang sama, sejumlah aktivis yang tergabung dalam Koalisi Revolusi Pendidikan (KRP) menyerahkan surat raksasa yang ditujukan untuk Menteri Keuangan Agus Maryowardojo. Surat raksasa itu berisi permohonan agar menteri menolak anggaran kurikulum 2013. Kurikulum 2013 syarat dengan anggaran yang sangat besar. Juru bicara KRP Siti Juliantari mengatakan bahwa anggaran yang diajukan pemerintah sebesar Rp 674 miliar, kemudian naik menjadi Rp 1,4 triliun, dan naik lagi menjadi Rp 2,49 triliun.

Menurut Okezone (15/02/2013) penolakan terhadap penerapan kurikulum baru tersebut juga dari Koalisi Tolak Kurikulum 2013 yang terdiri atas sejumlah guru, praktisi pendidikan, dan Indonesia Corruption Watch (ICW). Menurut koalisi ini mengungkapkan delapan kejanggalan dalam kurikulum 2013. Pertama, pemerintah menggunakan logika terbalik dalam perubahan kurikulum pendidikan. Kedua, pemerintah tidak konsisten dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010. Sementara RPJMN menghendaki penguatan dan penataan ulang kurikulum, bukan perubahan kurikulum. Ketiga, anggaran perubahan kurikulum yang tidak terencana dengan baik. Keempat, tidak adanya evaluasi komprehensif terhadap kurikulum 2006, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kelima, kurikulum 2013 mengukung kreativitas guru dan konteks lokal. Keenam, target training master teacher terlalu ambisius. Waktu yang tersedia untuk menyiapkan para guru terhadap kurikulum 2013 terlalu singkat dan dirasa tidak mungkin. Ketujuh, bahan perubahan kurikulum yang disampaikan oleh pemerintah berbeda-beda. Belum ada pedoman kurikulum 2013 final. Bahkan bahan yang digunakan untuk uji publik masih berganti-ganti. Terakhir kedelapan, terkait buku pegangan kurikulum 2013 bagi guru dan murid dan materi kurikulum 2013 yang belum selesai disusun.

Perubahan terhadap apapun haruslah diputuskan secara bijak. Jangan sampai ganti pejabat ganti pula kebijakannya. Jika kebijakan yang masih ada masih bagus untuk dilaksanakan, maka tidak perlu ada kebijakan baru. Perubahan kebijakan tidak menjamin menjadi perubahan yang lebih baik, bisa jadi malah sebaliknya. Begitu juga dengan masalah kurikulum, jangan karena ganti pejabat maka ganti pula kurikulumnya. Seperti yang dikatakan oleh SBY yang dilansir VIVAnews (02/04/2013). “Jangan sampai ganti menteri, ganti kurikulum. Atau perubahan kurikulum ini memberikan beban ke orangtua terutama yang kurang mampu karena harus siapkan buku teks baru. Pandangan seperti itu harus didengar,” ungkapnya. “Diperlukan pembahasan di tingkat kabinet agar manakala kurikulum ini diberlakukan, tidak ada lagi persoalan di tingkat implementasinya,” ujar Presiden di kantornya, Jakarta, Selasa 2 April 2013. “Manakala segala sesuatu sudah kita pastikan, sudah tepat dan benar, sudah siap, mari kita jalankan,” kata SBY.

Penolakan kurikulum juga dilakukan oleh Slamet Maryanto, Guru SMA 109 Jakarta seperti yang dilansir DetikNews (12/04/2013). Slamet seperti Oemar Bakri pada sebuah lagu Iwan Fals. Dia mewakili Federasi Serikat Guru Indonesia yang menolak kurikulum 2013. Pria yang sudah mengajar selama 20 tahun ini mengayuh sepeda dari Monas menuju Istana Negara bersama empat guru lain yang membawa papan kayu bertuliskan sejumlah pesan kritis. Termasuk juga yang ikut rombongan adalah Sekjen FSGI, Retno Listyarti. “Kami tolak kurikulum ini. Ini tidak mendesak, menteri saja yang mendesak ini penting. Justru yang penting adalah kualitas guru. Jadi, benahi guru, baru urus kurikulum,” kata Retno.

——————————
Baca juga:
Kurikulum 2013, Nasib Ribuan Guru Bersertifikasi Di Ujung Tanduk?

Jika Anda ingin mendapatkan informasi dari blog ini melalui facebook Anda, silahkan klik tautan halaman (page) facebook berikut ini http://www.facebook.com/Cauchymurtopowordpresscom kemudian klik suka (like)
atau ikuti (follow) melalui twitter https://twitter.com/CauchyMurtopo

Terima kasih Anda sudah mengunjungi blog ini.

9 responses

  1. Informatif sekali, makasih artikelnya. Mereka cuma cari proyek ya. Seharusnya memang benar benahi dulu kualitas guru

    1. Saya nulis dari berbagai sumber yang pernah saya baca. Saya sering mengumpulkan informasi-informasi penting, termasuk mengenai pendidikan.

  2. kurikulum 2013 seperti anak lahir tp prematur …

  3. semoga perjuangan teman-teman kita di jakarta dikabulkan oleh Allah SWT….

    1. Perjuangan dalam hal apa?

  4. saya pns gr bhs inggris smk. dg krkulum bru mbuat krja krg nyaman krn sekolah py 4 gr pns sdh srtfksi smua. saya cm pgn pmrntah mbt sy krja dg nyman krn dg tman2 akhrnya rebutan jam dan akhrnya yg jd krbn kami sbg gru yg hy ingn krj dg bk tnpa rasa benci. gru jg mnsia bth uang jg tggjwb pmrnth atas kbjakan2nya.

  5. Saya murid, dan saya merasakan kurikulum ini! Kurikulum ini ibarat racun, membunuh saya secara perlahan! Membuat PR saya semakin banyak! Guru menjadi cepat dalam memberikan pelajaran karena jamnya hanya sedikit, jadi saya kurang menguasai pelajaran dan saat ada ulangan sering jeblok

    Kurikulum 2013 ini dibuat oleh professor yang pikirannya pikiran profesor dan otaknya adalah otak profesor. Tak tahu bahwa saya dan pelajar lainnya belum profesor, tidak berotak seperti profesor, pelajaran yang kami pelajari banyak, kami juga punya hobi diluar pelajaran yg diajarkan. Bagaimana kami akan mengembangkan hobi kami tersebut?

    Kurikulum ini sangat menyita waktu saya! Membuat saya tidak betah sekolah, bukan karena saya tidak suka belajar dan membaca, tetapi saya bukan robot. Bahkan robot saja bisa rusak jika dipaksa untuk kerja terus menerus!!!

    1. Terima kasih Ima sudah berbagi di sini. Semoga para pengambil kebijakan mendengar dan menindaklanjuti apa yang kalian keluhkan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: