PERINGATAN: MEROKOK MEMBUNUHMU


Kesaksian perokok, dok. Detik Health

Kesaksian perokok, dok. Detik Health

Meskipun mengetahui dampak buruk yang terjadi jika merokok, banyak perokok yang acuh terhadap peringatan bahaya asap rokok ini. Bahkan peringatan pada setiap bungkus rokok dan reklame pada iklan rokok Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janinhidrogen sianida sudah tidak berlaku lagi. Kenyataannya, dengan peringatan ini jumlah perokok tidak menurun, justru semakin meningkat.

Setelah peringatan tersebut tidak mempan, ternyata ada lagi PERINGATAN: MEROKOK MEMBUNUHMU terdapat pada bungkus rokok maupun reklame iklan rokok. Apakah ini akan efektif mengrurangi jumlah perokok?

Sebenarnya masalah bukan pada kalimat peringatan, namun pada kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah yang masih menjadikan industri rokok sebagai pendapatan negara yang besar. Alasan industri rokok yang menyerap tenaga kerja yang banyak juga menjadi persoalan yang dilema dengan masalah kesehatan yang ditimbulkan. Betapa tidak, meskipun cukai rokok dinaikkan sampai Rp 20,- per batang mulai 1 Januari 2011, namun ini juga tidak membuat perokok menghentikan cara ‘membakar uang’.

Terdapat ribuan bahan kimia berbahaya pada rokok yang mengancam keselamatan perokok (perokok aktif) dan juga orang-orang di sekitar perokok yang terkena paparan asap rokok (perokok pasif). Menurut Wikipedia, berikut adalah beberapa bahan kimia yang terkandung di dalam rokok:
Nikotin, kandungan yang menyebabkan perokok merasa rileks.
Tar, yang terdiri dari lebih dari 4000 bahan kimia yang mana 60 bahan kimia di antaranya bersifat karsinogenik.
Sianida, senyawa kimia yang mengandung kelompok cyano.
Benzene, juga dikenal sebagai bensol, senyawa kimia organik yang mudah terbakar dan tidak berwarna.
Cadmium, sebuah logam yang sangat beracun dan radioaktif.
Metanol (alkohol kayu), alkohol yang paling sederhana yang juga dikenal sebagai metil alkohol.
Asetilena, merupakan senyawa kimia tak jenuh yang juga merupakan hidrokarbon alkuna yang paling sederhana.
Amonia, dapat ditemukan di mana-mana, tetapi sangat beracun dalam kombinasi dengan unsur-unsur tertentu.
Formaldehida, cairan yang sangat beracun yang digunakan untuk mengawetkan mayat.
Hidrogen sianida, racun yang digunakan sebagai fumigan untuk membunuh semut. Zat ini juga digunakan sebagai zat pembuat plastik dan pestisida.
Arsenik, bahan yang terdapat dalam racun tikus.
Karbon monoksida, bahan kimia beracun yang ditemukan dalam asap buangan mobil dan motor.

Kebiasaan buruk perokok
Saya memaparkan kebiasaan buruk para perokok (hard smoker) berdasarkan pengamatan saya di berbagai tempat. Jika Anda kebetulan perokok dan tidak seperti kebiasaan berikut ini, maka jangan tersinggung. Kebiasaan buruk perokok seperti apa yang saya lihat berikut ini tidak semuanya dimiliki oleh perokok, jadi tidak bisa digeneralisasikan.

1. Perokok sembarangan merokok
Para pecandu rokok memang sembarangan merokok. Mereka banyak yang tak peduli tentang larangan tempat merokok. Sebut saja di RSUP Dr. Moewardi Surakarta, di sebelah gedung paviliun Cendana dan di belakang dekat masjid merupakan tempat favorit para perokok yang mau menjenguk pasien. Meskipun di situ dipasang papan larangan merokok, namun mereka tetap melanggar aturan itu. Bahkan pada papan larangan tertera denda 50 juta rupiah juga tidak digubris. Saran saya pada pengelola RSUP tersebut tegas, dalam hal ini pada bagian keamanan tegas menindak para perokok tersebut. Jika perlu ada kamera CCTV pada kedua tempat tersebut.

Pemandangan yang sama juga pernah saya jumpai di terminal 1B Bandara Internasional Soekarno Hatta. Pada waktu itu terdapat di gate 5 yang penuh dengan asap rokok, pada hal di situ tertera larangan merokok karena ruangan ber-AC. Namun, para perokok tidak menghiraukan larangan ini. Tempat yang khusus untuk merokok pun tidak digunakan secara maksimal karena terlalu sempit, tidak sebanding dengan perokok. Akhirnya saya menelpon bagian keamanan bandara dan perokok tersebut disuruh berhenti merokok di tempat larangan tersebut. Jika masih membandel, maka akan dibawa ke pos keamanan. Setelah saya menelpon akhirnya tidak lagi ada asap rokok.

Selain kedua tempat tersebut ternyata juga saya jumpai perokok yang seenaknya merokok di tempat-tempat umum. Antara lain di kendaraan umum, di tempat pertemuan, juga di setiap ada orang berkumpul pasti ada orang merokok. Pada hal diantara orang-orang pada tempat umum tersebut belum tentu perokok, bahkan bisa jadi alergi pada asap rokok.

2. Tidak peduli pada keadaan sekitar
Perokok berat kebanyakan tidak mempedulikan keadaan sekitarnya, tidak mempedulikan sedang apa sambil merokok. Pernah ada kejadian di sebuah tempat foto kopi, saya ingin memfoto kopi dokumen yang sangat penting. Petugas foto kopi sambil merokok, saya bilang ke petugas wanita untuk menegurnya akan tetapi tidak berani. Sampai akhirnya saya marahi petugas foto kopi tersebut karena jika tidak bisa jadi dokumen saya terbakar, karena meletakkan batang rokok yang berasap di dekat dokumen saya, hampir saja jika saya tidak marah dokumen dan bisa jadi seisi tempat foto kopi terbakar. Itu pun orang yang hampir membakar dokumen saya juga tidak meminta maaf.

Perokok juga tidak menghiraukan tentang bahaya yang akan timbul jika merokok di dekat bayi atau balita, bahkan pernah saya lihat sambil merokok sambil menggendong anak balitanya. Menurut Detik Health (24/03/2014) “Asap rokok itu efeknya sampai 10 meter. Jadi walaupun di luar rumah tetap ada risiko asap masuk ke dalam” kata dr Apin. Risiko tersebut merupakan efek dari residu racun rokok, yang menempel di baju maupun benda, gorden, seprai, dan sebagainya. Seseorang yang terpapar racun rokok dengan cara demikian disebut sebagai third hand smoker. Bahayanya sama seperti second hand smoker, yang oleh orang awam sering disebut perokok pasif.

Asap rokok orang lain (AROL) telah terbukti berbahaya bagi orang lain. Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada tahun 2010 menunjukkan terdapat sekitar 92 juta orang perokok pasif, terdiri dari 62 juta orang perempuan dan 30 juta orang laki-laki. Sementara itu, 43 juta anak-anak terpapar rokok setiap harinya, dan yang memprihatinkan adalah 11,4 juta dari anak-anak ini masih berusia balita.

Perokok kebanyakan juga tidak peduli pada ibu hamil. Menurut sumber dari Detik Health (dikutip 23/04/2014) telah dipublikasikan dalam jurnal Tobacco Control, ada hubungan antara paparan asap rokok dengan komplikasi kehamilan pada wanita yang tidak pernah merokok. Semakin lama seorang wanita hamil terpapar asap rokok, maka semakin besar risiko komplikasi tersebut.

Sebelumnya tim peneliti yang diketuai oleh Jianghong Liu dari University of Pennsylvania School of Nursing mengamati kondisi 600 pasangan ibu dan anak di Jintan, Cina. 37 persen ibu dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal NeuroToxicology ini dilaporkan menjadi perokok pasif selama hamil dan 25 persen di antaranya memiliki anak yang mengalami gangguan perhatian dan cenderung agresif.

3. Membuang puntung rokok sembarangan tempat
Jika tidak ada tempat puntung rokok (asbak), maka perokok cenderung membuang puntung rokok yang ada abu rokoknya sembarangan. Beberapa puntung rokok saya jumpai di taman-taman. Juga saya jumpai di berbagai tempat umum lain seperti di lantai terminal dan juga pasar tradisional. Di jalan-jalan yang sering ramai digunakan untuk berkumpul para perokok juga banyak betebaran puntung rokok. Ini sangat mengganggu pemandangan dan juga kesehatan karena meskipun sudah tidak mengeluarkan asap lagi, tahi puntung rokok ini masih bisa membahayakan kesehatan.

4. Bau badan tak sedap
Pakaian perokok pasti berbau tidak sedap, juga badannya. Tak hanya itu, jika perokok masuk kamar mandi dan keluar maka bau tak sedap masih ditinggal di kamar mandi. Ini sangat mengganggu pengguna kamar mandi berikutnya, apa lagi jika kamar mandi atau toilet tersebut untuk umum.

Dengan membaca tulisan ini, bagi para perokok apakah Anda masih ingin melanjutkan untuk merokok lagi? Apakah Anda para perokok tidak sadar dengan bayi, balita, dan orang di sekitar yang terpapar oleh asap rokok dan akhirnya ‘menyiksa’ mereka dan meninggal perlahan-lahan?